my hero

my hero
Jatuh



Hari ini Talita tengah mengajak 2 adiknya yang datang dari kampung untuk berjalan-jalan di taman sekitar apartemen tempat tinggalnya. Lusi adik perempuannya kini tengah mengajak Azrian bermain ayunan. Sedangkan Ridwan, adik bungsunya tengah asyik duduk di kursi pinggiran taman sambil memainkan game di hpnya.


Talita sendiri? saat ini ia duduk di kursi taman yang menghadap ke sebuah kolam ikan buatan yang tampak jernih dengan berbagai jenis ikan berlalu lalang didalamnya. Dia kini tengah mengawasi anak semata wayangnya yang sedang asyik bermain bersama tantenya.


Tanpa Talita sadari, seseorang kini duduk disampingnya, ikut mengamati tingkah Azrian yang sedang bermain.


"Anak itu mengingatkan ku akan masa kecilku." ucap orang itu. Sontak Talita menoleh ke arah lawan bicaranya. Dan betapa kagetnya ia, saat melihat Arga dengan pakaian lorengnya tengah duduk sambil mengamati Azrian putranya.


"Kamu....?" ucap Talita kaget. Arga tersenyum, namun tak melepaskan pandangannya dari Azrian yang saat ini sedang berlarian di tengah taman.


"Apa yang kamu lakukan disini, Mas?" lanjutnya.


Arga menoleh, menatap Talita intens.


"Aku ingin bertemu dengan anakku,Lit!" jawab Arga tegas namun lembut terdengar. Talita seketika terbelalak mendengar ucapan Arga.


"Maksud Mas?" tanyanya mencoba menutupi kekagetannya.


Arga tersenyum sambil terus menatap Talita.


"Aku tahu Azrian adalah anakku, darah dagingku. Jangan coba kau tutupi lagi,Lit!" ucap Arga.


"Engga, Azrian anakku, aku yang selama ini bersusah payah mengandungnya, bertaruh nyawa melahirkannya, dan begadang setiap malam demi menyusuinya. Dia anakku,Mas?!" sergah Talita dengan emosi sampai air matanya ikut mengalir di pipinya tanpa terasa.


"Lalu siapa ayah dari Azrian?" tanya Arga lagi.


Deg...


Seketika Talita membisu, tak bisa berkata apapun.


"Jawab,Lit!" Hardik Arga membuat Talita sedikit berjengkit.


"Te..tentu saja suamiku adalah ayah dari Azrian." ucapnya gugup.


Arga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian ia mengeluarkan hp yang akan menjadi bukti kebenaran ucapannya.


"Lantas...apa maksud dari pesan yang kau kirimkan ini?" Arga menyodorkan hp itu pada Talita.


Talita terbelalak melihat semua pesan yang ia kirimkan dulu masih tersimpan dengan rapih di hp mantan kekasihnya itu. Mulutnya mungkin bisa berbohong, tapi tidak dengan matanya yang seketika digenangi air kemudian mengalir membasahi pipinya saat ia membaca satu persatu pesan yang ia kirimkan pada Arga dulu. Luka yang telah lama ia jahit rapih kini terbuka kembali. Kenangan pahit saat dulu ia tahu Azrian tumbuh di perutnya kembali muncul.


"Itu....itu..." hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Talita karena sesaat kemudian terdengar teriakkan Lusi memanggilnya.


"Teteh...(panggilan kakak perempuan dalam bahasa sunda) tolong, Teh!!! Azrian jatuh dari ayunan!" ucap Lusi sambil berlari menggendong Azrian yang tampak terkulai lemah.


Serempak Arga dan Talita berlari menghampiri Lusi dengan cemas.


"Kenapa bisa sampai begini? apa yang kamu lakukan?" bentak Talita pada Lusi.


"Sudah sudah,,, kita bawa dulu Azrian ke rumah sakit supaya bisa langsung ditangani dokter." ucap Arga yang kini sudah mengambil alih Azrian. Dengan cepat ia membawa balita yang sedang pingsan itu menuju rumah sakit dengan mobilnya beserta Talita tentunya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suasana rumah sakit saat ini sangat mencekam, terutama di UGD dimana Azrian tengah ditangani dokter. Talita duduk di kursi tunggu depan UGD sambil terus terisak. sedangkan Arga menunggu dengan gelisah, ia mondar mandir di depan pintu UGD dengan wajah cemas.


Tak lama kemudian Fadlan datang dan langsung menghampiri Talita.


"Yang, bagaimana keadaan anak kita?" tanya Fadlan. Tanpa menjawab, Talita langsung menghambur ke dalam pelukan Fadlan dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku gak tahu,Kak! dokter masih di dalem, aku takut Azrian kenapa-napa, Kak!" ucapnya


Deg...


Hati Arga seakan di pukul sesuatu melihat kemesraan dua orang dihadapannya.


'Harusnya aku yang disana,Lit, menenangkan mu dalam pelukanku' batin Arga bergejolak.


Kemudian pintu UGD terbuka dan dokter keluar dari sana. Arga segera menghampiri dokter itu,


"Dok, bagaimana keadaan anak kami?" tanyanya.


"Anda keluarga bayi Azrian?" ujar dokter itu. Arga menganggukkan kepalanya. Fadlan dan Talita pun segera menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Azrian anak saya,dok?" tanya Fadlan.


"Keadaannya baik, hanya saja terdapat luka benturan di kepalanya. Kita tunggu apabila saat siuman nanti langsung muntah-muntah, berarti terjadi gegar otak dan kita harus segera melakukan pemeriksaan lanjutan." ucap dokter menjelaskan.


"Apa Kami bisa masuk,Dok?" tanya Talita lirih.


" Untuk saat ini belum boleh, suster sedang memastikan Azrian baik-baik saja saat siuman nanti. kalo begitu saya permisi dulu." jawab dokter yang kemudian berpamitan.


10 menit berlalu,,, hanya tangisan Talita yang terdengar selama itu. Fadlan tak lepas memeluk dan menenangkan istrinya itu sedari ia datang.


"Jadi... kapan kau akan menjelaskan semuanya padaku,Lit?" Arga membuka suara.


Pandangan Fadlan dan Talita serempak beralih padanya.


"Apa maksud Mas?" ucap Talita serak efek menangis sedari tadi.


"Tentu saja tentang Azrian." ucap Arga lagi. Fadlan menatap wajah istrinya seakan meminta penjelasan.


"Tak ada yang bisa aku jelaskan lagi,Mas, Azrian itu anakku dan suamiku. tak bisa terbantahkan lagi." ucap Talita tegas. Fadlan tersenyum mendengar perkataan istrinya.


"Lalu... bisa kau jelaskan semua isi pesan yang kau kirim ke email ku ini?" sergah Arga seraya menyodorkan hp yang sedari tadi ia pegang dan menjadi bukti kuat dugaannya selama ini bahwa Azrian adalah anak kandungnya. Kedua mata Fadlan membulat, begitu pun Talita, kaget akan pertanyaan Arga.