
Kevin POV
Saat dia melihat kearah aku entah mengapa dia menukar tempat duduk dan makan dengan tenang, tapi tak disangka ada seorang wanita yang datang dan menghinanya. Rasanya aku tak ikhlas melihatnya dan wanita itu malah menyebutnya pelakor," Apa yang terjadi ?" tanyaku dalam hati. Tak mungkin ku bertanya apalagi saat ini dia membenciku, saat ku lihat wanita itu sepertinya ingin menampar Eliana karena dia mengacuhkannya sehingga membuatnya marah dan saat itu aku pun menepisnya dan mengatakan akan memperhitungkan perlakuannya di pengadilan setelah mendengar ucapku wanita itu pun pergi. Sepertinya Eliana sungguh malu karena dapat perlakuan yang tidak menyenangkan didepan banyak orang dan kami semua tak melanjutkan untuk makan melainkan untuk pulang saat di mobil tak ada satupun yang berbicara.
Sesampainya didepan rumah Eliana langsung masuk kedalam rumah, dan aku hanya bisa melihat punggungnya miris sudah kejadian tadi membuatku sedikit bersalah, seandainya aku tak mengajaknya makan mungkin kejadian tadi tak akan terjadi.
Kevin end
Kring...kring
Bunyi alarm yang selalu aku stel setiap hari jam 5 pagi dan seperti biasa rutinitas ku melakukan kewajiban beribadah dan memasak makanan untuk sarapan pagi, tidak selalu aku memasak terus kadang Nisa juga melakukan memasak, karena siapa yang bangun duluan biasanya melakukan kegiatan memasak tidak hanya itu saja aku harus tiap hari mencuci pakaian dan membereskan rumah jika sempat. Selesai itu aku pun bersiap untuk membersihkan diri.
06.00 wib
Aku menuju meja makan untuk sarapan pagi dan berangkat bekerja agar tak kesiangan aku bangun sangat pagi, " Sepertinya Nisa masih didalam kamar !!!" kataku dalam hati sambil melihat kearah pintu kamar yang masih tertutup. Aku memilih melanjutkan makan dan langsung berangkat setelah selesai sarapan aku bersiap berangkat tapi tiba-tiba pintu kamar Nisa terbuka.
"Ana kau sudah mau pergi mengajar?" ucapnya sambil berjalan kearah ku. Aku hanya mengangguk kepala tanda apa yang ditanya benar, dan aku berbalik untuk pergi tapi terhenti dengan pertanyaan Nisa. "Kau tak apa-apakan?" tanyanya dengan nada pelan tapi masih bisa aku dengar. "Aku baik-baik saja, aku berangkat !!" jawabku dengan singkat tanpa melihat kearah Nisa yang aku tau dia masih melihat kearah ku.
Nisa POV
" Ya ampun, bagaimana aku menghibur Ana dan aku tau dia tak pernah sedikitpun menangis dihadapan orang meskipun itu sahabatnya sendiri" kataku sambil mondar-mandir. Nisa terus menerus menarik dan mengeluarkan nafasnya biar terlihat seperti biasa lalu membuka pintu dan terlihat Ana sudah bersiap berangkat, sungguh sedih bagi Nisa melihat ekspresi Ana yang cuek dan terlihat datar. Aku terus menatap Ana yang pergi sampai tak terlihat sedikitpun punggungnya.
"Ana, semoga kau menemukan kebahagiaan !!!" kataku dengan nada pelan.
"Meskipun kau sedang tidak bahagia tapi kau tetap menyiapkan makanan untukku !!" kataku.
Setelah selesai sarapan Nisa pun pergi mengajar dengan memakai mobilnya, " biasa aku selalu mengantarkan Ana tapi Ana malah pergi duluan" keluhku saat didalam mobil.
Nisa End
Ana POV
Ana menunggu sekitar 5 menit dihalte bis. "Ya ampun bis kemana ya? tanyaku dalam hati. Sungguh kesalnya menunggu bis yang tak kunjung datang, " Ya ampun bisa-bisa aku telat ke sekolah" keluhku lagi tak berapa lama terlihat mobil berwarna hitam berhenti didepan ku. " Sepertinya aku mengenal mobil ini tapi mobil siapa ya? " tanyaku dalam hati. Saat aku mengingat tentang mobil itu tiba-tiba kaca mobil itu terbuka.
