
Pak Rudi menerima kemudian membuka amplop itu. Dibacanya dengan seksama isi di dalamnya yang ternyata adalah hasil tes DNA Azrian yang menyatakan bahwa anak itu adalah anak kandung Arga.
Rahangnya mengeras,nafasnya sedikit memburu menahan amarah.
"Jadi...selama ini kamu menyembunyikan rahasia sebesar ini pada kami?" geram pak Rudi. Mendengar ucapan suaminya, bu Sari segera merebut kertas dari tangan suaminya. Seketika ia menutup mulutnya dengan tangan dan menangis tersedu. Reni pun bereaksi memeluk bahu bu sari kemudian mengusapnya pelan.
"Apa maksudnya ini teh Arga? ibu gak nyangka kamu bisa senakal ini sampai punya anak sebelum nikah, hiks...hiks...lebih parahnya kamu teh gak tahu kalo kamu udah ngehamilin anak orang? gagal pak, ibu teh ternyata gagal ngedidik anak kita!!!" ucap bu Sari histeris sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Bu!!!!" pekik semua orang. Arga dan pak Rudi serempak bangkit dan berlari ke arah bu Sari. Arga pun segera membawa bu Sari ke kamar untuk direbahkan diatas tempat tidurnya.
* * * * *
Setelah setengah jam akhirnya bu Sari membuka matanya.
"Bu..."panggil Arga. Bu Sari menoleh, matanya bergerak mencari sesuatu atau mungkin seseorang.
Bu Sari tiba-tiba terisak saat matanya menemukan sosok menantunya yang tengah berdiri di samping tempatnya tidur.
"Bu...ibu kenapa?" tanya pak Rudi panik. Begitu pun Arga dan Talita yang sama paniknya.
"Lita...hiks...ibu minta maaf, ibu banyak salah sama kamu. Ibu sudah menyebutmu wanita yang hanya ingin memanfaatkan anakku selama ini. Hiks...ibu minta maaf...ibu minta maaf" ujar bu Sari masih menangis.
Bola mata Talita seakan hendak loncat dari tempatnya saat mendengar ucapan ibu mertuanya tadi. Bagaimana tidak, sang ibu mertua yang sedari awal ia menikah dengan Arga tak pernah memperlihatkan wajah ramah padanya kini tengah menangis meminta maaf padanya.
Kemudian Lita menoleh pada suaminya meminta pendapat. Arga mengangguk, berdiri memberi ruang agar istrinya bisa mendekat pada sang ibu.
Talita pun duduk dan menggenggam tangan ibu mertuanya.
"Ibu jangan bilang gitu,bu!" ucapnya.
"Bu..." kata Lita mencoba menenangkan ibu mertuanya.
"Ibu tahu, ibu gak pantas dimaafkan,Lit...hiks... Azrian..." bu Sari memanggil Azrian yang saat ini tengah bersembunyi di balik tubuh papanya sambil sesekali mengintip ke arahnya.
"Azrian sini sayang, nenek minta maaf" ucap bu Sari.
"Rian sini duduk sama mama, nenek pengen deket sama kamu." ajak Talita membujuk Azrian yang akhirnya mau mendekati.
Bu Sari langsung memeluk erat cucu yang selama ini selalu dia anggap asing dan biasanya ia hardik jika mendekat. Diciuminya seluruh wajah Azrian.
Suasana haru tercipta di ruangan tiga kali tiga meter ini. Tak henti ucapan syukur terucap terutama di hati Arga yang selama ini sangat mengharapkan orang tuanya bisa menyayangi anak dan istrinya.
"Tolong kalian jangan dulu pulang, beri ibu kesempatan untuk lebih dekat dengan cucu ibu."
"Insya allah kami akan 3 hari disini,bu, ibu bisa sepuasnya main sama Rian." jawab Arga.
"Besok kita main ke kebun sama abah,ya?! Rian mau?" tanya pak Rudi sambil mengusap rambut Azrian.
Tak henti bu Sari dan pak Rudi berebut menarik perhatian Azrian dengan berbagai cara. Talita dan Arga tersenyum melihat semua itu.
"Terima kasih,mas!"
"Untuk?"
"Semuanya, mas sudah kembali memberikan keluarga yang utuh untuk Azrian. Setelah sebelumnya ia ditinggalkan kakek neneknya dari pihak kak Fadlan." lirih Talita.
"Jangan berterima kasih, karena memang disinilah Azrian bernaung." jawab Arga mencium puncak kepala istrinya.