my hero

my hero
Ini Adalah Akhirnya



PoV Reni


Namaku Reni Andita Subagja, umurku 20 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ujang subagja dan Euis Sulastri. Bapakku adalah seorang wirausahawan sukses di bidang kuliner, lebih tepatnya beliau memiliki warung bakso yang kini memiliki dua cabang di Bandung.


Saat ini aku tengah menempuh pendidikan S1 keperawatan di universitas negeri ternama di Bandung. Sebuah kebanggaan untukku bisa bersekolah lebih tinggi dibandingkan saudara-saudara sepupuku yang lain. Sedangkan paman dan bibiku dari pihak bapak maupun ibu tidak ada yang mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah.


Hal itu membuatku sering lupa diri.


"Suatu saat nanti, aku pasti bisa dapetin jodoh PNS. Ya...polisi atau tentara mah pasti lebih suka sama aku yang seorang calon perawat." ujarku saat berbincang dengan Dini, sepupu sebayaku anak dari adik pertama bapak.


"Sombong banget kamu,Ren? belum tentu apa yang kamu ucapkan teh jadi kenyataan, jodoh mah Allah yang menentukan, bukan kuliah atau tidaknya seseorang. Siapa tahu aku yang hanya lulusan SMA, jodohnya malah perwira polisi." sanggah Dini.


"Ih mana mungkin atuh, nih ya...jaman sekarang tuh tentara polisi berpangkat prajurit saja nyarinya cewek yang kuliah. Dokter, bidan, perawat. Apalagi perwira atuh ih, kamu teh jangan sok mimpi!!!" senang sekali melihat wajah Dini yang cemberut karena kalah dariku.


Tentu saja aku bukan hanya asal ucap saja. Semua yang ku ucapkan tadi adalah sesuai dengan fakta di sekitarku. Ada yang bilang jika kita ingin dekat dengan aparat maka harus memiliki karir yang baik. Dan kebanyakan dari mereka beristrikan dokter, bidan atau perawat yang bisa menunjang karirnya nanti.


Maka dari itu, aku memaksa bapak untuk kuliah di jurusan keperawatan agar bisa mewujudkan obsesiku itu. Dan ternyata memang banyak dari teman kampusku yang sudah berhasil menggaet aparat-aparat muda.


Malang tak boleh ditolak,mujur tak boleh diraih, usaha bapak mengalami kemunduran. Salah satu karyawan bapak ada yang berbuat licik menggelapkan uang hasil usaha hingga warung bakso bapak satu persatu harus gulung tikar.


"Ren, ibu sama bapak teh mau pulang ke kampung. Disana bapak mau ngurus usaha sayurannya. Kamu teh siap-siap,ya!" Ucapan ibu saat aku baru bangun tidur berhasil membuatku tercengang.


"Ke kampung? rumah kita gimana,bu? trus kuliah aku teh gimana atuh ibu? kan sayang tinggal 4 semester lagi." rengekku menolak ajakan ibu pindah ke kampung halaman bapak yang jauh dari peradaban.


"Rumah kita ini kan sekedar ngontrak, sedangkan yang di kampung, itulah rumah kita pribadi. Terus kuliah kamu, ya masih lanjut atuh, tapi tetap kita harus pulang kampung. Kamu bisa bolak balik kesini. Atau kalo enggak, kamu teh bisa ngekos bareng temen kamu disini."


Wow...enggak bisa, aku gak bisa membiarkan orang tuaku pulang kampung, banyak obsesi yang ingin aku wujudkan disini. Jika aku hidup di kampung, maka kehidupanku akan terisolir dari dunia. Bahkan mungkin jodoh aparat yang aku harapkan akan semakin jauh dari jangkauan. Karena yang aku tahu, pemuda di kampung hanya lulusan rendahan, paling keren mereka hanya bisa jadi buruh pabrik.


Akhirnya mau tak mau aku harus ikut pindah ke kampung halaman bapak. Waktu kuliahku yang hanya senin sampai jum'at saja membuatku lebih leluasa pulang pergi ke kota.


* * * * *


Tak terasa waktu demi waktu ku lewati disini hingga menginjak setahun. Jenuh rasanya, karena disini aku tak memiliki teman yang bisa ku ajak hang out. Rata-rata gadis seusiaku disini sudah menikah dan memiliki anak.


Saat aku membuang rasa jenuh di hari Sabtu dengan membaca buku di teras rumah, tiba-tiba mataku membelalak karena melihat sesosok pria berseragam loreng datang dengan tas ransel di punggungnya ke rumah di seberang rumah bapak.


Aku pun segera berlari mencari ibu.


" Oh...pasti Arga, anaknya pak Rudi."


"Kok Reni baru lihat?"


"Dia memang jarang pulang, sekalinya pulang juga gak pernah kemana-mana. Tapi kalo ketemu dia teh ramah pisan."


Hmmm...ternyata ada juga pemuda berkualitas yang bisa ku jadikan bakal calon suami. Kali ini aku bertekad untuk mendekatinya melalui keluarganya.


* * * *


Misiku berhasil, 2 tahun sudah ku dekati keluarga bakal calon suamiku itu. Meski mas Arga selalu saja bersikap dingin saat kami bertemu, namun hati ibunya sudah berhasil ku dapatkan.


Lagi-lagi kemujuran tak berpihak padaku, alih-alih menolehku, mas Arga malah menikah dengan seorang janda anak satu di Bandung. Namun aku tak patah arang, sebuah pohon bisa goyah jika terus diganggu akarnya. Dalam hal ini aku terus mempengaruhi ibunya mas Arga agar membenci menantunya, tentu saja dengan cara elegan.


Hari ini mas Arga akan datang bersama istri dan anak sambungnya. Sedari pagi aku membantu bu Sari -ibunya mas Arga- mempersiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan mereka. Terlihat sekali kebencian bu Sari pada menantu dan cucu sambungnya saat mereka datang, misiku berhasil.


Di ruang makan terjadi konflik saat secara terang-terangan bu Sari menyuruh istri mas Arga mengambil alat makannya sendiri dan terus memujiku. Mungkin karena itu,Anak sambung mas Arga membuat bu Sari marah dan mengoceh.


Namun entah kenapa mas Arga malah mengeluarkan pernyataan jika anak itu adalah anak kandung yang dulu ia telantarkan. Hebat, rasa sayang terhadap anak tiri saja sudah sebesar itu, apalagi pada anak kandung.


Prok...Prok...Prok....


"Hebat kang Arga, saking sayangnya sama anak ini sampe ngarang cerita kayak gitu segala...wow makin salut saya sama akang!" ucapku.


Bukannya merasa senang, mas Arga malah membentakku dan menyebutku sebagai orang luar. Memang sih ucapannya tak salah, tapi aku tak terima. Selama ini aku yang menemani ibunya saat ia tak kunjung pulang.


Sesuatu yang tak bisa membuatku berkutik adalah sebuah surat pernyataan dari sebuah rumah sakit yang disodorkan oleh mas Arga.


Disana tertulis bahwa memang benar anak itu adalah darah daging pria yang telah lama ku incar ini.


Tubuhku seketika serasa tak bertulang, pupus sudah harapanku untuk bisa jadi istrinya. Aku pun berjalan gontai menjauh dari kehidupan keluarga ini saat semua fokus mengurus bu Sari yang tak sadarkan diri.


Hah...


Sepertinya aku harus terima nasib jika suatu saat nanti ada pemuda kampung yang hanya buruh pabrik datang melamarku. Atau aku harus pergi dari sini agar obsesiku menjadi istri aparat bisa ku wujudkan? Entahlah!!!