
Beberapa tahun kemudian, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun berlari masuk ke dalam sebuah rumah dengan seragam merah putih yang menempel di badannya serta tas punggung yang setia menemani.
"Rian, jangan lari-lari,nak, pelan-pelan aja jalannya!" teriak sang ibu setelah memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Dialah Talita yang baru saja menjemput anak semata wayangnya dari sekolah.
"Rian gak sabar buat nunjukin raport Rian ke papa,ma!" teriak Azrian tanpa melambatkan langkah kakinya menuju rumah. Talita hanya menggelengkan kepalanya tanpa banyak protes lagi.
"Pa...papa...papa dimana sih?" Azrian berteriak memanggil papanya.
"Papa di belakang,sayang!!" teriak seorang pria dari arah halaman belakang. Azrian pun berlari mengikuti arah suara.
Di halaman belakang, tampak seorang pria berperawakan tinggi dan tegap tengah membersihkan rumput yang tumbuh disana.
"Pa, Rian dapet nilai bagus lho kali ini, Rian juga berhasil jadi rangking 2 di kelas!" seru Azrian penuh semangat seraya mengacung-acungkan buku raport di tangannya.
Pria itu menoleh kemudian tersenyum lembut ke arah Azrian.
"O ya? pintar sekali anak papa nih, nanti ya, papa cuci tangan dulu, sekarang Rian masuk, ganti baju dulu, nanti kita ngobrol di dalem, oke?" Azrian mengangguk antusias, kemudian berlari ke arah kamarnya.
"Mas, kok ada di rumah? bukannya lagi korpe?" tanya Talita. Pria itu yang tak lain adalah Arga, menoleh sesaat namun kembali fokus mencuci tangannya di wastafel.
"Udah beres, makanya mas lanjut korpe di rumah, rumput di halaman belakang udah pada tinggi." Talita hanya menanggapi dengan memanyunkan bibirnya membentuk huruf O, kemudian berlalu ke kamar hendak berganti pakaian.
Sesaat kemudian, Talita keluar kamar dan terpaku melihat seberapa dekat Azrian dengan papanya. Sesekali ia ikut tersenyum saat melihat mereka berdua tengah bercanda. Sedikit rasa nyeri yang telah berlalu empat tahun lalu kembali hadir di hatinya. Air matanya mengalir seketika mengingat masa masa terberat nya itu.
**Flashback Empat Tahun Lalu
POV Talita**
"Mohon maaf,pak, ternyata perkiraan saya selama ini menjadi kenyataan. Sel-sel berlebih di kelenjar prostat anda ternyata sudah berkembang menjadi kanker,pak!" penjelasan dokter Hamdan bagai petir di siang bolong buatku. Suamiku yang selama ini selalu menyembunyikan rasa sakitnya, malah tersenyum.
Ku pandangi wajahnya dengan sendu.
"Untuk pengobatan lanjutan, mungkin bukan hanya suntikan anti hormon lagi,pak! Untuk kali ini saya menganjurkan anda untuk menjalani kemoterapi untuk mematikan sel-sel kanker." sambung dokter Hamdan.
"Memangnya sejak kapan suami saya menjalani pengobatan,dok?" tanyaku penasaran. Dokter Hamdan tampak mengernyitkan keningnya, mungkin heran dengan pertanyaan ku yang tak tahu sama sekali tentang keadaan suami selama ini.
Dokter Hamdan terlihat menoleh ke arah suamiku. "Mmm...memangnya selama ini bapak tidak cerita sama ibu soal sakitnya?"
Aku menggelengkan kepala karena memang tak tahu apa-apa.
"Dari diagnosa pertama ditemukan adanya varikokel atau varises di alat vitalnya. Namun setelah pemeriksaan lanjutan ternyata terdapat pertumbuhan sel berlebih di kelenjar prostatnya,bu. Makanya kami melakukan terapi suntik anti hormon untuk mencegah terjadinya kanker." Semakin sesak dadaku mendengar penjelasan dokter Hamdan barusan.
Ya Allah...istri macam apa aku ini? saat suamiku berjuang melawan sakit, aku malah tak tahu apa-apa.
