My Hubby

My Hubby
Chapter 27



Dua minggu sudah Ardan mendiami Mira, kali ini Mira juga lelah memulai semuanya, membuat mereka berdua hanyut dalam perang dingin.


Mereka hanya bicara seperlunya, dan terlihat seperti tidak apa-apa di hadapan kedua anak mereka.


“Bunda, katanya uncle Rey akan kemari lagi” Ardan yang fokus pada laptopnya langsung menatap si sulung, lalu beralih Mira yang juga menatapnya.


“Kata siapa?” tanya Mira menegaskan pada suaminya bahwa dia tidak tau apa-apa.


“Kata uncle Rey sendiri, nih chat-nya” ucap Aiden lagi sembari menunjukkan bukti chat dari Rey beberapa jam lalu.


Ardan berubah dingin kembali, seolah tak mendengar apapun dan kembali fokus pada laptopnya.


Mengundang ******* lelah Mira.


“Anak-anak, boleh Bunda minta tolong?” tanya Mira membuat kedua anaknya menatapnya heran, begitu juga Ardan yang sekilas menatap sang istri.


“Apa Bunda?”


“Bunda mau minta tolong belikan ice krim ke ind*mart boleh?”


Kedua anak itu berbinar senang bahkan berebut mengambil uang yang Mira sodorkan.


“Tapi dianterin sama mbak ya?”


“Siap Bunda, Ayah sama Bunda mau di belikan rasa apa?”


“Apa saja” jawab Ardan cuek.


“Bunda yang rasa coklat ya sayang”


Mereka berdua mengangguk, dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saja diam.


Setelah anak-anaknya benar-benar sudah pergi Mira mendekati suaminya yang masih mengacuhkannya.


“Mas, kita harus bicara” ucap Mira memecah keheningan setelah menelan ego-nya bulat-bulat.


“Aku sibuk Mira”


Mira menghembuskan nafasnya, air matanya bergumul saat Ardan sudah bangkit meninggalkannya sendiri.


“Kalau aku ada salah kamu bisa tegur aku Mas, jangan diamkan aku seperti ini” ucap Mira bergetar menahan tangis.


Mau tak mau Ardan menghentikan langkahnya.


“Tidak ada yang salah” jawab Ardan yang masih membelakangi sang istri.


Mira memijit kepalanya yang terasa nyeri, ia sudah tidak tau apa lagi yang harus ia lakukan untuk memperbaiki situasi ini.


“Kamu seperti marah padaku tapi aku tidak tau karena apa, sebaiknya kamu beritahu aku, agar kita bisa menyelesaikan masalah ini” ungkapnya lagi mengeluarkan semua unek-uneknya.


“Aku tidak marah”


“Baiklah, ak usudah berusaha memperbaiki situasi ini, tapi kamu yang terus-menerus menciptakan jarak, aku tidak akan mengganggumu lagi Mas” setelah mengatakan itu Mira berjalan menjauhi sang suami.


Sementara Ardan, saat sadar istrinya berjalan menjauh, ia hanya bisa melirik tubuh istrinya yang berjalan cepat dengan bahu bergetar.


Ardan mengurungkan niatnya yang akan berdiam diri di ruang kerjanya, ia kembali duduk di sofa yang ia duduki tadi, menundukkan kepalanya, sedikit menyesali sikap kekanakan yang akhir-akhir ini merasukinya.


Tak lama setelah itu anak-anaknya datang dengan dua keresek besar yang berisi banyak es krim.


“Ayah, ini es krim untuk ayah” Ardan sedikit tersenyum menerima sebungkus es krim itu dari putra sulungnya.


“Terimakasih Nak”


“Sama-sama Ayah, oh ya Bunda kemana?” sedikit gelagapan di tanya seperti itu, Ardan sekuat tenaga menguasai dirinya.


“Bunda sedang istirahat di kamar” bohongnya, karena sangat tidak mungkin untuk Ardan mengatakan pada kedua putranya bahwa sang Bunda sedang menangis karena tingkahnya.


“Oh, ya sudah kalau gitu Ayah yang kasih ini pada Bunda ya” dengan ragu Ardan mengangguk, lalu mengambil bungkusan es krim coklat itu dan berlalu ke kamranya.


Cklek


Ardan bisa melihat istrinya yang sudah tidur membelakangi pintu.


