
"Aku bilang yang sesungguhnya padanya." ucap Fadlan kemudian mencium puncak kepala istrinya itu. Sontak Talita menatapnya tak percaya.
"Maksud kakak apa?" ucap Talita gusar. Fadlan kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Aku bilang yang sesungguhnya kalo Azrian adalah anakku," ucapnya kemudian. Talita menatapnya dengan haru, air matanya siap meluncur bebas. Menyadari itu Fadlan segera menghapus genangan air di mata istrinya itu dengan lembut.
"Jika suatu hari 'Dia' tahu yang sebenarnya, ku mohon jangan tinggalin aku, jangan pisahkan aku dari Azrian, karena aku yakin, aku gak akan bisa hidup normal tanpa kalian berdua, bahkan mungkin aku akan mat...." Lirih Fadlan. Talita segera membungkam ucapan Fadlan dengan menempelkan bibirnya diatas bibir Fadlan sebelum suaminya itu mengucapkan kata-kata yang ia benci.
Talita melepas pagutan bibirnya kemudian menatap intens suaminya.
"Jangan pernah kakak ucapkan kata-kata itu lagi, kami tidak akan pergi, kami akan tetap bersamamu." ucapnya lembut. Fadlan tersenyum mendengar semua pernyataan istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara di tempat lain, Arga tengah melamun, kembali memikirkan apa yang tadi ia bicarakan bersama Fadlan.
Flashback On
Tok...Tok...Tok...
Arga mengetuk pintu sebuah ruangan yang ia tahu dari security bioskop bahwa itu adalah ruangan Fadlan.
Tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan seorang guide yang tersenyum padanya.
"Bapak cari siapa?" sapa guide tersebut ramah.
"Boleh saya bertemu pak manager?" jawab Arga. Guide yang Arga tahu bernama Gladis dari nametag yang menempel di dadanya segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkannya masuk.
"Selamat pagi,Pak manager!" seru Arga menyapa Fadlan yang tampak fokus pada lembaran kertas didepannya. Fadlan mengangkat wajahnya, mengalihkan perhatian dari pekerjaannya. Seketika raut wajahnya menegang menatap siapa yang datang menemuinya. Namun dengan profesional ia tersenyum ramah menyambut Arga.
"Selamat pagi,Pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Fadlan berjalan menghampiri Arga yang masih mematung di depan pintu.
"Silahkan masuk,Pak!" sambungnya setelah menjabat tangan Arga.
"Hal apa yang membawa anda datang kesini?" tanya Fadlan berusaha setenang mungkin, karena sebenarnya ia tahu maksud dan tujuan lawan bicaranya ini.
"Saya mau bertanya soal Talita dan anaknya." ucap Arga singkat dengan nada bicara tegas khas seorang tentara.
Deg...
Fadlan masih saja kaget meski ia sudah menduga maksud kedatangan Arga menemuinya. Namun ia berusaha menetralkan mimik wajahnya di depan Arga.
"Ada apa dengan anak dan istri saya?" tanya Fadlan.
"Saya kira anda sudah tahu siapa saya, dan bahkan saya sudah menduga jika anda sudah mengerti maksud dan arah bicara saya." ucap Arga tenang.
Fadlan tersenyum sebelum menjawab ucapan lawan bicaranya.
"Ehem... begini pak, saya tahu kalo anda adalah pria yang ada di masa lalu istri saya, seseorang yang pernah istri saya cintai. Tapi yang saya tidak mengerti, kenapa anda masih saja mengungkit hal itu. Dan apa hubungannya dengan Azrian anak kami?"
"Itu yang ingin saya pertanyakan, saya ingin tahu tanggal lahir Azrian." kata Arga lagi. Fadlan mengerutkan keningnya, mimik wajahnya kini tak lagi setenang tadi.
"Kenapa anda menanyakan hal itu?"
"Tolong saya hanya minta anda menjawabnya."
" Baiklah, jika memang itu yang anda inginkan, saya akan beri tahu identitas anak saya." sejenak Fadlan menghela nafas demi menetralkan emosinya yang sudah cukup banyak ia tahan.
"Namanya Azrian Alfat Nugraha, dia lahir tanggal 12 Desember 2019.... sudah cukup?!" sambung Fadlan tegas. Arga hanya diam tanpa menanggapi.
Flashback off
'Jika memang anak itu lahir di bulan Desember, berarti memang benar dia bukan anakku, tapi kenapa aku merasa ada keterikatan yang sangat kuat dengan anak itu saat pertama kali aku melihatnya?' batin Arga frustasi.