
POV Author
"Sayang, gimana kalo kita ajak Azrian jalan-jalan ke taman kota? aku bosan kalo harus terus diem di rumah." Fadlan mendekati Talita yang tengah mencuci piring bekas mereka sarapan tadi.
"Memangnya kakak udah kuat kalo harus jalan jauh?" tanya Talita.
"Udah sayang..!!!" jawab Fadlan sambil menjawil hidung istrinya.
Selama dua minggu ini, Fadlan istirahat dari segala aktifitas. Bahkan Talita melarangnya untuk sekedar berjalan-jalan di halaman rumah.
Fadlan pun sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai manager bioskop saat tahu bahwa penyakitnya semakin parah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Azrian begitu senang saat kedua orang tuanya membawa ia pergi keluar rumah. Bocah tiga tahun itu berlari kesana kemari memainkan semua permainan yang ada di taman kota.
"Seneng banget lihat Rian lincah kayak gini. Saat dia besar nanti, tolong bilang sama dia kalo ayahnya sayang banget sama dia." Fadlan tersenyum dengan pandangan kosong ke arah Azrian berlari.
"Kamu ngomong apa sih,Kak?! Kamu bilang aja sendiri sama dia, nanti saat dia besar." sanggah Talita gusar. Fadlan tersenyum lembut menatap ke arah istrinya.
"Kan kita gak tahu, umur manusia tuh akan sampai mana. Aku takut, aku akan pergi sebelum anakku tumbuh besar." ujarnya lirih.
Talita menangis,dipeluknya lengan Fadlan dengan erat.
"Kamu pasti kuat,Kak! kita akan melihat anak kita tumbuh besar bersama."
"PAPA..!!!" Azrian berseru sambil berlari merentangkan tangan ke arah pintu masuk taman. Serempak Talita dan Fadlan menoleh ke arah anaknya berlari. Mereka tahu betul, siapa yang dimaksud 'papa' oleh anak 3 tahun itu.
Arga tampak kaget, ia yang hendak joging di taman ini pun terpaku sesaat namun segera berlutut merentangkan tangannya menyambut kedatangan Azrian yang segera menubruknya.
Semenjak kejadian 2 tahun lalu, memang Arga diperbolehkan untuk selalu menemui Azrian dan membahasakan diri sebagai papanya Azrian.
"Hai...anak ganteng ternyata lagi main disini,ya? Kok kebetulan banget sih kita ketemu?" Arga menjawil hidung Azrian disambut kekehan anak super aktif itu.
"Aku lagi main cama ayah, cama mama,Pa, tapi aku cuma main cendili. Ayah lagi cakit, jadi aku gak ada temen." Sesaat Arga menoleh ke arah Talita dan Fadlan saat Azrian menunjuknya.
"Kalo papa ikut main, boleh?" tentu saja Azrian langsung bersorak kegirangan mendengar usulan tersebut.
"Oke, sekarang kita izin dulu sama mama, sama ayah juga ya?!" Azrian mengangguk, kemudian menuntun Arga berjalan mendekati orangtuanya.
"Selamat pagi...kebetulan banget kita ketemu disini? Gimana kabarnya sekarang,Kang?" ucap Arga menyapa kedua orang tua Azrian.
"Alhamdulillah saya baik,mas, sudah agak mendingan, makanya kita jalan-jalan kesini biar gak suntuk di rumah." jawab Fadlan dengan senyum hangatnya. Mereka memang se-akrab itu sekarang. Saling memanggil dengan kata sapaan kekeluargaan satu sama lain, 'Kang' dan 'Mas'.
"Sendiri aja,mas?" tanya Fadlan.
" Sendiri, kebetulan teman-teman di asrama pada pulang ke rumah masing-masing. Jadi...ya beginilah nasib jomblo." jawab Arga sedikit berkelakar, disambut tawa ringan dari Fadlan. Sedari tadi, Talita yang berada di tengah mereka hanya menanggapi dengan senyuman tanpa mau ikut bergabung dalam obrolan.
"Pa...ayo katanya mau main cama aku!!!" rengek Azrian menari-narik tangan Arga.
"Oke...oke...tapi izin dulu sama ayah, sama mamamu, boleh gak? kalo boleh baru kita main, oke?" Sontak anak itu beralih menatap kedua orangtuanya.
"Tapi kan,mas, mau joging? jangan sampe acara olahraganya terganggu gara-gara Azrian lho,mas?!" ujar Talita akhirnya buka suara.
"Boleh ya ma!!!" rengek Azrian. Talita berbalik ke arah suaminya seakan meminta izin lewat tatapannya. Fadlan yang mengerti pun menganggukkan kepalanya,
"Boleh sayang...sana ajak papa main!!" sahutnya sambil tersenyum.