Entah kenapa ia sangat yakin bahwa istrinya tidak benar-benar tidur, hingga Ardan berjalan ke sisi istrinya setelah mengunci pintu, kemudian duduk di tepi ranjang.


Bibir Ardan terbuka namun segera mengatup saat ia kehilangan kata-katanya.


Bingung denganapa yang akan ia lakukan Akhirnya Ardan hanya menaruh es krim titipan anak-anaknya di nakas, lalu beralih ke balkon untuk meluapkan kegelisahannya.


Mira membuka matanya saat ia rasa suaminya sudah tidak ada di hadapannya.


Lagi-lagi wanita itu menangis.


***


Dirinya bergerak turun dari ranjang dan berjalan ke bawah.


“Ayah jangan ayah!”


Bug!


“Ardan, berhenti!” pekiknya saat Ardan hendak memukul Rey lagi.


Mereka semua memandang Mira yang turun dari tangga dengan tergesa.


“Bundaa” adu kedua putranya sembari memeluk kaki Mira ketakutan dengan pertengkaran dua pria dewasa yang baru saja terjadi.


Mira mengusap lembut puncak kepala keduanya untuk menenangkan anak-anak itu sembari tetap mengibarkan tatapan marah pada Ardan dan Rey secara bergantian.


“Sudah tidak apa-apa, sekarang kalian dengan Mbak dulu ya? Bunda ingin bicara dengan Ayah dan Uncle dulu” dengan patuh mereka mengangguk.


“Ada apa ini?” tanya Mira pada suami dan Abangnya.


“Dia yang menyerangku terlebih dahulu Mir”


“Itu karena aku tidak ingin rumahku di kotori olehmu”


“Kurang ajar!”


“Stop!!!” jerit Mira saat keduanya hendak kembali memulai baku hantam di depannya.


“Kalian itu sudah dewasa, tidak malu bertengkar di depan anak kecil, contoh yang tidak baik!” omel Mira pada keduanya.


“Usir dia atau aku akan melakukan hal yang lebih dari sekedar menghajarnya” ucap Ardan marah.


“Dia tamu kita Mas”


“Kamu ingin bukti dari perkataanku Mira?” Mira bungkam, dia menatap Rey tak enak, tap ia tidak memiliki pilihan selain ini.


“Suamimu posesif sekali Mira”


“Maaf bang”


“No, tidak apa-apa, Abang mengerti, jika memiliki istri sepertimu Abang juga akan melakukan hal yang sama” ucapnya setengah menggoda Mira dengan mengedipkan sebelah matanya.


Mira memukul pelan lengan Rey yang kini tertawa.


Dari atas sana, Ardan bisa melihat istrinya, malah asik bersenda gurau dengan pria lain.


Ardan yang marah memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan Mira yang tawanya terdengar di telinga Ardan.


***


Di tempat lain seorang wanita turun dari pesawat sembari membenahi kacamata hitamnya.


Wanita itu tersenyum mengamati sekitar, “Mommy akan menemui Arkan, tunggu Mommy ya nak”


Setelah berhasil menghentikan taxi, wanita itu masuk dan menyebutkan alamat tujuan mereka.


Setelah sampai wanita itu tidak langsung masuk ia hanya berdiam diri di depan gerbang hingga salah satu satpam yang mengenali mendekatinya.


“Nyonya Dinda?” di sapa seperti itu Dinda hanya tersenyum sembari mengangguk kecil.


“Siapa Pak? Astaghfirullah!! Tuan! Tuan!” pekik salah tukang kebun ruamh itu dengan ketakutan.


“Ada apa ini?” tanya Ardan yang sedikit terkejut saat pekerjanya berteriak.


“I-itu Tuan, I-itu..”


“Apa?!”


“Mas Ardan” sapa Dinda lembut membuat Ardan menoleh padanya dan terpaku di tempatnya.


“Dinda?”


“Iya ini aku, Mas masih mengenaliku?” ucapnya girang dengan langkah tergesa Dinda bergerak untuk memeluk Ardan namun di tolak mentah-mentah oleh pria itu.


“Kamu? Bagaimana bisa ini terjadi? Aku melihat sendiri jasad Dinda waktu itu, jadi tidak mungkin kamu Dinda, segera katakan apa maumu dan pergi dari sini” mendapat penolakan itu Dinda menangis sedih.


“Aku, ingin menemui Arkan, ku mohon” pintanya yang tak lagi menghiraukan tatapan tak percaya Ardan.


TBC