my hero

my hero
Menguak Tabir



"Apa maksudmu,Ga?"Tanya pak Rudi.


Arga menghela nafas berat dan menyimpan sendok yang ia pegang di piring kemudian menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Jika aku bilang kalo Azrian adalah darah dagingku, apa kalian percaya?" tanya Arga.


Reni tertawa terbahak mendengar pertanyaan Arga.


"Ya tentu bapak sama ibu teh gak akan percaya atuh,kang, mana mungkin akang punya anak tiba-tiba sebesar ini sedangkan nikah aja baru setahun kemarin?" ucap Reni masih terkekeh. Talita menatap tak suka padanya.


"Tolong kamu diam,Ren, kamu hanya orang luar disini." sentak Arga membuat Reni diam ketakutan.


"Ya jangan marah sama Reni atuh, dia tuh bener, ucapan kamu tadi teh ngaco, ibu tahu kamu teh cuma pengen ngebela anak gak tahu sopan santun ini kan?" sahut bu Sari membela Reni.


"Kalo aku bilang aku bicara jujur, kalian percaya?" tanya Arga serius. suasana mendadak hening, hanya ada suara isak Azrian yang tengah menangis di pelukan sang ibu.


"Bercanda kamu teh gak lucu atuh Arga!!!" bentak bu Sari hendak berdiri namun urung karena pak Rudi berhasil menahannya.


"Tenang dulu,bu, kita dengarkan dulu penjelasan Arga. Bapak yakin jika kamu sudah berhasil bapak didik agar punya rasa tanggung jawab,Ga, termasuk mempertanggungjawabkan apa yang kamu ucapkan barusan." Pak Rudi menjeda ucapannya."Jadi tolong sekarang kamu jelaskan apa maksud ucapanmu tadi pada kami." sambung pria berusia 56 tahun itu tegas.


Sesaat Arga menoleh ke arah istrinya yang juga tengah menatapnya. Kemudian ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya hati-hati, seakan menggambarkan rasa takut yang kini mendera hatinya.


Ditatapnya kembali kedua orangtuanya bergantian sebelum menjawab pertanyaan sang ayah.


"Aku yakin jika sekarang aku bicara maka kalian akan sangat marah padaku, pak...bu..."


"Katakanlah!!" tegas pak Rudi.


"APA????" pak Rudi, bu Sari dan Reni serempak berteriak.


Arga pun menceritakan semua kisah dirinya dan Talita, termasuk saat dirinya harus kehilangan hak disebut sebagai ayah kandung Azrian dalam dokumen anak itu, karena nama almarhum Fadlan yang sudah bertahta disana.


Ia pun menceritakan bagaimana akhirnya ia bisa membujuk Talita menikah dengannya karena rasa benci ibu dari anaknya itu padanya.


"Ya...itulah kenyataannya. Aku minta maaf pak, karena aku gagal jadi laki-laki bertanggungjawab. Aku hampir saja kehilangan kesempatan berkumpul dengan anakku sendiri." Arga mengakhiri ceritanya dengan air mata yang terus meleleh di pipinya. Talita menggenggam tangan suaminya, seakan ingin memberi kekuatan pada pria yang bertahta di hatinya ini.


Kedua orang tua Arga hanya diam membisu, tak ada kata yang keluar dari bibir mereka. Sedangkan Reni yang merasa kaget bukan main, mencoba mematahkan segala ucapan Arga tadi.


Prok...Prok...


Reni tepuk tangan memecahkan keheningan. Semua mata di ruang makan itu serempak beralih padanya.


"Hebat kang Arga, saking sayangnya sama anak ini sampe ngarang cerita kayak gitu segala...wow makin salut saya sama akang!" ucap Reni.


Arga mengerutkan keningnya, tak terima dengan ucapan Reni yang jelas-jelas hanya orang luar namun selalu jadi provokator sejak tadi. Begitu pun Talita, ingin rasanya ia marahi gadis itu andai ia tak ingat dimana ia berada saat ini.


"Apa buktinya kalo memang anak ini adalah darah dagingmu? bisa saja istri kamu bohong demi mendapatkan perhatian kamu?" tanya bu Sari sinis. Arga terkekeh pelan.


"Kalau memang dia punya niat seperti itu, sudah pasti sedari awal dia akan menuntutku,bu, tapi kenyataannya jika aku tak mencari fakta sendiri maka dia tak akan mengakuinya. Dia bersikeras bilang jika Azrian anak Fadlan yang dulu adalah suaminya." ucap Arga dengan menatap Talita.


Wajah Reni memerah menahan geram di hatinya. Pria yang sungguh sangat ia harapkan ternyata punya cara sendiri untuk menolaknya.


"Sudah ku duga semua pasti tak akan percaya, maka sebagai bukti, akan ku berikan ini pada kalian." kata Arga menyodorkan sebuah amplop panjang bertuliskan nama sebuah rumah sakit pada bapaknya.