Sesampainya di rumah, ku peluk tubuh suamiku yang kini terasa sedikit kurus dari biasanya.
"Kamu kenapa? gak biasanya manja kayak gini?" tanya kak Fadlan. Tak kuat menahan sesak, aku pun terisak di dadanya.
"Hei...ditanya bukannya jawab, kok malah nangis?" seloroh suamiku.
"Kamu jahat,Kak! hal sepenting ini kamu sembunyikan dariku selama ini. Hiks...hiks...kamu jahat!" ku pukul-pukul pelan dadanya, berusaha melampiaskan rasa kesal yang membuat dadaku sesak.
"Kok jahat sih? kalo aku jahat, aku gak akan meluk kamu kayak gini, nyium kamu kayak gini, yang ada kalo aku jahat, aku pasti pukul kamu atau mungkin lebih kejam dari itu." ujarnya.
"Ya tapi kamu sembunyiin sakit kamu. Mana ucapan kamu yang katanya mau berbagi dalam suka maupun duka? selama ini kamu hanya berbagi suka denganku, membahagiakanku dan Azrian, mendengar keluh kesahku, sedangkan duka mu sendiri kamu telan bulat-bulat tanpa mau berbagi denganku."
Kak Fadlan malah tersenyum mendengar ocehanku.
"Sayang...sejak awal aku nikah sama kamu, aku sudah punya tekad untuk selalu menciptakan senyuman di hari-harimu. Aku paling gak suka melihat setetes saja air mata kesedihan meluncur dari matamu. Makanya waktu aku tahu soal kondisiku, aku jadi berpikir kalau ternyata sumber kesedihanmu adalah aku. Makanya aku bertekad untuk tak memberitahu siapapun tentang ini sampai waktunya tiba nanti." wajahnya jadi berubah sendu dan serius. Kaca-kaca di matanya hampir retak namun dengan sigap ia mencegahnya agar tak membuatku khawatir.
"Kak, jangan seperti ini. Aku sudah berjanji untuk setia padamu, selalu ada untukmu saat sukamu, sedihmu, sehat mu, ataupun sakit mu. Jadi berjanjilah untuk terbuka padaku soal apapun yang kakak rasakan! berjanjilah untuk berjuang kembali sehat demi aku dan Azrian. Kami masih sangat membutuhkanmu. Berjanjilah,kak!" rengekku menguatkan pelukan di tubuhnya.
"Iya sayang...aku janji!" jawabnya tersenyum.
"Ngomong-ngomong Rian kemana? kok dari tadi gak kelihatan?"
"Tadi sebelum ke rumah sakit, sengaja aku minta mama ngambil Rian kesini. Kan sekarang gak boleh bawa anak kecil ke rumah sakit." jawabku. Kak Fadlan hanya menjawab dengan anggukkan.
"Aku ke dapur dulu,ya, mau ambil makanan buat kamu. Setelah makan, kakak langsung minum obat. oke?" ujar ku hendak beranjak ke dapur.
"Kok kesannya aku udah pesakitan banget,ya? sampe makan aja dibawain kesini. Aku masih bisa jalan ke meja makan,sayang!" protesnya lalu ikut beranjak mengikuti langkahku.
"O iya, aku lupa, kamu kan cowo paling strong,ya?!" gurauku mencoba menyembunyikan kesedihan karena mengingat penyakit yang kini bersarang di tubuh suamiku.
Setelah selesai makan dan meminum obat, kak Fadlan pamit untuk tidur padaku. Ku pandangi wajah teduhnya yang selama ini selalu memberikan kenyamanan untukku. Tanpa ku sadari air mataku sudah meluncur deras. Pikiran jelekku sesekali melintas, bagaimana jika suatu saat nanti ia menyerah dengan sakitnya? kemana aku harus berlari? pada siapa aku harus mengeluh seperti selama ini yang ku lakukan pada suamiku? namun segera ku tepis semua pikiran itu.
"Jangan menyerah,Kak! Kamu harus kuat!" sekuat tenaga ku tahan isakanku agar tak mengganggu tidurnya.