
"Azrian anak saya,Tante!" seru Arga. Serempak semua mata yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah datangnya suara.
"Siapa anda?" tanya ayah Fadlan menatap Arga tajam. Arga mencoba tersenyum meski jantungnya serasa bertalu tak karuan.
"Nama saya Arga,Om!" jawab Arga. Fadlan bangkit dan segera mendekati Arga yang masih berdiri di ambang pintu apartemen nya.
"Tolong,Mas, ini masalah rumah tangga saya, tolong mas jangan ikut campur!" ucap Fadlan setengah berbisik sengit.
"Saya harus ikut campur karena Azrian mulai dipertanyakan identitasnya." jawab Arga tak kalah sengit.
"Biarkan Kak, biar dia jelaskan apa maksud ucapannya tadi." kata mama Fadlan menengahi perdebatan Arga dan Fadlan.
"Tapi Ma, ini urusan rumah tanggaku, tak seharusnya orang lain ikut campur di dalamnya." sergah Fadlan.
"Fadlan....duduk!!!" perintah Ayah Fadlan. Fadlan pun hanya mendengus seraya kembali duduk di tempatnya semula.
"Nak Arga, silahkan duduk, lantas jelaskan pada kami apa maksud ucapanmu tadi!" ucap Ayah Fadlan mengalihkan pandangannya pada Arga.
Meski dengan sedikit gugup, Arga pun menuruti ucapan Ayah Fadlan. Semua mata mengarah padanya, termasuk Fadlan yang menatapnya tajam.
Dengan tegas dan sesekali di iringi helaan nafas dalam,Arga pun bercerita dari awal ia mengenal Talita hingga akhirnya ia harus pergi dinas tanpa tahu jika Talita tengah mengandung anaknya.
Dua pasang manusia paruh baya itu memperhatikan semua penjelasan Arga tanpa ada yang menyela. Terlihat sekali tampang mereka yang kaget akan kenyataan sebenarnya. Bahkan ibu Talita sudah beribu kali mengusap air matanya.
"KURANG AJAR....JADI KAMU YANG SUDAH MERUSAK MASA DEPAN ANAKKU HAH???" bentak Bapak Talita seraya berdiri dan menarik kerah baju Arga.
"Pak...sabar Pak!!!!" seru sang istri mencoba menenangkan.Fadlan dan ayahnya pun ikut melerai.
"Se..semu..a sa..salah saya,Pak!" Arga terbata-bata karena lehernya tercekik.
"Tolong...maafkan saya" ucapnya lagi.
"Ada apa ini?" suara Talita tiba-tiba saja terdengar di tengah konflik. Matanya terbelalak saat melihat bapaknya tengah menarik kerah baju Arga dalam keadaan emosi.
"Mas Arga?" ucapnya lirih menatap Arga. Kemudian tatapannya ia alihkan pada sang suami demi meminta penjelasan.
"Tunggu!!!!" Ayah Fadlan menahan langkah Fadlan dan Talita. "Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan ini sebelum semua permasalahan ini selesai!!!" sambungnya tegas
Kening Talita semakin berkerut dalam, ia pun menatap mata sang suami yang memeluknya erat.
"Kak...ada apa sebenarnya? kenapa mas Arga ada disini dan kenapa ibu juga mama menangis? Ada apa ini Kak?"
"Mereka sudah tahu semuanya,Lit."
"Maksudnya?" Talita semakin bingung.
"Mereka sudah tahu siapa sebenarnya Azrian, anak kita."
Kedua netra Talita membola dengan kolam air mata yang segera terisi penuh, menatap mata sang suami.
"Maaf.." ucap Fadlan menundukkan wajahnya dihadapan Talita yang kemudian berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
Talita berjalan gontai mendekati Bapak dan Ibunya kemudian berlutut dihadapan mereka. Ditatapnya wajah sang Ibu yang tengah menangis lirih.
"Bu.." ucapnya mencoba mengalihkan pandangan sang ibu yang tak mau menatapnya,begitu pun Bapaknya.
"Pak... maafin Lita, Pak!" Talita menaruh kepalanya dipangkuan sang ayah kemudian menangis.
"Belum cukupkah kamu membuat kami malu,nak? Belum cukupkah kamu memberi kami luka selama ini?" ucap sang ayah lirih.
Talita semakin mempererat pelukannya di kaki sang ayah dan menangis.
"Maaf pak, maaf...hiks hiks...maaf" hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya saat ini.
"Sebaiknya kamu ceraikan istrimu,kak!" ucap mama Fadlan yang sedari tadi hanya bisa menangis. Fadlan kaget bukan kepalang mendengar ucapan sang ibu.
"Ma...apa maksud mama? sampai kapanpun aku gak akan pernah menceraikan Talita,Ma." ucap Fadlan tegas.