
Hari ini aku sangat bersemangat menuju rumah sakit tempat anakku di rawat. Tak lupa ku bawa buah tangan yang sengaja ku beli saat melewati tempat mainan dan juga cemilan.
Aahh...sungguh, aku membayangkan sambutan hangat dari anakku saat aku datang. Ia berlari ke arahku, memanggilku ayah, kemudian aku gendong dia dan ku cium dia dengan penuh kasih sayang.
Namun sayangnya hal itu hanya akan menjadi bayanganku saja, karena dalam kenyataannya anakku tak tahu jika aku adalah ayahnya. Semua memang salahku, karena aku tak pernah ada buat dia sedari dia masih berada dalam kandungan ibunya. Sungguh hal yang sangat aku sesalkan hingga saat ini. Seandainya dulu aku tak menyerah mencari cara untuk tetap berhubungan dengan ibu dari anakku, mungkin ceritanya tak akan seperti ini.
Tapi ya sudah... nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin bisa dijadikan nasi goreng.
Saat kakiku melangkah di lorong menuju kamar rawat inap anakku, seseorang di depanku juga tengah menuju kesana. Ya... dia...pria yang kini dapat berbangga hati karena mendapat segala yang harusnya menjadi milikku, istrinya yg seharusnya menjadi istriku dan anakku yang dengan penuh kasih sayang memanggilnya dengan sebutan ayah.
Ku percepat langkahku saat melihat ia masuk ke ruangan itu. Langkahku tertegun saat ku lihat kemesraan mereka bertiga dari celah pintu yang tak tertutup sepenuhnya. Sesungguhnya hatiku cemburu, namun sebisa mungkin ku tahan semua.Kreeekkk ..ku buka pintu ruangan itu dengan sekali dorong.Pandangan Fadlan dan Talita serempak beralih ke arahku. Ya, pria itu bernama Fadlan yg sudah berhasil membuat kekasihku Talita menjadi istrinya.
"Apa saya mengganggu?" tanyaku. Seketika ku lihat wajah Talita memucat, seakan tak suka melihatku.Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Fadlan seakan meminta izin dari suaminya itu. Ah sungguh hal yang membuatku sangat cemburu.
"Tentu tidak, silahkan masuk!" ujar Fadlan.
"Apa kabar?" tanyaku seraya menjabat tangan Fadlan.
"Baik, sangat baik." jawab Fadlan.
"Apa kabar Lit?"
"Ba..baik, mmas!" ucap Talita kikuk.
"Kenapa harus repot-repot Mas?!" ucap Fadlan.
"Kebetulan saya lewat ke toko mainan, saya jadi ingat Azrian saat lihat mobil-mobilan ini. Semoga saja dia suka." jawabku.
"Terima kasih ,mas!" ucap Talita yang ku balas hanya dengan senyum.
"Gimana perkembangannya? apa sudah boleh pulang?" tanyaku.
"Alhamdulillah Azrian sekarang sudah sehat, tadi kata dokter hari ini sudah boleh pulang, hanya tunggu cairan infusnya habis saja." jawab Fadlan.
"Wow... ternyata bayi ganteng ini kuat ya, bentar lagi udah bisa pulang, bisa main lagi dong ya?" ucapku menggoda Azrian yang kemudian tertawa geli karena ciumanku.
"Azrian mau mimi? dari tadi zrian belum mimi lho." Balita gembul itu pun mengangguk seraya bersorak. Sepertinya ia tak suka melihat kedekatanku dengan anak gembul itu. Ingin ku berteriak jika itu memang hak ku untuk selalu dekat dengannya, karena jika saja saat itu aku tahu keberadaan anak ini, maka saat ini aku lah yang ia panggil Ayah.
Karena kekesalan itulah, membuat aku lepas kendali. Terjadi perdebatan antara kami bertiga hingga tanpa kami sadari seseorang sudah masuk dan mendengar semua perdebatan kami.
"Apa maksud mas ini? siapa Azrian?" tanyanya yang berhasil mengagetkan kami bertiga.
"Bapak? ibu mana pak?" tanya Talita gugup. Ternyata itu adalah ayahnya Talita, mantan calon mertuaku.
Beliau terus bertanya tentang ucapanku tadi. Bahkan beliau tak percaya dengan jawaban kami yang mengatakan bahwa itu suatu candaan. Sebenarnya aku ingin berkata jujur saat ini, namun ku pastikan kejujuranku akan makin memperkeruh suasana, maka ku putuskan untuk diam.