
“Maafin Arkan ya Bunda” ucap anak itu penuh sesal, dengan gemas Mira mengecup pipi gembul Arkan.
“Arkan sudah tidak marah dengan Bunda?” anak itu menggeleng.
“Mau terima Adik kan?” Arkan mengangguk, membuat Mira tidak bisa membendung keinginannya untuk memeluk bocah itu.
“Terimakasih ya?”
“Arkan hanya gak ingin kehilangan Bunda” ucapnya sedih.
“Bunda akan selalu disini sayang, Bunda akan tetap jadi bundanya Arkan dan Abang” tak terasa anak itu mengurai pelukan mereka.
“Janji Bunda?”
“Tentu!” Arkan kembali memeluk Mira erat.
Dari kejauhan Dinda hanya bisa menatap miris pemandangan di hadapannya.
Habis, tak bersisa.
Semuanya telah hilang, tidak Ardan, tidak juga Arkan, Dinda tidak bisa memiliki keduanya.
“Bagaimana rasanya Din? Menyakitkan bukan? Saat darahmu mengalir disana tapi tak dianggap bahkan tak diharapkan sedikitpun” Dinda hanya melirik Ardan sekilas.
Wanita itu memilih tersenyum, mendongakkan kepalanya agar air matanya tak berjatuhan.
“Aku memang tidak bisa memilikimu lagi, tapi untuk masalah Arkan aku belum menyerah Mas, ingat darah itu lebih kental daripada air”
Ardan tersenyum meremehkan, dia tidak akan diam saja saat Dinda terlihat nyaman berada dalam hunian keluarga kecilnya.
Cukup Rey pengganggu rumah tangganya, Ardan tidak mau menambah masalah jika Dinda tetap berada di sini.
Air mata Mira kembali luruh, dari ujung matanya Mira bisa melihat siluet pria dan wanita dewasa di ujung sana.
Apa Ardan sedang balas dendam atas apa yang sama sekali tidak pernah ia lakukan?
“Bunda menangis?” tanya Arkan polos, cepat-cepat Mira menghapus air matanya, lalu menatap mata bulat kecil itu.
“Tidak Nak”
“Syukurlah Arkan senang jika Bunda tidak lagi menangis, jangan sedih ya Bunda, nanti adik Arkan dan Abang ikut sedih”
Mira hanya bisa menatap anak itu penuh haru.
Hati Mira menghangat, saat tangan mungil itu mengusap pipinya yang basah.
***
Malam ini, Mira berada di kamar putranya.
“Mau cerita apa hari ini?”
Terlihat Arkan dan Aiden sedang berpikir, Mira tertawa melihat wajah menggemaskan itu.
“Aiden ingin cerita tentang Nabi Ibrahim, Bunda” celetuk Aiden yang mengundang wajah antusias Arkan.
“Arkan juga ingin dengar cerita itu Bunda”
Ketiganya menyamankan posisi saat Mira mulai membacakan cerita yang di inginkan putra-putranya.
Saat sampai di pertengahan cerita Mira bisa mendengar dengkuran halus dari keduanya.
Dengan penuh senyum Mira menyelimuti keduanya, mengecup kening keduanya bergantian lalu mematikan lampu kamar itu.
Mira merenggangkan tubuhnya saat sudah keluar dari kamar Aiden dan Arkan, tenggorokannya yang kering membuat wanita itu memilih berjalan ke dapur.
Langkahnya mendadak terhenti saat melihat punggung tegap Ardan, saat akan berbalik Ardan terlanjur melihatnya.
“Tunggu Mira” Mira terdiam saat Ardan melangkah ke arahnya.
Bau susu tercium oleh hidungnya menimbulkan gejolak tak nyaman di perut Mira, sontak Mira mundur sembari menutup hidungnya.
“Ada apa?” Mira hanya menggeleng saat dirinya masih belum bisa berkata-kata.
Tak mendapat jawaban Ardan menambah langkah dengan tetap membawa susu di tangannya “Jangan!”
Ardan membeku di tempatnya saat menyadari sesuatu.
Bukannya membaik Mira semakin merasa tak nyaman hingga berlari ke sink “Hoekkkk”
Tak ada yang keluar, tapi hasrat untuk mengeluarkan isi perutnya masih ada.
Semuanya terasa lebih baik saat ada sepasang tangan yang memijat tengkuk Mira, Ardan juga mengikat rambut Mira dengan tangannya saat wanita itu mencuci mulutnya.
