my hero

my hero
Pulang Kampung



Sudah dua jam rumah ini terasa mencekam karena sang pemilik tengah berperang dingin.


"Assalamualaikum Ma,Pa...Rian pulang!!" teriakan si anak bujang yang kini berusia 7 tahun itu berhasil memecah keheningan rumah.


"Waalaikumsalam sayang,gimana sekolahnya? belajar apa hari ini?" sahut Talita menyambut kedatangan sang anak. Azrian pun dengan semangat menceritakan kegiatannya selama di sekolah.


Arga yang sedari tadi mengurung diri di kamar anaknya, keluar menghampiri Azrian yang tengah berceloteh.


"Hai,boy, papa ada kabar baik buat kamu." ucapnya.


"Apa,Pa?" tanya Azrian dengan mata berbinar antusias menunggu kabar yang akan papanya sampaikan.


"Besok kita akan pulang kampung!!" Azrian bersorak mendengar ucapan papanya itu.


"Horeee....kita mau ke rumah enin ya,Pa?" Arga menggelengkan kepala.


"Bukan sayang, kita akan ke rumah Nenek sama Abah (sebutan Azrian untuk orang tua Arga)."


Tiba-tiba saja senyuman di bibir Azrian luntur. Begitu pula Talita, mimik wajahnya sungguh sangat kaget. Ia sama sekali tak tahu semua rencana Arga.


"Ke rumah Nenek,Pa? Rian gak mau" lirih Azrian. Arga mengerutkan keningnya.


"Kenapa sayang?"


"Nenek jahat, nenek gak suka sama Rian, tiap ketemu senangnya marah-marah sama Rian." jawab Azrian.


Dengan tersenyum Arga meraih pundak Azrian lalu merangkulnya.


"Emang nenek pernah marah gimana sama Rian?" tanyanya lembut.


"Nenek selalu marah kalo Rian panggil, nenek bilang Rian bukan cucu nenek, Rian gak boleh manggil dengan panggilan 'Nenek'. Katanya Rian sama mama cuma bisa ngerepotin papa aja selama ini." jawab Azrian tertunduk, air matanya pun meluruh seketika. Arga tertegun mendengar ucapan anaknya. Selama ini ia tak tahu jika perlakuan mamanya sangat tidak menyenangkan terhadap Azrian.


Talita yang sejak tadi melihat percakapan suami dan anaknya,menangis dalam diam. Ia tahu apa yang anaknya rasakan saat bertemu orang tua Arga, karena ia pun merasakannya.


Mama mertuanya selalu meremehkan dirinya hanya karena statusnya sebagai janda anak satu saat menikah dengan Arga.


Ia dianggap hanya ingin memanfaatkan kemapanan Arga untuk menghidupi anaknya. Sungguh anggapan yang sangat menyakiti hatinya.


"Rian, sekarang kita ganti baju dulu ya. Abis itu kita makan,oke?!" ucap Talita mengalihkan pembicaraan agar anaknya tak larut dalam kesedihan.


"Oke,ma!" jawab Azrian lesu, kemudian berdiri mengikuti mamahnya yang menuntunnya berjalan ke arah kamar tidur.


Sedangkan Arga masih duduk lesu di sofa tempat duduknya tadi. Ia menyugar rambut cepaknya frustasi.


Bayangan masa lalu kembali menyeruak dalam pikirannya.


Andai saja dulu ia tahu akan hadirnya Azrian di perut Talita sebelum ia pergi jauh....


Andai saja dulu ia menjadi orang pertama yang menyandang status sebagai suami Talita...


Andai dulu ia mau berkata jujur pada orang tuanya tentang siapa Azrian sebenarnya....mungkin saat ini anak laki-lakinya itu tak akan merasa ketakutan saat mendengar nama 'nenek' nya disebut.


Arga masih termenung dengan posisi duduk di sofa,kedua tangannya bertumpu di lutut, saling bertaut dan kepala menunduk dalam. Ia pun terisak.


Selama ini pantang bagi seorang Arga mengeluarkan air mata kelemahannya. Hanya di beberapa momen ia mengalah, pertama saat kelulusannya menjadi seorang abdi negara, kedua saat ia pertama kali mengetahui jika ia telah memiliki seorang anak tetapi tak bisa ia sentuh dan ketiga adalah hari ini di saat melihat air mata penolakan sang anak karena traumanya.


"Mas..." Talita menyentuh bahu suaminya yang masih saja tertunduk.


Arga mengangkat wajahnya, seketika terlihat mata sembab dan pipi yang basah karena air mata.


Talita pun berjongkok mensejajarkan diri di depan suaminya.


"Mas jangan marah sama Rian,ya!" bujuknya sambil mengusap pipi sang suami. Arga menggelengkan kepalanya.


"Mas gak marah, mas hanya sedikit kecewa."


"Sama Rian?"


"Bukan, sama diri mas sendiri. Mas merasa selama ini terlalu fokus untuk mendekatkan diri pada Rian, mas ingin mengganti waktu mas yang terbuang dulu untuk melihat tumbuh kembang Rian. Tanpa mas sadari, mas lupa memperkenalkan dia kepada nenek abahnya hanya karena mas takut akan murka bapak saat itu." Arga menjeda ucapannya untuk menghela nafas."Seharusnya mereka tahu jika Rian bukan orang lain, dia anakku,Lit, darah dagingku...darah daging mereka, cucu mereka. Sebenarnya mas tahu seperti apa sikap ibu sama kalian, tapi mas tutup mata karena mas pikir waktu akan merubahnya. Mas gak sadar jika ini akan membuat trauma buat Rian." sambung Arga.


Dengan air mata yang sudah ikut menganak sungai di pipinya, Talita mendekap Arga yang kini terisak.


"Ssstt...mas, jangan salahkan diri mas seperti ini. Semua bisa diperbaiki,kan? jangan pikirkan ucapan Rian tadi, dia hanya mengeluarkan isi hatinya. Tapi lambat laun, Rian pasti akan lupa." ucap Talita berusaha menenangkan suaminya.


"Besok kita ke rumah mama,kan? kita bicarakan disana,mas mau?" Arga mengangguk dan tersenyum.


"Oke aku siapin dulu semuanya,ya, nanti antar aku beli hampers buat di bawa kesana,ya!" sambung Talita menyembunyikan kekhawatirannya, membuang egonya yang tak mau bertemu mertua. Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan suaminya.


Talita pun beranjak pergi hendak mengemasi barang yang akan ia bawa pulang kampung besok.


Tinggallah Arga yang tersenyum mengikuti langkah istrinya yang semakin menjauh.


"Terima kasih,Lit, terima kasih atas semua ketegaranmu selama ini." ucapnya dalam hati.