My Hubby

My Hubby
Chapter 54



Sudah terhitung tiga hari Ardan dinyatakan hilang, meski pencarian tetap dilakukan.


Kini Rey sedang duduk berdua dengan Aiden, memangku anak itu yang sebelumnya menangis mencari keberadaan Ardan.


Mira yang masih terpuruk lebih banyak mengurung dirinya dalam kamar, saat ini mereka tinggal di rumah Andreas karena Rey akan sering pergi untuk memantau pencarian adik iparnya.


Agar ada yang mengawasi Mira dan Aiden, Rey menitipkan keduanya pada Andreas dan Rini yang tentu sangat senang tinggal bersama menantu dan cucunya.


Tidak ada hari yang berwarna sejak malam itu, meski mereka berusaha kuat dengan segala harapan juga pikiran positif tapi kesedihan itu tetap tak bisa disembunyikan dari semuanya.


Mira duduk di balkon kamar bujang Ardan yang menjadi kamarnya sementara Aiden dan Arkan memiliki kamar tersendiri.


Dengan piama tipis itu Mira tak merasa kedinginan saat tiupan angin menerpanya, menerbangkan sebagian rambutnya, akhir-akhir ini Mira senang berdiri di balkon menikmati hembusan angin yang sedikit banyak mendinginkan hati dan pikirannya.


Tok tok tok!


Mira menoleh, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya, ada Rini dengan satu nampan berisi makanan dan minuman.


“Waktunya makan putri Mama yang cantik” hibur Rini meski dirinya juga hancur karena Ardan sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya.


Mendengar itu Mira seketika menangis, situasi juga hormon kehamilannya membuat Mira lebih sensitif dari biasanya.


Rini bergerak masuk sembari menuntun Mira duduk di sofa yang ada di sana.


Mira menatap sedih ibu mertuanya yang kini mulai berkaca-kaca, tanpa kata mereka bisa merasakan kesedihan satu sama lain.


“Jangan seperti ini Nak, kasihanilah bayi di rahimmu, kasihanilah Aiden, kasihanilah putra Mama, Ardan pasti tidak pernah ingin melihat kamu terus menerus sedih” dua hari sebelumnya Rini selalu diam melihat tingkah Mira yang seperti kehilangan semangat hidup.


Mendengar itu tangisan Mira semakin deras tapi Rini menangkup wajah itu dan menghapus air matanya, meski Rini sendiri sedang menahan tangisnya sekuat tenaga.


“Makan ya? Kamu akhir-akhir ini cuma minum susu, kali ini harus sama makan ya.. kasihan cucu Mama kelaparan” goda Rini yang tak berimbas apapun pada Mira.


“Mira bisa makan sendiri Ma” tolak Mira dengan halus saat Rini yang hendak menyuapinya.


Tak mau memaksa Rini kembali meletakkan sendok diatas piring “Beneran dimakan ya?” mau tak mau Mira mengangguk.


Dengan sangat terpaksa Rini bangkit meninggalkan menantunya yang membutuhkan waktu untuk sendiri.


Saat pintu sudah tertutup Mira menatap satu piring penuh berisi nasi dan lauk pauknya, tangis itu kembali muncul.


“Bagaimana aku bisa makan kalau suamiku sendiri belum diketahui keberadaanya, baikkah dia, sudah makankah dia, bagaimana aku bisa makan dengan nyamannya?” keluh Mira dengan serentetan pertanyaan yang memenuhi pikiran Mira.


‘Hiduplah demi anak-anak’ bisikan itu kembali terdengar saat Mira mulai menyerah.


Tangan Mira tergerak mengambil sendok dengan satu suap makanan, sembari menangis Mira menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


‘Demi anak-anak’ gigihnya di sela tangis itu.


Rini menutup mulutnya dengan kencang dibalik pintu melihat menantunya berusaha makan sembari menangis, hingga pelukan dari Andreas membuat Rini menumpahkan segala kesedihan yang ia lihat pada suaminya.


Andreas juga melihat itu pemandangan yang mampu mengiris hati saat menantunya, tapi Andreas berusaha kuat, demi semua orang yang ia cintai.


