my hero

my hero
Manisnya Cinta



"Kenapa nangis,hmm?" Arga menarik tangan Talita dan menuntunnya untuk duduk disampingnya. Wanita yang kini berpenampilan islami itu terkejut bukan main. Ia baru sadar jika sedari tadi tengah melamun.


"Gak papa, cuma sedikit terkenang masa lalu." jawab Talita mengusap lelehan air matanya di pipi. "Mmm...mana Azrian?" sambungnya.


Bukan menjawab,Arga malah semakin intens menatap sang istri,membuat orang yang ditatapnya salah tingkah.


"Kenapa?" tanya Talita kikuk. Arga menggelengkan kepala tanpa melepas pandangannya.


"Aku hanya lagi mengagumi makhluk ciptaan Allah yang sungguh sangat sempurna." Seketika pipi Talita terasa panas mendengar jawaban Arga.


"Gombal!!" ucap Talita sambil mencubit lengan pria bergelar suaminya itu.


"Enggak gombal, cuma...aku sedang mensyukuri nikmat yang Allah berikan untukku. Cinta yang selama ini ku kira tak akan lagi bisa ku jangkau, kini tengah berada di hadapanku." balas Arga.


Tak pelak air mata Talita kembali meluncur, kali ini karena ia merasa terharu atas apa yang suaminya katakan. Sungguh ia tak bisa lupa, bagaimana perjuangan Arga dulu untuk mendapatkan kembali hatinya setelah kematian Fadlan.


Bukan hal mudah untuknya agar bisa lepas dari bayang-bayang Fadlan yang telah 4 tahun hidup bersamanya. Bahkan ia hampir saja dinyatakan depresi oleh dokter karena masih saja berhalusinasi seakan Fadlan masih hidup meski sebenarnya telah tiada selama 6 bulan lamanya.


Berkat kesabaran dan ketelatenan orang tuanya, tentu dengan bantuan Arga yang selalu menyisihkan waktu untuknya, akhirnya Talita bisa menerima kenyataan yang ada.


Barulah di tahun ketiga kepergian Fadlan, Talita menerima lamaran Arga untuk menjadi istrinya.


"Hei...kok melamun lagi?" tanya Arga mengusap punggung tangan istrinya yang ia genggam. Talita tersenyum,kemudian tanpa aba-aba ia mencium pipi Arga.


"Wah...mulai nakal,nih? jangan coba-coba membangunkan singa tidur ya?!" seloroh Arga. Talita terkekeh, "Terima kasih mas!" ucapnya.


Kening Arga berkerut dalam," Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih atas cintamu yang sudah membawaku kembali ke alam nyata, ke alam dimana aku pernah merasa putus asa karena kepergian almarhum kak Fadlan. Andai mas gak ada, mungkin saat ini aku sudah menjadi orang gila." ucap Talita terisak.


"Hei...apa yang kamu bilang? gak ada kata terima kasih untuk cinta. Sedari dulu cintaku tulus dan tak pernah padam untukmu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berusaha berdiri disampingmu. Meski harus ku hadang ribuan peluru, aku ikhlas untuk kamu dan Azrian." kata Arga sambil merengkuh tubuh Talita ke dalam pelukannya. Di usapnya bahu Talita yang masih saja menangis, dan diciuminya pucuk kepala Talita seakan menyalurkan kekuatan dari hatinya.


"Udah,ya, jangan nangis terus...tugas kita masih banyak, membimbing anak kita agar menjadi anak sholeh dan sukses di kemudian hari. Dan.." sengaja Arga tak melanjutkan kata-katanya.


"Dan...apa?" tanya Talita mengangkat kepalanya dari dada sang suami.


"Dan kita harus segera memberi Azrian adik supaya dia gak kesepian." jawab Arga berbisik dengan memainkan sebelah alisnya.


Blush...pipi Talita seketika merona. Entah kenapa ia merasa masih seperti gadis ABG yang baru mengenal cinta setiap kali Arga merayunya.


"Apa sih,mas...mesum ih!"


" Lho, mesum sama istri sendiri halal,kan? emangnya kamu gak mau?" ucap Arga menjawil dagu istrinya. Dalam hati Arga bersyukur istrinya ini sudah kembali bisa tersenyum.


"Mau..." jawab Talita manja. Tanpa ba bi bu lagi, Arga segera membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.


