
Saat ini tak terhitung berapa banyak rasa yang hinggap di hati Talita. Senang, bingung, gugup bercampur menjadi satu. Kedua Tangannya tak henti saling meremas,pandangannya sengaja ia bebaskan keluar jendela mobil yang tengah ia tumpangi.
Ya... saat ini Talita tengah berada didalam mobil Fadlan yang mengarah ke apartemen laki-laki itu. Sesekali Fadlan menolehkan kepalanya pada Talita, ia menyadari jika saja sejak tadi gadis yang kini telah menjadi calon istrinya itu tengah merasa gugup.
Tangan kiri Fadlan terulur menggapai punggung tangan Talita yang terasa dingin.
"Semuanya akan baik-baik saja,sayang!" ucapnya kemudian kembali fokus menyetir.
"Aku gugup,Kak, apa yang akan orang tuamu katakan nanti padaku. Pasti mereka akan sangat membenciku." ujar Talita dengan genangan air dimatanya yang sedikit lagi akan tumpah.
"Itu tidak akan terjadi, kalaupun itu terjadi, maka aku akan selalu berada disisi mu." kata Fadlan berusaha menenangkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Talita dan Fadlan saat ini tengah duduk berhadapan dengan kedua orang tua Fadlan. Ketegangan menyeruak di seluruh ruangan. Talita masih saja menundukkan kepalanya.
"Inikah yang namanya Talita?" tanya mama Fadlan memecah keheningan membuat Talita mengangkat wajah yang sedari tadi ia tundukkan.
" Iya Tante, saya Talita." jawab Talita singkat. Mama Fadlan beranjak dari duduknya kemudian mendekati gadis itu dan duduk disampingnya. Di usapnya punggung Talita lembut, membuat si empunya terkesiap kaget.
"Maafin atas semua kesalahan Fadlan ya, sayang. Tante gak nyangka dia bakal sejauh ini memperlakukan seorang wanita." ucap mama Fadlan. Kening Talita mengernyit, diliriknya Fadlan untuk sesaat. Dengan tatapan tenang Fadlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seakan mengatakan semua baik-baik saja.
"Enggak, tante, ini juga kesalahan saya. Saya yang harusnya minta maaf sama Tante, saya sudah merusak masa depan kak Fadlan, saya juga sudah mencoreng nama baik keluarga Tante." ucap Talita lirih.
" Sudah sudah.... sekarang kita kembali ke rencana awal kita untuk segera melamar Talita." ujar ayah Fadlan yang sedari tadi bungkam. "Sekalian saja kamu minta maaf sama mereka karena sudah mengecewakan mereka." sambungnya seraya menatap Fadlan dengan tajam.
Talita melirik Fadlan dengan tatapan seakan meminta pertolongan. Fadlan tersenyum seakan mengerti apa yang Talita khawatirkan. "Fadlan siap,yah!" ucapnya seraya menganggukkan kepala tanda kemantapan ucapannya.
"Ya udah, tunggu apalagi... sebaiknya kita harus berangkat sekarang." kata ayah Fadlan.
"Iya, lebih cepat lebih baik karena semakin lama perutmu akan semakin membesar dan itu tidak akan baik untuk kalian." jawab ayah Fadlan.
Talita masih dalam mode kagetnya, pikirannya berkecamuk antara kaget,bingung, dan belum siap melihat reaksi kekecewaan kedua orang tuanya. Namun dengan lembutnya Fadlan mengusap punggung tangan Talita untuk memberikan energi positif padanya. Sesaat tatapan mereka bertemu,
"Gak papa sayang, aku akan selalu di sisimu apapun yang terjadi." ucap Fadlan.
Akhirnya mereka berangkat menuju kediaman orang tua Talita. Sepanjang perjalanan Talita yang duduk di samping ibu Fadlan hanya diam seraya memandangi pemandangan diluar mobil. Hanya sesekali ia menjawab pertanyaan dari calon mertuanya itu yang mencoba memecah keheningan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Satu jam sudah Talita memandangi wajah kecewa kedua orang tuanya. Guratan kesedihan terpancar dari mereka, terutama ibunya. Sangatlah terlihat genangan air mata yang sedari tadi beliau tahan agar tak menjadi tangisan. Dengan lihainya sosok perempuan paruh baya itu menyembunyikan kesedihannya dibalik senyuman yang sedari tadi trus ia tampilkan.
"Jadi bagaimana,pak? kapan sebaiknya kita nikahkan kedua anak kita ini?" tanya ayah Fadlan di sela perbincangan mereka. Ayah Talita tampak termenung,sesekali ia menatap anak perempuannya dengan tatapan tak terbaca.
"Saya ingin bicara secara pribadi dengan anak saya terlebih dahulu, baru nanti saya akan mengabari bapak dan ibu soal waktu pernikahan mereka." jawab ayah Talita.
"Baiklah,pak...kalau begitu kami sekeluarga pamit. Terima kasih atas kesediaan bapak dan ibu menerima kami dan memaafkan kesalahan anak kami." ucap ayah Fadlan pamit.
Sesaat setelah kepergian keluarga Fadlan, keadaan rumah Talita tampak mencekam. Sosok yang sedari tadi menyembunyikan kesedihannya kini tak bisa lagi menahan tangisannya. Begitu pun dengan ayah Talita, ia hanya menatap putri sulungnya itu dengan tatapan tak terbaca.
"Kami kehilangan anak kebanggan kami yang selama ini selalu taat beribadah dan selalu bisa menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Entah kemana ia sekarang, seorang anak yang tak bisa melihat kami bersedih apalagi kecewa. Kami kehilangan Talita anak kebanggan kami." ucap ayah Talita seakan bermonolog dan tak menganggap Talita ada.
Mendengar ucapan ayahnya barusan, seketika tangis Talita pecah. Begitu pun tangisan sang ibu terdengar semakin pilu. Talita bersimpuh di depan kedua orang tuanya, bersujud mencium kaki ibunya.
"Bu, maafin Lita,bu,, Lita udah ngecewain ibu sama bapak, Lita udah bikin kalian menangis. Maafin Lita pak, bu...hiks..hikss" ucap Talita lirih seraya menangis tersedu-sedu.