"Holleee!!! ayo pa, kita main?!" Arga pun segera berlari mengikuti tarikan tangan Azrian setelah pamit dari dua orang yang tengah duduk di bangku taman tersebut.
"Seneng banget lihat Rian bisa berlarian sambil tertawa seperti itu." ucap Fadlan menatap ke arah Azrian yang tengah bermain bersama Arga.
Sedikit informasi tentang Arga, sampai saat ini pria itu masih sendiri meski usianya hampir memasuki kepala tiga. Meski tak jarang orang tuanya bertanya 'kapan nikah?' dan tak jarang pula berusaha menjodohkannya dengan gadis-gadis di kampungnya, Arga tetap bergeming. Ia berpikir, jika nanti ia menikah, maka istrinya itu harus mau menerima Azrian yang notabene adalah anaknya meski secara status kenegaraan, Fadlan lah yang menjadi ayah untuk Azrian.
Bahkan saat teman-teman satu lettingnya telah berkeluarga dan meninggalkannya di asrama remaja sendirian, ia pun tak masalah. Lebih ironisnya lagi, saat ini ia dijuluki remako (remaja kolot/tua) oleh para juniornya di asrama.
Kembali ke taman kota...
Talita memandang anaknya yang tengah bermain bersama Arga dengan tatapan yang entah seperti apa. Haru dan kesal bercampur aduk menjadi satu. Ia terharu karena melihat kedekatan Azrian dengan Arga, ia sadar ternyata memang darah lebih kental dari pada air. namun ia pun kesal mengingat bagaimana dulu, ia hampir saja melenyapkan Azrian yang masih berbentuk janin di perutnya saat Arga tak merespon semua kabar yang ia berikan dulu.
"Kamu kenapa,sayang?" tanya Fadlan membuyarkan lamunan Talita. Talita tersentak,ia pun segera menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah meluncur di pipinya dan mengalihkan pandangan pada suaminya.
"Euh...gak papa,Kak." jawabnya singkat. Fadlan meraih tangan Talita dan menggenggamnya.
"Jika suatu saat nanti aku tiada, kembalilah padanya,Lit, aku ikhlas!" Talita tersentak, reflek ia tarik tangannya dari genggaman Fadlan.
"Apa maksudmu,Kak? Kamu gak akan kemana-mana, kamu janji akan selalu ada buat aku dan Azrian,kan?" ucap Talita terisak. Fadlan tersenyum dan kembali menggenggam tangan istrinya.
"Aku tahu, tapi aku gak bisa janji. Aku akan berusaha selalu semangat untuk sembuh, tapi itu semua kembali pada izin yang maha kuasa." jawab Fadlan tenang.
Talita segera menghapus air matanya melihat sang anak berlari menghampiri mereka.
"Ma, Lian pengen minum." rengek anak itu. Talita pun segera memberikan botol air minum yang sengaja ia bawa dari rumah.
Arga menghampiri mereka bertiga dan ikut duduk di bangku yang sama.
"Kamu senang hari ini,boy?" tanya Fadlan mengacak rambut Azrian.
"Lian ceneng, Yah, tadi papa ajalin Lian main bola." jawab anak laki-laki itu semangat.
"Good boy, kamu harus tumbuh jadi anak kuat nanti ya, biar bisa jaga mama kamu kalo ayah gak ada nanti." ucap Fadlan lagi,membuat Talita kembali berwajah suram.
"Kak..!!" tegur Talita. Fadlan tersenyum menanggapi rengekan istrinya yang tengah marah padanya. Kini pandangannya beralih pada Arga yang ada disampingnya.
"Mas, boleh saya minta tolong sesuatu?" sontak Arga menoleh.
"Boleh, selama saya bisa, saya pasti tolong." jawab Arga.
"Tolong jaga anak dan istri saya saat nanti saya tiada, bisa kan mas?" Arga diam, tatapannya terpaku pada wajah Fadlan yang seakan memohon padanya. Diliriknya Talita yang kini menangis tergugu mendengar permintaan suaminya.
"Mas, bisa?" tanya Fadlan lagi.
"Insyaallah saya bisa, tanpa di minta pun, saya akan selalu ada buat kalian. Kang Fadlan tenang saja, fokus untuk sembuh, agar bisa menjaga anak istrinya tanpa bantuanku" jawab Arga tersenyum.
"Ma kasih,mas, saya lega sekarang!" ujar Fadlan. Mereka pun kembali ke tempat masing-masing setelah lama mereka berbincang ngalor ngidul,meski lebih banyak Fadlan yang bebicara seakan memberi pertanda sebelum kepergiannya, karena sebulan kemudian Fadlan berpulang, menyerah pada ganasnya penyakit yang bersarang di tubuhnya.