"Mas ih, turunin malu." ucap Talita dalam gendongan Arga.


"Malu sama siapa?"


"Azrian lagi main bola di lapangan depan bersama teman-temannya, makanya ini kesempatan kita untuk membuat adik Azrian."


Mereka tertawa bersama, dan kembali mengarungi indahnya samudera cinta berdua menuju puncak surga dunia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah satu minggu Azrian berlibur di rumah enin dan aki nya di kampung. Selama itu pula Talita merasa kesepian, apalagi saat sang suami tengah bertugas piket seperti saat ini.


Namun bukan Arga namanya jika tak bisa mencari cara agar bisa selalu dekat dengan sang istri. Saat ini pun dengan berdalih izin untuk makan siang, Arga kembali ke rumah.


" Lho mas? kok pulang?" tanya Talita heran. Arga tersenyum, "Aku mau makan siang." jawabnya.


"Oo..kalo gitu, sebentar aku siapin dulu makan siangnya." ucap Talita hendak melangkah menuju dapur namun di tahan oleh Arga yang memeluknya dari belakang.


"Bukan makan siang itu yang aku maksud, tapi ini..." ucap Arga membenamkan wajahnya di tengkuk istrinya. Kemudian menciumi leher hingga bahu sang istri yang mulai bereaksi.


"Mas ih, kok gak ada bosennya sih? bukannya tadi pagi sebelum mas berangkat udah aku kasih bekal?" protes Talita membalikkan badannya hingga berhadapan dengan sang suami.


"Gak akan ada kata bosen buat aku. Kamu adalah canduku, kamu adalah duniaku. Jadi apapun akan aku lakukan demi bisa selalu bersamamu." kata Arga setengah berbisik di telinga Talita, hingga si empunya bergidik geli.


Talita mengalungkan tangannya di leher sang suami. Dengan tatapan manja ia tersenyum.


"I'm yours,my King! kapan pun kamu mau, aku selalu ada untukmu." Arga merasa semakin tertantang dengan ucapan istrinya.


"Shall we start now,my queen?" Talita mengangguk manja. Tentu saja hal itu semakin memancing Arga untuk segera menerkamnya. Arga menarik tengkuk Talita dan menempelkan bibirnya di atas bibir istrinya. Semakin lama, ciumannya berubah dari lembut menjadi semakin menuntut.


Seakan dunia hanya milik mereka berdua, mereka melampiaskan semua hasrat yang membuncah di dada masing-masing. Mereka bahkan tak peduli atau bisa dikatakan tak menyadari jika saja saat ini mereka masih berada di ruang tamu.


Namun apa peduli mereka, yang mereka pikirkan saat ini hanya ingin menyalurkan cinta yang membara di hati. Bak pengantin baru, kapan pun dimana pun bisa menjadi peraduan terindah untuk mereka. Mumpung Azrian tak ada, pikir mereka.


Setelah lama beradu peluh dan ******* hingga mencapai puncak nirwana bersama, mereka pun terkulai lemah dengan posisi Talita yang tidur di atas sofa, sedangkan Arga terduduk lemah di dekat ujung kaki Talita. Mereka sama-sama menetralkan nafas yang masih memburu dan detak jantung yang masih tak karuan.


Tiba-tiba saja...


Tok...tok ..tok...


Pintu depan di ketuk orang dari luar. Sontak Talita dan Arga tersentak kaget hingga mereka duduk tegak.


"Mama...papa... aku pulang!!!" suara Azrian menyeruak ke telinga mereka.


Dengan kecepatan turbo, Arga dan Talita segera membereskan baju mereka yang berserakan di lantai dan berlari ke beda arah, Arga berlari ke kamar mandi, sedangkan Talita berlari ke kamar untuk segera memakai kembali bajunya yang sudah ia tanggalkan semuanya tadi.


Beralih keluar rumah Arga, tampak Azrian bersama enin dan akinya menunggu untuk di bukakan pintu.


"Mungkin mereka lagi pergi,Rian, soalnya gorden jendelanya di tutup,pintu pun di kunci." ucap sang aki membuat Azrian memanyunkan bibirnya. Mereka tak akan mengira jika di dalam tengah terjadi huru hara karena ulah si empu rumah yang bermesraan tanpa tahu tempat.