my hero

my hero
Harusnya



"Assalamualaikum..." Arga datang dari arah depan rumah bercat hijau pupus itu dengan pakaian dinas lengkap,menandakan bahwa ia baru saja pulang.


"Waalaikumsalam" jawab Talita dengan senyum sumringah menyambut suaminya dan segera mencium punggung tangan sang suami.


"Lagi apa? tumben nongkrong di teras?" tanya Arga seusai mengecup puncak kepala istrinya.


"Lagi pengen aja, mas, soalnya di dalem gak ada temen. Nih sambil baca buku masakan." jawab Talita seraya memperlihatkan sebuah buku yang tengah dipegangnya.


"Iss...mau masak enak nih kayaknya?"goda Arga.


"Iya dong, kan bentar lagi udah mau puasa, jadi kan harus cari resep baru, biar gak bosen menu buka sama sahurnya itu-itu melulu.!" Arga hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Setelah membuka sepatunya, Arga segera masuk ke dalam rumah diikuti Talita.


"Mau mandi dulu atau mau makan?" tanya Talita.


"Mau kamu, boleh?" Arga mengerlingkan matanya jahil. Seketika rona merah keluar di pipi Talita. Meski sudah sering Arga menggombalinya sejak menikah setahun lalu, namun entah mengapa hal itu selalu membuat pipi Talita merona.


"Jangan aneh-aneh, bentar lagi Azrian pulang." ucap Talita pura-pura marah.


"Ayolah!" Arga memeluk Talita dari belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Drrrttt... Drrrttt...


Getaran hp yang ada di saku Arga berhasil merusak suasana. Dengan muka tertekuk, Arga mengeluarkan hpnya. Sedangkan Talita yang merasa punya kesempatan segera menjauh dari jangkauan sang suami.


Arga menoleh ke arah Talita yang juga tengah menatapnya. Talita mengangkat dagunya seakan bertanya 'siapa yang nelpon?'


"Mama..." bisik Arga kemudian menggeser ikon warna hijau di hpnya.


"Assalamualaikum ma! mama apa kabar?" sapa Arga.


"Alhamdulillah Arga sekeluarga sehat,ma"


"Bentar lagi kan mau puasa, kamu gak ada niat buat pulang kampung dulu?"


"Pasti,Ma, kebetulan Arga sekarang sedang mengajukan cuti. Mudah-mudahan di ACC komandan,ya!"


"Aamiin... Mama kira kamu sudah lupa sama orang tuamu disini. Soalnya sudah lama kamu gak pernah nelpon." ucap bu Sari terdengar merajuk.


"Mana mungkin seperti itu,Ma, o ya...Mama mau ngobrol sama menantu mama? Lita kangen katanya sama mama,lho!" ujar Arga berseloroh.


"Gak usah," ketus bu Sari yang berhasil merubah raut muka Talita menjadi sedih.


"ya sudah, syukur kalo memang kamu sehat. Sudah dulu,ya, mama mau masak dulu." sambungan telpon pun langsung di putus bu Sari begitu saja tanpa mengucap salam.


Arga segera merengkuh bahu istrinya dan menarik ke dalam dekapannya.


Seakan mendapatkan jalan, air mata yang sedari tadi Lita bendung, akhirnya meluncur jua.


"Mama masih saja gak suka sama aku,mas. Aku salah apa?" lirih Lita dalam isaknya.


"Sstt..kamu gak salah apa-apa, mama hanya belum sadar seberapa baik istriku ini. Suatu hari nanti mama akan menerima kamu dengan tangan terbuka. Kamu yang sabar,ya?!" ucap Arga mengusap surai hitam sang istri.


"Harusnya dulu kamu gak nikahin aku,Mas. Harusnya kamu terima gadis yang mama jodohkan sama kamu." Arga marah mendengar ucapan Lita. Ia tak terima mendengar nada pasrah dalam kata-kata Lita tadi.


"Kamu tuh ngomong apa sih? Bagaimana bisa aku menerima gadis lain sedangkan hatiku sudah dibawa oleh seorang karyawati bioskop 8 tahun lalu bernama Talita Anindya. Gimana aku bisa hidup dengan orang lain, sedangkan jantungku seakan sudah berhenti berdetak saat kamu dimiliki orang lain." ucap Arga geram dan tanpa sadar sudah mencengkram erat bahu istrinya itu.


"Aww..sakit,mas!" Talita meringis. Arga segera melepaskan tangannya saat mendengar ringisan sang istri.


Tanpa bicara, Arga berlalu ke arah kamar mandi meninggalkan Talita yang menangis tergugu.