
Ardan terbangun saat mendengar Mira yang kembali memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
Saat akan menyusul Mira sudah keluar dengan wajah yang kuyu tak bertenaga, wanita itu duduk dan meminum air putih di samping ranjangnya.
Ardan hanya diam memperhatikan gerak-gerik istrinya yang seperti tidak menyadari Ardan yang sudah bangun dan melihatnya intens.
Kepalanya sibuk memikirkan keadaan Mira yang terlihat pucat dan lemas pagi ini.
Masih tidak menyadari kehadiran suaminya yang sudah terjaga Mira mencoba bangun, saat gelasnya kosong.
Tapi lagi-lagi keseimbangannya goyah, sebelum benar-benar jatuh menyentuh tanah Ardan menangkap tubuh istrinya.
“Hati-hati Mira”
“Hmm, Mas terbangun karena aku yang berisik sepagi ini ya? Maaf” ucap Mira tertunduk setelah ia kembali duduk di atas ranjang.
“Kita periksa ke dokter hari ini” ujar Ardan membuat Mira mendongakkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa Mas”
“Tidak ada bantahan Mira” setelah mengatakan itu Ardan beranjak dari ranjang, kamar mandi yang menjadi tujuan pria itu.
Saat pintu kamar mandi sudah tertutup tiba-tiba Mira menangis, dari dulu ia selalu kalah argumen dengan pria pemaksa itu.
Mira tau mungkin saja Ardan menghawatirkan keadaannya, tapi tidak bolehkah dia mengambil keputusan sendiri?
Apa seperti inikah nasib seorang wanita yang sudah menjadi istri? Semakin tidak bebas mengemukakan pendapat bahkan untuk hal yang menyangkut kehidupannya sendiri.
Merasa kepalanya semakin pusing Mira menghapus air matanya, lalu berjalan perlahan keluar kamar.
***
Mira duduk dalam diam di sebelah Ardan yang sedang mengemudi, perang dingin semakin berlanjut bahkan interaksi keduanya semakin dingin sejak kejadian pagi tadi.
“Kita sudah sampai” ucap Ardan membangunkan Mira dari lamunannya.
Wanita itu hanya mengangguk saja sebagai jawaban, saat Ardan sudah turun dari mobil entah kenapa mata Mira kembali berkaca-kaca.
Ketidakperdulian Ardan semakin membuatnya merasa jauh dari sang suami.
Pandangannya mengabur diikuti beberapa buliran yang jatuh, membuatnya sedikit kesulitan membuka seatbelt.
Hingga pintu Mira terbuka.
“Kenapa lama sekali Mira, kamu tidak bisa membuka seatbeltmu sendiri?” tanya Ardan yang kesal telah dibuat menunggu di bawah terik matahari.
Meski menggerutu tangan kekar itu membantu istrinya membuka belitan seatbelt yang terasa sangat mudah.
Mira yang menunduk menggigit bibirnya untuk meredamkan tangisan itu.
“Sudah, apa kamu ingin aku gendong juga?”
Mira menggeleng.
Tapi wanita itu tetap di tempatnya dengan posisi yang sama.
“Ayolah Mira jangan seperti Aiden yang merajuk dan ketakutan saat akan diperiksa dokter” ucap Ardan yang belum memahami apa yang terjadi.
Mendengar itu hati Mira terasa sakit, dengan berani ia mendongak menatap Ardan yang kini terkejut melihat pipi Mira yang basah.
‘Jadi Istrinya sedang menangis?’
“Aku memang anak kecil, lalu kenapa kamu mau menikahi anak kecil ini?!” dengan sedikit kesal Mira mendorong Ardan yang masih bingung dan berlalu pergi meninggalkan pria itu sendiri.
Ardan hanya menatap kepergian Mira dengan penuh tanya, rasanya ia tidak melakukan apapun hari ini, lalu kenapa istrinya seperti marah padanya.
Saat menunggu antrian Mira dan Ardan tetap saling diam.
“Nyonya Amira Adiba Az-zahra” Mira menoleh saat namanya sudah dipanggil.
Wanita itu berdiri lalu berjalan diikuti Ardan, saat masuk ruangan dokter Mira sedikit membungkuk untuk memberi salam pada dokter lanjut usia itu.
