my hero

my hero
Mencurigai



"Hai,Lit!" sapa sebuah suara dari arah belakang membuat tubuh Talita seketika menegang. Suara yang jujur saja pernah ia rindukan, bahkan karena suara itu pula ia pernah terlena dalam satu kesalahan. Sontak ia pun berbalik dan menatap asal suara itu dengan tatapan kaget. Arga, orang yang pernah ia rindukan di masa lalu namun sangat ia hindari di masa sekarang, kini tengah berdiri di depannya dengan senyuman manis yang tak pernah berubah.


"Apa kabar? hmm...nampaknya semua terlihat baik bahkan jauh diatas kata baik, benar begitu?" ucap Arga sarkastik. Talita hanya bisa duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan membuang pandangannya kembali ke depan.


"Ngomong-ngomong selamat ya atas pernikahan kamu, gak nyangka ternyata penantianku selama 18 bulan di luar sana kalah sama orang lain." sambung Arga masih dengan sarkastik nya. Spontan Talita berbalik menatap Arga dengan pandangan tak percaya setelah mendengar kata-kata Arga tadi.


Talita yang hendak menjawab ucapan Arga, terhenti saat melihat mama mertuanya mendekati dengan membawa Azrian.


"Lita sayang, maaf mama ganggu, ini tadi Azrian bangun, kayaknya pengen mimi." ujar mama mertua Talita kemudian kembali ke dalam setelah menyerahkan bayi gembul itu pada gendongan Talita.


"Anak mama udah bangun? mimi dulu yuk sayang." ucap Talita mencium gemas pipi gembul anaknya itu seakan melupakan bahwa Arga masih berdiri terpaku didepannya. Dengan langkah pasti Talita hendak berlalu ke arah gazebo didekatnya, namun secepat kilat Arga menahan langkah Talita.


"Tunggu, ini anakmu?" tanya Arga. Deg... hati Talita seakan dipukul benda keras saat menyadari jika saja Arga pasti akan mengenali wajah anaknya yang teramat sangat mirip dengan Arga.


"Te..tentu saja ini anakku." jawab Talita gugup. Arga tertegun,pandangannya tak pernah lepas dari wajah Azrian, bayi yang sedang berada digendongan Talita.


Hatinya menghangat saat bayi itu menggapai tangannya dan tersenyum padanya. Senyum yang menurutnya sangat mirip dengannya.


"Siapa ayah dari anak ini?" akhirnya pertanyaan ambigu itu keluar dari mulutnya.


Wajah Talita memanas, pertanyaan itu berhasil membuat hatinya menciut. Ia takut jika Arga tahu siapa ayah kandung anaknya maka ia akan dijauhkan dari buah hati semata wayangnya itu.


"Jawab aku Lit!!" ujar Arga. Talita berjengkit tersadar dari lamunannya.


" Ap..apa maksudmu? tentu saja suamiku adalah ayah dari anakku." ucap Talita berusaha membiasakan nada bicaranya. Dengan segera ia berbalik hendak meninggalkan Arga, namun Arga kembali mencekal tangannya.


"Tunggu,Lit, ini belum selesai!" ujar Arga.


"Semua sudah selesai,mas.....semua sudah selesai semenjak mas mencampakkan aku. Semua pesan yang ku kirimkan dulu tak pernah mas jawab. Aku menunggu selama berbulan-bulan pun tak pernah ada kabar atau sekedar kata sapaan darimu. Se..setidak penting itu aku di hadapanmu,mas!!!" ucap Talita lirih sambil beruraian air mata.


Arga tertegun mendengar semua kata yang Talita ucapkan.


"Aku bisa jelaskan semuanya,Lit!!!" ucapnya.


"Tidak, terima kasih bapak Arga yang terhormat. Untuk saat ini semua itu sudah tidak penting, saya dan anak saya sekarang sudah bahagia, biarkan kami menjalani hidup kami dengan tenang." ucap Talita tanpa sengaja menyiratkan sebuah fakta bahwa perkiraan Arga tentang anaknya adalah benar.


"Apa maksudnya kalian sudah bahagia? jadi...jadi apa benar jika anak ini adalah anakku?" tanya Arga, Talita terkesiap menyadari kebodohannya. Wajahnya pucat pasi saat Arga menatapnya dengan tatapan menusuk.


"Tentu saja bukan," seru seseorang dari arah belakang Arga mendekati mereka.


"Azrian adalah anak kami, bagaimana anda bisa berpikir jika ia adalah anak anda?" sambungnya. Dialah Fadlan yang lagi-lagi berhasil menyelamatkan Talita dari kekalutan cercaan pertanyaan Arga.