
Mira terbangun saat sinar matahari dengan malu-malu menyorotnya.
Merasa asing dengan ruangan yang kini ia huni, Mira duduk sembari mengucek matanya, hal terakhir yang ia ingat adalah pertengkarannya dengan Ardan hingga berakhir ia pulang bersama Bang Rey!
Oh tidak! Itu artinya Mira sudah tidak pulang semalaman, Aiden pasti sedang cemas mencarinya.
Mengingat itu Mira buru-buru turun sebelum sebuah suara menginterupsinya.
“Kenapa harus tergesa-gesa sweetypie?” Mira menatap Rey yang datang membawa sebuah nampan berisi penuh dengan makanan.
“Bang! Aku harus pulang, Aiden pasti cemas mencariku”
“Jadi namanya Aiden?” Mira mengangguk.
“Kapan-kapan Mira akan ceritakan semuanya Bang, kali ini biarkan aku pulang dulu ya, anak Mira nanti mencari Bundanya Bang”
“Aiden atau Ayahnya, hmm?” Mira menunduk mendengar Rey menggodanya.
Sebenarnya Mira tidak tau jawaban dari pertanyaan itu.
Mira tidak tau siapa yang ia khawatirkan saat ini, mungkin memang benar Ayah Aiden.
“Hei, kenapa melamun?”
“Tidak apa-apa”
“Silahkan dimakan sarapannya Sweetypie” Mira menatap Rey tak setuju.
“Aku ingin pulang Bang” putus Mira tak menghiraukan Rey.
Rey melirik Mira yang kini setengah memelas kepadanya.
“Setidaknya minumlah susu ini Mira, perutmu pasti kosong setelah bangun tidur” ucap Rey sembari menyodorkan segelas susu yang masih mengepulkan asap.
Dengan enggan Mira meminumnya hingga tandas.
“Kamu terlihat kelaparan sweety, makanlah makanan ini dulu” kali ini Mira menggeleng.
“Aku harus pulang Bang” Rey menghela nafasnya.
“Kamu tidak rindu Abang? Katanya kamu kangen, gak mau menghabiskan waktu bersama?” meski kembali bimbang Mira menggeleng pelan, mengundang dengusan Rey yang merasa kesal.
“Rindu, tapi Bang..”
“Kalau begitu, tinggal disini, sama Abang, ceritakan semuanya tentang Aiden”
“Nanti Aiden mencariku Bang”
“Ada Ayahnya kan?”
“Iya, tapi...”
“Kalau begitu biarkan saja”
“Bang.....”
“Apa?”
“Aku ingin pulang”
“Baiklah-baiklah, mari Abang antar, kamu seperti anak kecil saat seperti ini ya” ucap Rey sembari mengusak pelan rambut Mira.
“Abang! Rambutku berantakan”
“Berisik! Jadi pulang tidak?”
“Jadi!” ucap Mira setengah berlari saat Rey sudah terlebih dahulu mencapai pintu.
Tapi saat mencapai ambang pintu Mira kembali tak sadarkan diri membuat Rey harus kembali menggendongnya.
***
Ardan berjalan tak santai saat istrinya sudah tidak pulang semalaman, “Tolong jaga anak-anak!” ucap Ardan saat melewati asisten rumah tangganya.
Ardan mengemudikan mobilnya secepat yang ia bisa, sebenarnya sejak kemarin ia sudah tau dimana keberadaan istrinya.
Pria itu membanting pintu mobil cukup keras saat sudah sampai lokasi.
“Permisi” sapa Ardan pada seorang pria paruh baya yang sedang menyapu halaman.
“Ya?”
“Saya ingin bertemu dengan Rey, apa dia ada di rumah?” tanya Ardan sopan, sekuat mungkin ia menekan emosinya.
“Tuan Rey ada di dalam”
“Rey! Keluar kamu!”
Merasa namanya di sebut Rey keluar dengan secangkir kopi.
“Wow, ada apakah tuan Ardan kemari?”
“Mana Mira? Aku ingin membawanya pulang!”
“Dia sedang tidur” Ardan menatap Rey saat hal yang tidak ia sangka terdengar di telinganya.
Menyadari perubahan musuhnya Rey tersenyum sinis, dengan santainya pria itu duduk sembari menyilangkan kaki di hadapan Ardan yang masih berdiri dengan segala renungannya.
“Apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua?” Rey hampir saja tersedak kopinya karena tertawa.
“Memangnya apa? Aku ingin tau apa yang ada dalam otak seorang Ardan saat melihat istrinya menginap dengan seorang pria” jawab Rey santai.
Ardan mengetatkan rahanya marah hingga mukanya memerah.
Tanpa permisi Ardan masuk dan menyusuri rumah itu, membuka tiap-tiap kamar yang ada, mencari istrinya.
Hingga di salah satu kamar yang terbesar dari kamar lainnya Ardan dapati istrinya di sana.
Wanita itu tertidur dengan selimut yang menutupi badannya.
Ardan menatap nanar wanita yang masih saja memejamkan matanya, ia tidak pernah menyangka Mira-nya melakukan ini padanya.
Dengan langkah lebar Ardan berjalan keluar membawa semua kekecewaannya.
Bahkan ia melewati Rey begitu saja, hatinya hancur, hingga tak terasa air matanya meluruh tepat saat Ardan sudah berada di mobilnya.
Ardan menelungkupkan wajahnya ke arah kemudi untuk menyembunyikan kesedihannya, sadar telah melakukan hal yang tidak berguna Ardan memilih mengemudikan mobilnya.
Rey melihat itu semua, kekecewaan yang Ardan tampakkan sudah membuatnya merasa sedikit senang sudah membalaskan dendam karena ia sudah merusak Mira.
Rey merebahkan tubuhnya ke sofa, membuat Mira kemblai tertidur dan menciptakan kesalahpahaman Ardan memang sangatlah beresiko pada Mira, bisa saja kemarahan Ardan malah membuat Mira yang menjadi korbannya.
“Tuan ini data yang anda minta” Rey terbangun dari lamunannya saat Rasha datang dengan satu map tebal.
Data-data penting tentang Mira dan Ardan, menunggu Mira menceritakan semuanya hanya akan membuat Rey mati karena penasaran.
“Baik terimakasih” Rasha menangguk dan meninggalkan tuannya sendirian.
Lembar demi lembar Rey buka dan membacanya tanpa terlewat sedikirpun, berkali-kali Rey menghela nafas saat menemukan kemalangan pada Mira saat ia tak ada bersama wanita itu.
Laporan Rasha kali ini sangatlah lengkap, hingga membuat Rey sedikit mengernyit saat data diri Arkan di tampilkan.
Anak sambung Mira yang cukup membuatnya penasaran, karena tidak tertera nama Ardan di sana, hanya ada nama Dinda sebagai orangtua tunggal anak itu.
Apakah pria itu sampai hati tidak mengakui anak hasil pernikahannya sebagai anak kandungnya?
‘Benar-benar tidak masuk akal!’
Rey dibuat menggeleng pelan membayangkan tingkah laku Ardan yang terasa diluar logikanya.
Dinda, wanita jahat itu lagi yang ternyata masih menjadi duri dalam kehidupan dirinya dan Mira.
Merasa lelah dengan berbagai kejutan dalam laporan itu Rey memilih menutup map itu dan berjalan masuk, ke arah kamar dimana Mira berada.
Rey tersenyum saat Mira masih tertidur dengan santainya.
Tangan Rey tergerak membenahi anak rambut Mira yang sedikit menutupi wajah wanita itu.
Rey menghela nafasnya, ada banyak hal tak terduga terjadi dalam hidupnya, satu-satunya hal yang tidak bisa ia terima adalah bahwa ia sudah mencintai adik kandungnya sendiri.
“Andai saja, ayahku tidak menikah diam-diam dengan ibumu Mira, pasti kita sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia, ya kan Mira?” meski mencoba menerima kenyataan, tapi hal itu sangatlah sulit Rey lakukan.
“Atau, andai saja kita bertemu terlebih dahulu sebagai seorang kakak dan adik, pasti rasa cinta ini belum tumbuh di hatiku kan Mira?”
Rey masih memandangi wajah cantik itu dengan seksama.
Diusap nya pipi putih nan lembut juga bibir pink alami yang sangat ingin sekali Rey kecup.
Tapi ia tak bisa.
Lagi-lagi ikatan darah itu seperti membangun tembok besar diantara mereka.
Rey menghela nafasnya, menelan semua rasa kecewa itu.
"Aku mencintaimu Mira"
TBC