my hero

my hero
Penyelesaian



"Lalu... bisa kau jelaskan semua isi pesan yang kau kirim ke email ku ini?" sergah Arga seraya menyodorkan hp yang sedari tadi ia pegang dan menjadi bukti kuat dugaannya selama ini bahwa Azrian adalah anak kandungnya. Kedua mata Fadlan membulat, begitu pun Talita, kaget akan pertanyaan Arga.


"Itu...itu..." ucap Talita terbata-bata tanpa bisa menjawab pertanyaan yang Arga lontarkan.


"Mmmm... mungkin kalian perlu waktu berdua saja untuk membicarakan ini." ucap Fadlan sambil melepas dekapan tangannya dari Talita.


"Enggak,Kak, gak ada yang perlu kami bicarakan lagi. Ku mohon kakak tetap disini." pinta Talita.


"Lit, tidak baik menyimpan masalah terlalu lama, semua harus segera diselesaikan. Dan aku yakin, keberadaan ku disini tidaklah baik untuk penyelesaian masalah kalian." ujar Fadlan.


"Tapi Kak....!!!" Talita menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas menatap suaminya.


"Aku ikhlas,Lit, selesaikan dulu semua masalah di masa lalumu." kata Fadlan menangkup kedua pipi istrinya.


Hati Arga sungguh sangat sakit melihat kemesraan pasangan suami istri di depannya itu. Namun sebagai seorang abdi negara, ia sudah di latih untuk tak menunjukkan rasa sakitnya itu pada siapa pun.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Arga dan Talita kini sedang duduk di bangku taman rumah sakit, sedangkan Fadlan masih setia menunggu Azrian di UGD.


15 menit dalam keheningan, tak ada seorangpun yang mau membuka suara duluan. Arga menatap wajah perempuan yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya itu dengan seksama seakan tak ingin melepas momen yang tak lagi bisa ia dapatkan.


"Jadi... bisakah kau mulai menjelaskan semuanya,Lit?" tanya Arga akhirnya membuka suara. Talita terhenyak, luka yang benar-benar susah payah ia tutup rapat kini harus kembali ia buka perlahan.


Talita menghela nafas, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menjelaskan.


"Namanya Azrian Alfat Nugraha, lahir tanggal 12 oktober 2019, tepatnya ia lahir setelah 8 bulan ayah kandungnya pergi tanpa kabar sama sekali." ucap Talita dengan suara bergetar. Arga masih menyimak tanpa ingin mendebat, meski ingin sekali bibirnya melontarkan kata-kata pembelaan.


"Memang benar semua pesan itu Lita kirim sama mas, berharap mas akan kembali untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Tapi setelah Lita tunggu hingga 2 minggu lamanya, hp mas gak pernah aktif. Hiks hiks... jujur saja saat itu pikiranku sudah buntu,mas, hampir saja Lita nekad mengakhiri hidup Lita beserta janin yang Lita kandung saat itu." Talita menghela nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Beruntung kak Fadlan yang notabene adalah manager di tempat kerjaku, mau menolong dan mengakui janin yang ku kandung itu sebagai anaknya. Bahkan ia mau menerima perlakuan orang tuanya juga orang tuaku yang kecewa akan dosa yang sebenarnya tak pernah ia perbuat.hiks...hikss..."


"Itu artinya... saat aku berangkat dulu, kamu sudah mengandung Azrian,Lit, kenapa kamu gak pernah bilang sama aku Lit?" ucapnya dengan nada bergetar.


"Lita baru tahu setelah pulang dari batalyon, Mas!" jawab Talita masih terisak.


"Maafkan aku,Lit, andai saja waktu bisa ku putar, aku tak akan merusak mu sebelum sah menjadi milikku, dan andai hp ku tak pernah ku berikan pada Tiara, mungkin aku akan segera pulang untuk mempertanggungjawabkan semuanya, dan pasti saat ini kita masih bersama membangun keluarga kecil bahagia." Talita mengerutkan keningnya mendengar penuturan Arga.


"Siapa Tiara?" tanya Talita.


"Dia adik sepupuku, saat dulu pelepasan mas tugas luar, ia datang dan meminjam hp mas untuk selfie. Tanpa sengaja hp itu jatuh dan tak bisa beroperasi lagi. Sampai-sampai Tiara menangis merasa bersalah." tutur Arga.


"Jadi...perempuan yang aku lihat meluk mas saat itu adalah adik sepupu mas?" Arga mengerutkan keningnya.


"Ya jadi saat itu aku datang kesana bermaksud ikut upacara pelepasan, tapi saat itu Lita terlambat hingga akhirnya cuma bisa lihat dari gerbang. Jujur saat itu hati Lita sakit melihat mas meluk seorang perempuan sambil tersenyum manis." Arga terkekeh


"Mas juga lihat kamu sedang menangis di bawah pohon beringin di seberang asrama. Ingin mas loncat turun dan memelukmu saat itu, apa daya mas terkurung aturan." ujar Arga.


"Aku minta maaf Lit, mendengar begitu perihnya perjuanganmu saat mengandung Azrian, mas sungguh merasa bersalah." Arga menghela nafas sesaat. "Kali ini mas ikhlas melepas kalian di tangan yang tepat. Aku yakin kalian akan bahagia." lanjutnya.


"Hanya satu pintaku,Lit"


"Apa?"


"Izinkan aku untuk bisa bertemu dengan Azrian, darah dagingku. meskipun kelak ia hanya akan memanggilku om, aku ikhlas. Dan..."


"Dan?" Talita mengernyitkan keningnya menunggu kelanjutan ucapan Arga.


" Jika suatu saat nanti kamu merasa tak bahagia, tanganku selalu terbuka untuk menyambutmu."