my hero

my hero
Semua tampak baik



Seorang pria yang tengah duduk diantara para tamu terlihat kaget melihat keberadaan kekasih yang selama ini ia cari di tengah acara lamaran adik sepupunya. Hatinya senang bukan kepalang saat tatapan mereka bertemu tadi. Namun tanpa ia duga, kekasihnya itu tampak ketakutan bahkan hingga pingsan.


Dialah Arga, baru 4 bulan ia kembali ke Indonesia. Selama itu pula ia berusaha mencari keberadaan kekasihnya. mulai dari tempat kerjanya hingga rumah kos tempat tinggal kekasihnya dulu telah ia datangi, namun semua mengatakan jika Talita kekasihnya itu sudah lama pindah dari kota ini. Dan alangkah senang hatinya ketika ia kembali bertemu dengan orang yang ia cari, disini, di tempat pertunangan adik sepupunya.


Namun sungguh hatinya sakit saat seorang pria dengan sigap membawa kekasihnya itu dengan menyebutnya sebagai istri dari pria tersebut. Apakah perjuangannya harus berhenti sampai disini? segampang itukah kekasihnya melupakan janji yang terucap sebelum ia berangkat dulu? semua pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Talita membuka matanya perlahan, keningnya berkerut menyeimbangkan cahaya yang masuk kesana.


" Akhirnya kamu siuman,sayang!" ujar Fadlan yang duduk disamping Talita.


"Aku kenapa,Kak?" tanya Talita masih dalam mode kebingungan. Fadlan tersenyum kemudian meraih tangan istrinya itu.


" Tadi kamu pingsan,Yang, kamu belum sarapan,kan?!" ucap Fadlan lembut. Perlahan Talita mengingat sesuatu yang membuatnya kaget kemudian tak sadarkan diri tadi. Ekspresi wajahnya seketika berubah membuat Fadlan mengernyitkan keningnya.


" Kamu kenapa? ada yang sakit? atau mungkin sebaiknya kita pergi ke dokter ya!" Talita menggeleng, ia tak mungkin menceritakan apa yang ia lihat tadi pada suaminya, karena ia takut jika hal itu malah membuat rumah tangga yang selama hampir 2 tahun ini ia jalani hancur berantakan.


"Aku baik-baik saja kok,Kak" ucap Talita lemah.


" Kalo gitu sekarang kamu makan dulu,oke?" ujar Fadlan seraya mengambil piring berisi makanan yang sengaja sudah ia bawa saat Talita pingsan tadi.


Talita pun segera menerima suapan sang suami.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Acara pertunangan Dewi pun sudah selesai dilaksanakan saat Fadlan dan Talita bergabung. Saat ini semua tamu tengah menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh keluarga Fadlan.


Fadlan segera menarik Talita untuk menemui keluarga besarnya yang tengah bercengkrama bersama keluarga besar calon suami Dewi. Talita pun mengikuti namun dengan perasaan tak menentu, bahagia dan takut bercampur menjadi satu.


Rasa bahagianya muncul karena melihat sang adik ipar yang tak lama lagi akan melepas masa lajang, sedangkan ketakutannya muncul karena kedatangan masa lalu yang tak ingin ia temui lagi.


"Yang, aku ke depan sebentar, ada telpon dari kantor pusat." bisik Fadlan di telinga Talita yang berhasil menyadarkannya dari lamunan. Talita pun akhirnya hanya menanggapi dengan anggukkan kepala.


Sepeninggal Fadlan, Talita pergi ke halaman belakang menjauh dari keramaian. Kemudian dia duduk di kursi taman dan kembali merenung.


"Hai,Lit!" sapa sebuah suara dari arah belakang membuat tubuh Talita seketika menegang. Suara yang jujur saja pernah ia rindukan, bahkan karena suara itu pula ia pernah terlena dalam satu kesalahan. Sontak ia pun berbalik dan menatap asal suara itu dengan tatapan kaget. Arga, orang yang pernah ia rindukan di masa lalu namun sangat ia hindari di masa sekarang, kini tengah berdiri di depannya dengan senyuman manis yang tak pernah berubah.


"Apa kabar? hmm...nampaknya semua terlihat baik bahkan jauh diatas kata baik, benar begitu?" ucap Arga sarkastik.