“Better?” Mira mengangguk.
“Terimakasih”
“Kamu mual karena susu itu?”
“Iya, tolong hilangkan susu itu dari sini, atau aku akan mual lagi” Ardan mengangguk lalu memanggil ART untuk memusnahkan segelas susu yang sudah Ardan buat beberapa lalu.
“Ayo ke kamar, kamu harus beristirahat” Mira menurut saja saat dia di gandeng Ardan menuju kamar seakan melupakan permusuhan mereka.
Dengan perlahan Ardan membantu Mira untuk merebah, dari jarak sedekat ini Mira bisa mencium bau tubuh Ardan yang terasa nyaman baginya.
“Tidurlah” ucap Ardan menyadarkan Mira terhadap kekaguman mendadak wanita itu.
Mira menatap istrinya yang tiba-tiba diam.
“Kamu butuh sesuatu?” Mira menggeleng ragu.
Ardan menukikkan sebelah alisnya, “Kamu bisa mengatakannya padaku jika menginginkan sesuatu”
“Aku ingin..” ucap Mira ragu-ragu, membuatArdan menunggu kelanjutan kata istrinya.
“Ingin apa? Katakanlah” jawab Ardan tak sabar.
Mira menunduk mencoba menekan rasa malunya sekuat-kuatnya “Aku ingin memeluk kamu” cicit Mira, dari ujung matanya Mira bisa melihat Ardan sedikit terkejut.
Hening.
Mira tau ini aneh tapi dia juga tidak tak tau kenapa ia teramat ingin melakukan itu.
Saat sudah ingin menangis karena merasa tertolak, Ardan merapatkan tubuhnya pada sang istri.
“Tidak perlu merasa malu atau tak nyaman, semua milikku adalah milikmu juga Mira”
Mira memejamkan matanya, merasakan nyaman karena pelukan Ardan, juga perkataan pria itu.
Rasa bahagia yang perlahan menlingkupi Mira tiba-tiba sirna saat ia ingat penolakan Ardan, berikut dengan tuduhannya.
Perlahan Mira melepas pelukan itu.
“Aku hampir lupa kalau kamu tidak menerima keberadaan bayi ini, aku ini bodoh sekali kan Dan?” ucap Mira lirih, berikut tetesan air mata yang sudah akan jatuh.
“Siapapun ayah dari anak itu, kamu tetaplah istriku Mira, anggap saja semua yang ku lakukan ini demi kamu”
Bagai di sayat sembilu, Mira tergugu di tempatnya.
“Kamu sungguh tidak percaya jika ini adalah anak kamu? Aku tidak tidur dengan siapapun!” pekik Mira merasa geram saat Ardan masih tak mempercayai perkataannya.
“Kita sudah membahas ini Mir, aku percaya kamu! Aku percaya, tapi aku tidak bisa mempercayai orang asing”
“Bang Rey bukan orang asing bagiku!”
“Jangan sebut nama pria lain!!!” Mira terhenyak, menyadari kesalahannya Ardan menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya.
“Jangan sebut nama pria lain saat kita sedang berdua, terlebih saat di kamar ini” ucap Ardan dengan nada yang lebih lembut.
Sadar Mira yang mulai ketakutan Ardan kembali mendekat, “Aku harap kamu mengerti ini, aku tidak suka ada nama pria lain yang keluar dari bibir ini” ucap Ardan sembari mengusap bibir Mira.
“Aku tidak ingin bertemu denganmu, tolong kamu keluar” usir Mira membuat Ardan mengetatkan rahangnya saat mendapat pengusiran istrinya.
Tak mau memperpanjang masalah Ardan mengikis jarak diantara keduanya, saat jarak sudah tinggal beberapa senti Mira memalingkan wajahnya.
Penolakan lagi.
Dengan marah Ardan beranjak keluar, gerakan yang cepat dan tiba-tiba itu membuat seseorang yang berada tepat di depan pintu tidak sempat bersembunyi.
Ardan menatap tajam wanita di hadapannya.
Tanpa rasa bersalah Dinda menatap Ardan dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Ardan tetap menambah langkah, tidak ingin semakin merusak moodnya.
Hingga suara Dinda menghentikan langkahnya.
“Jadi anak yang di kandung Mbak Mira bukan anak kamu Mas?”
TBC