“Silahkan duduk Pak, Bu”
Mira mengangguk kemudian duduk, dengan Ardan yang setia di sampingnya.
“Jadi, apa keluhan anda Nyonya?”
“Baiklah saya periksa dulu ya?” Mira mengangguk dan menurut saat dokter menyuruhnya berbaring.
Ardan selalu mengikuti kemanapun Mira pergi, bahkan saat Mira sudah nyaman berbaring Ardan memilih berdiri di samping istrinya.
“Ok, semuanya baik” ucap dokter itu mengundang kerutan di dahi Ardan yang merasa tak terima dengan apa yang dokter katakan.
“Kalau semuanya baik, kenapa istri saya mual dan muntah dokter” protes Ardan yang langsung di hadiahi cubitan di perutnya.
Ardan memekik tertahan lalu menatap istrinya tajam.
Lagi-lagi dokter kembali tertawa kecil.
“Kita bicara di meja saya ya Pak Bu” Mira meringis tak enak, kemudian juga berjalan menuruti perintah dokter.
“Jadi, mual muntah yang ibu alami tidak selalu merujuk pada suatu penyakit Pak” ucap dokter itu penuh arti, Ardan semakin tak paham, berbeda dengan Mira yang mulai mendapat setitik fakta yang mungkin saja benar.
“Bisa langsung pada intinya dokter” desak Ardan, Mira yang sudah sibuk dengan pikirannya tidak lagi menghiraukan celotehan suaminya.
Sementara dokter itu tersenyum ramah, “Sebelum mengatakan hal itu, saya ingin memastikan sesuatu kepada istri anda terlebih dahulu Tuan” ucap sang dokter yang kemudian menatap Mira.
“Kapan terakhir kali Ibu mentruasi?”
Mira diam sejenak, otaknya sedang mengingat-ingat jawaban dari pertanyaan dokter itu.
“Satu bulan yang lalu” ucap Mira lirih.
Senyuman doketr itu semakin merekah, tapi tidak dengan Ardan yang masih tidak memahami hal yang sedang terjadi.
Di tengah kebingungan itu Ardan tersentak saat tangannya di genggam oleh dokter di hadapannya.
“Selamat Pak, sesuai dugaan saya, istri anda sedang mengandung”
Kini Ardan membeku di tempatnya, sedangkan Mira sudah menangis haru saat mengetahui ada nyawa baru di rahimnya.
Setelah mengucapkan terimakasih Ardan dan Mira pergi ke apotik untuk menebus beberapa obat dan vitamin.
“Aku tidak menyangka kita akan diberikan amanah secepat ini Mas” ujar Mira senang.
Ardan hanya menoleh pada istrinya sekilas.
“Kamu tidak suka dengan kehamilanku Mas?” desaknya penuh harap pada sang suami.
Ardan diam sebentar, lalu ia menggenggam tangan Mira, “Aku akan merawat anak itu dengan sepenuh hati” senyum Mira merekah.
Tapi itu tidak bertahan lama saat Ardan melanjutkan kalimatnya.
“Meski dia bukan darah dagingku”
Alis Mira menukik tak suka, “Bukan darah dagingmu? Apa maksudmu Mas?”
“Cukup pegang kalimat bahwa aku akan merawat anak itu seperti aku membesarkan Arkan”
Hati Mira mencelus saat ia tau makna dari perkataan suaminya.
Plak!
Ardan memejamkan mata untuk meredam panas yang tiba-tiba menjalar di pipi yang baru saja istrinya tampar.
Saat Ardan kembali menatap Mira, wanita itu sudah menguarkan aura permusuhan, juga tatapan kecewa.
“Jadi kamu sungguh berpikir aku tidur dengan laki-laki lain seperti mantan istrimu itu?!” desak Mira menggebu-gebu.
Ardan diam, meski dia sangat awam menghadapi wanita hamil, tapi ia cukup sadar bahwa wanita hamil sangatlah sensitif.
“Jawab!”
“Kamu memang pernah tidur dengan Rey! Aku melihatnya!” jawab Ardan setengah menggeram agar orang disekitarnya tidak mendengar apa yang ia ucapkan pada sang istri.
Mira menangis, ingin menjelaskan rasanya sangat percuma, pria di hadapannya tidak akan mau mendengarkan.
“Kalau begitu kita cerai saja Mas”
TBC