Pagi ini Mira bangun lebih awal saat dirinya kembali bermimpi tentang Ardan, bilik khusus yang menjadi ruang kerja Ardan dalam kamar itu menjadi tujuan Mira.


Tidak banyak kenangan mereka berdua karena usia pernikahan yang bahkan belum genap satu tahun tapi takdir kembali memisahkan mereka.


Tapi Mira tau bahwa Ardan adalah sosok yang pekerja keras, terbukti diusianya yang masih tergolong muda ia sudah mampu menjadi pimpinan perusahaan juga menyelesaikan studi S2-nya.


Tangan itu meraba meja Ardan lalu duduk di kursi kebesaran Ardan, Mira merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi pandangannya asik menelusuri jajaran buku yang tertata rapi di rak yang ada disamping kanan meja.


Lalu tatapan itu tertuju pada buku yang bertuliskan Ardan G. P.


Mira langsung bangkit, buku yang berada pada rak atas itu dengan mudah ia jangkau, rasa penasaran menyelimuti hati Mira sontak ia membuka buku itu, namun ada lembaran yang terjatuh seketika.


Dengan pelan Mira mengambil lembaran itu, satu lembar kertas foto, saat dibalik Mira terharu melihat apa yang menjadi objek foto itu.


Foto Mira yang sedang membaca buku di perpustakaan sekolah dulu.


Senyuman Mira merekah, ternyata Ardan telah menjadi pengagum rahasianya sejak mereka masih duduk di bangku SMA.


Rasa ingin tahunya yang besar membuat Mira memilih duduk di sofa dengan nyaman bersama buku itu di pangkuannya.


Lembar pertama, coretan khas suaminya membuat Mira kembali mendung.


Rindu itu kembali muncul membuat Mira memeluk buku itu seakan ia sedang memeluk suaminya.


^^^Bandung, 7 Juli 2007^^^


Hari dimana aku pertama kalinya masuk di fase putih abu, aku menyepi sejenak setelah mengikuti serangkaian MOS, aku tidak takut sendirian, aku tidak peduli jika aku tidak memiliki teman, tapi pada hari ini aku bertemu dengan perempuan yang biasa saja, tapi aku suka..


Saat semua anak berebut ke kantin dan bermain di lapangan, ia sibuk di taman, mengejar kupu-kupu, lalu bercerita banyak pada seekor serangga yang sama sekali tidak mengerti bahasa manusia..


Dia bercerita banyak hal pada kupu-kupu itu, juga padaku karena aku juga mendengarnya, hari ini ibunya sedang sakit katanya, disaat semua anak memiliki orangtua yang lengkap tapi dia tidak, Ayahnya sudah tiada, sama sepertiku..


Karena meski aku memiliki Papa, aku hanya punya Mama untuk bercerita dan menghabiskan waktu bersama, tapi anak perempuan itu, dia tidak memiliki siapa-siapa, hingga ia bercerita pada apa saja yang ada di depannya..


Mira menutup buku itu dengan wajah yang basah karena air mata, Mira ingat momen itu, hari pertama ia masuk SMA, rasa penasaran kembali merasuki Mira hingga ia melanjutkan pada lembar kedua.


^^^Bandung, 8 Juli 2007^^^


Masih tentang anak perempuan itu, fakta baru yang ku tahu adalah dia tetanggaku, tapi sayangnya saat aku tau itu duka sedang menyelimutinya, Ibunya dinyatakan meninggal tepat di pagi hari yang membuatnya tidak bisa bersekolah.


Kata Mama, dia tinggal sendirian disana, tidak memiliki sanak saudara karena ibunya anak tunggal sedangkan Ayahnya tidak diketahui keberadaannya, hari ini wajah yang kemarin sedikit bersinar kini meredup bahkan gelap mendung.


Aku melihatnya saat Mama menyuruhku mengantarkan makanan untuknya, dia seperti hidup tapi mati, dan aku.. kehilangan senyum manis itu..


Mira kembali mengusap air matanya, sudah sejauh itu Ardan mengamatinya, sejak dulu.


TBC