
"Semua sudah selesai,mas.....semua sudah selesai semenjak mas mencampakkan aku. Semua pesan yang ku kirimkan dulu tak pernah mas jawab. Aku menunggu selama berbulan-bulan pun tak pernah ada kabar atau sekedar kata sapaan darimu. Se..setidak penting itu aku di hadapanmu,mas!!!" ucapan Talita tempo hari masih saja terngiang dalam ingatan Arga hingga membuat dirinya sering kena hukuman karena tak konsentrasi saat latihan di batalyonnya.
"Untuk saat ini semua itu sudah tidak penting, saya dan anak saya sekarang sudah bahagia, biarkan kami menjalani hidup kami dengan tenang." kata-kata ini juga yang masih mengganggu pikiran Arga.
'Apa maksud kata-katanya itu? pesan apa? lantas kenapa dia bilang semua sudah tidak penting sekarang?' batin Arga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Ma...mamama.." ucap Azrian dengan suara serak mencari ibunya saat ia baru bangun tidur. Talita yang sedang duduk di ruang tengah apartemennya sambil membaca novel segera menyimpan novelnya diatas meja kemudian berlari ke arah kamar anaknya.
"Eh.... anak mama udah bangun, zrian mau mimi?" sapa Talita seraya mendekati Azrian. Balita itu menggapai sang ibu yang sudah memberikan pusat nutrisi padanya dan segera ia lahap.
" Assalamualaikum... surganya ayah!!" seru Fadlan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Talita.
"Lho? ayah kok udah pulang? emang udah jam makan siang ya?!" ujar Talita kaget.
"Belum sih... aku cuma kangen sama kalian, terutama sama kamu." ucap Fadlan setengah berbisik tepat di dekat telinga Talita membuat si empunya merinding.
"Apa sih,Kak?!" ujar Talita dengan pipi yang sudah memerah. Fadlan terkekeh kemudian mencium puncak kepala istrinya yang tengah menyusui bayi gembulnya.
Azrian tampak kembali tertidur pulas setelah kenyang melahap Asi ibunya. Talita bergerak perlahan hendak menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa dengan memangku laptop.
"Kak!" panggilnya.
"Hmm.." jawab Fadlan menanggapi panggilan istrinya tanpa memalingkan wajahnya dari laptop.
"Makan kamu boleh?" tanya Fadlan tersenyum jahil. Semburat merah di pipi Talita kembali terlihat.
"Apa sih,Kak, tengah hari bolong juga kok pikirannya ngeres sih?" ucap Talita malu-malu. Fadlan menarik pinggang istrinya itu dengan perlahan namun pasti. Hingga kini posisi mereka sangat dekat tanpa jarak.
"Aku beneran kangen berat sama kamu, makanya aku izin pulang tadi." ucap Fadlan dengan suara serak menahan hasrat yang memenuhi pikirannya.
"Kenapa? gak biasanya kakak kayak gini?" tanya Talita mengusap lembut pipi suaminya. Tanpa menanggapi pertanyaan sang istri Fadlan segera melancarkan serangannya dengan me****t bibir ranum istrinya.
Talita pasrah menerima perlakuan lembut suaminya itu. Hingga akhirnya Fadlan berhasil menuntaskan hasratnya setelah pergumulan mereka selama 30 menit.
"Jangan pernah tinggalin aku,Lit!" ucap Fadlan memeluk erat tubuh istrinya yang masih sama-sama mengatur nafas kelelahannya. Talita yang mendengar ucapan Fadlan merasakan ada sesuatu yang suaminya itu sembunyikan. Tidak biasanya ia mengucapkan kata-kata seperti itu meskipun setelah mereka bercinta.
"Ada apa?" tanya Talita menatap lekat wajah suaminya. Fadlan membuka matanya yang sejak tadi ia tutup. Pandangan mereka saling bertemu.
"Tadi 'Dia' datang ke kantor, menanyakan tentang Azrian" jawab Fadlan dengan wajah sendu.
Deg...
Talita bangkit terduduk sambil memegang selimut yang menutupi tubuh polosnya setelah pertempuran bersama Fadlan tadi.
"Lantas apa yang kakak ucapkan?" tanya Talita gusar. Fadlan ikut bangkit, direngkuhnya tubuh Talita.
"Aku bilang yang sesungguhnya padanya." ucap Fadlan kemudian mencium puncak kepala istrinya itu. Sontak Talita menatapnya tak percaya.