" Ana kau akan berangkat kerja?" tanya pria itu dan membuatku terkejut.
"Ke-vin? eh dokter Kevin?" jawabku.
" Ya dok, aku akan berangkat kerja tapi bis nya belum datang juga" Ucapku lagi sambil tersenyum.
"Mau aku antar?" tanyanya lagi.
" Tidak usah dok, sangat merepotkan dan rumah sakit dan tempatku mengajar berbeda arah" jawabku dengan panjang lebar.
" Kau akan terlambat jika menunggu bis !!" ucapnya.
Aku berpikir " sepertinya bener sekali, kalau aku terlambat lagi yang ada aku bisa dipecat!!" ucapku dalam hati.
Aku menatap kearah dokter Kevin sambil berkata " Baiklah, untuk kali ini aku merepotkan dokter". Aku pun langsung masuk kedalam mobil dokter Kevin.
Di mobil dokter Kevin
"Bagaimana kau bisa mengenal Nisa?" tanya dokter Kevin kepadaku.
"Oh aku kira kalian itu teman sekolah." Katanya lagi dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Apakah kau sangat nyaman bekerja sebagai guru?" tanyanya lagi kepadaku.
"Sangat nyaman, karena buat aku anak kecil itu sangat lucu, menggemaskan dan lagi mereka sangat polos" jawabku sambil tersenyum.
"Berarti kau sangat menyukai anak kecil?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk kepala tanda setuju dengan apa yang ditanyakan.
"Sudah sampai" ucapnya kepadaku dan aku menoleh kearah kanan.
"Terimakasih dok dan maaf aku merepotkan, dokter". ucapku sambil turun dari mobil dokter Kevin.
"Tidak masalah kok kamu tak usah sungkan" jawabnya sebelum aku turun dari mobil.
"Ana !!!" teriaknya saat aku sudah ada didepan gerbang. Aku menoleh dan melihat dia memberikan isyarat seperti "Bolehkah aku menelepon kamu?". Karena aku sedikit tak jelas aku hanya mengangguk kepala saja agar tak lama juga menjawabnya. Setelah itu aku masuk keruangan guru dan bersiap-siap untuk mengajar.
Kevin POV
"El !!!" aku memanggilnya saat tak jauh dari mobilku berhenti dan kuberikan kode "Bolehkah aku menelepon kamu?" kataku dengan kode gerakan tangan dan mulut. Saat itu pun aku melihat dia mengganggukkan kepalanya, betapa bahagianya dia mengiyakan jawabanku.
Aku pun melajukan mobil kearah rumah sakit dengan perasaan bahagia sekali.
Sampai Rumah Sakit
"Kau terlambat sekali dokter Kevin !!" tanya sahabatnya itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Kevin pada sahabatnya itu.
"Kau sama sekali tak pernah seperti ini dan kau selalu disiplin" jelas dr Daniel pada sahabatnya itu.
" Rahasia" jawabnya dengan singkat lalu pergi dari ruangannya dan mengecek beberapa pasien VIP dan juga mengecek Riza yang akan dipindahkan juga 2 hari lagi.
"Kau ini sahabat macam apa? meninggalkan aku sendiri seperti ini !!" jawabnya.
dr Kevin hanya tertawa karena baginya sangat lucu sekali dengan sikap yang ditunjukkan dr Daniel. Dan tiba-tiba dr Kevin terdiam dipintu ruangan Riza dan melihat Riza didepan kaca "Riza sama sekali tak menunjukkan bahagia" ucapan dr Kevin dalam hati. tiba-tiba dr Daniel menepuk pundak dr Kevin, "kau kenapa Vin?tanyanya pada dr Kevin.
"Tidak ada apa-apa!!!" jawabnya dengan hati-hati.
"Riza seperti tidak bahagia" ucapan dr Daniel.
dr Kevin hanya mengangguk kepalanya tanda setuju yang dikatakan dr Daniel.
"Jika ada Ana mungkin dia akan membuat Riza tersenyum" kata dr Daniel. Tapi dr Kevin malah pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
Bersambung
Jangan lupa like comment and vote
Terimakasih banyak 🙏