my hero

my hero
Kalut



Talita termenung memikirkan permintaan Arga untuk selalu bertemu dengan anaknya. Meskipun saat itu ia mengatakan ya, tapi hatinya merasa tak rela, takut Azrian akan lebih dekat pada Arga dan dengan mudah Arga merebut anak itu darinya.


"Mamama..." rengek Azrian membuyarkan lamunan Talita. Anak itu berhasil melewati masa kritisnya setelah berjuang melawan gegar otak ringan yang dideritanya akibat jatuh tempo hari.


Seminggu sudah anak gembul itu dirawat di rumah sakit. meski hanya gegar otak ringan, namun dokter menganjurkan untuk rawat inap sampai keadaannya benar-benar baik.


"Anak mama udah bangun?" sapa Talita kemudian mengecup kening anaknya.


Kreeek...


Pintu ruangan tempat Azrian di rawat terbuka, menampilkan sosok Fadlan yang tersenyum sambil mendekati tempat tidur Azrian.


"Assalamualaikum cintanya Ayah!" serunya sambil mencium pipi gembul Azrian.


"Waalaikumsalam ayah!" jawab Talita sambil meminta tangan Fadlan kemudian menciumnya. Fadlan membalas dengan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Gimana perkembangan anak kita yang ganteng ini,yang?" tanya Fadlan.


"Baik, kata dokter hari ini kita sudah boleh pulang." jawab Talita.


"Alhamdulillah, berarti anak ayah ni udah bisa main lagi dong," seru Fadlan menciumi Azrian yang langsung terkekeh geli.


Kreeekkk ...


Sekali lagi pintu terbuka, pandangan Fadlan dan Talita serempak beralih ke arahnya.


"Apa saya mengganggu?" tanya orang itu yang ternyata adalah Arga. Seketika wajah Talita memucat, ia menolehkan kepalanya ke arah Fadlan. Fadlan seakan mengerti kekhawatiran istrinya, ia pun tersenyum menenangkan.


"Tentu tidak, silahkan masuk!" ujar Fadlan kemudian bangkit mendekati Arga. Arga pun masuk dengan membawa sekantong coklat dan mobil-mobilan yang tentunya untuk Azrian.


"Apa kabar?" tanya Arga seraya menjabat tangan Fadlan.


"Baik, sangat baik." jawab Fadlan.


pandangan Arga kini beralih pada Talita dan balita gembul yang tengah berkutat dengan cemilan di tangannya.


"Apa kabar Lit?"


"Hei...little boy, lihat om bawa apa nih buat kamu?" ujar Arga mendekati Azrian dan memberikan coklat serta mainan yang ia bawa. Azrian hanya melongo, tanpa mengucapkan apapun.


"Kenapa harus repot-repot Mas?!" ucap Fadlan.


"Kebetulan saya lewat ke toko mainan, saya jadi ingat Azrian saat lihat mobil-mobilan ini. Semoga saja dia suka." jawab Arga.


"Terima kasih ,mas!" ucap Talita. Awalnya Azrian menerima semua pemberian Arga dengan malu-malu, namun perlahan ia membuka satu persatu barang-barang itu. Arga hanya tersenyum simpul melihat betapa lucunya anak itu,anak yang seharusnya bebas ia peluk cium, anak yang seharusnya memanggilnya ayah.


"Gimana perkembangannya? apa sudah boleh pulang?" tanya Arga.


"Alhamdulillah Azrian sekarang sudah sehat, tadi kata dokter hari ini sudah boleh pulang, hanya tunggu cairan infusnya habis saja." jawab Fadlan.


"Wow... ternyata bayi ganteng ini kuat ya, bentar lagi udah bisa pulang, bisa main lagi dong ya?" ucap Arga menggoda Azrian yang hanya membalas dengan cengiran menampilkan gigi yang baru tumbuh sedikit. Dengan gemas Arga menciumi Azrian hingga terdengar tawa kecil Azrian yang merasa geli.


Hati Fadlan sedikit memanas melihat keakraban anaknya dengan Arga. Meski ia sadari jika darah lebih kental dari air, namun tetap saja ia merasa sakit jika mengingat anak yang selama ini ia besarkan akan lebih dekat dengan ayah biologisnya.


Seakan menyadari kekalutan hati suaminya, Talita segera buka suara.


"Azrian mau mimi? dari tadi zrian belum mimi lho." Balita gembul itu pun mengangguk seraya bersorak.


"Maaf mas, Azrian mau aku kasih mimi dulu." ujar Talita mengusir Arga secara halus agar menjauh dari Azrian. Arga mengangguk dan segera menjauh kemudian duduk di dekat Fadlan.


"Terimakasih sudah menjaga anak saya selama ini." ucap Arga. Fadlan terkesiap, sontak ia memasang wajah tak suka saat menatap Arga.


"Apa maksud anda? tentu saya akan menjaga anak dan istri saya sepenuh hati saya,"ucap Fadlan dengan suara sedikit meninggi.


Arga tersenyum,"Saya tahu, maka dari itu saya berterimakasih karena anda sudah mau menjaga dan membesarkan anak saya dengan sepenuh hati."


"Mas?!" bentak Talita yang sedari tadi hanya diam.


"Apa maksud semua ini? kenapa mas ini bisa bicara seperti itu? siapa sebenarnya Azrian?" ucap seseorang yang baru memasuki ruangan sesaat setelah perdebatan terjadi.


Fadlan, Talita dan Arga serempak menoleh dan terkesiap saat melihat siapa yang sedang berdiri dihadapan mereka saat ini.