my hero

my hero
Hambatan



Ceklek... akhirnya pintu di buka oleh Talita yang kini sudah kembali rapih.


"Lho, ternyata kamu ada di rumah? Ibu kira kalian lagi pergi." ucap Ibu Talita heran.


"Mama... aku kangen!" Azrian memeluk mamanya.


"mmm..itu, tadi aku nonton drakor di kamar, jadi gak tahu kalo ada yang ngetuk pintu. Ayo masuk bu,pak!" jawab Talita yang sebenarnya sedikit tak masuk akal.


"Trus kenapa gorden pake di tutup segala?" tanya sang ibu yang masih saja penasaran.


"Ibu nih kayak yang gak pernah muda saja, harusnya ibu ngerti dong!" sahut bapak Talita menimpali.


"Maksud bapak?" bukannya menjawab, sang bapak malah mengerlingkan mata memberi tanda pada istrinya agar melihat ke sekeliling.


Masih tampak kekacauan disana. Bantal sofa yang berserakan dan posisi sofa yang sedikit tak beraturan menjadi tanda jika pernah terjadi huru hara disini.


Sang ibu mengikuti arah kerlingan mata suaminya dan akhirnya tersenyum.


"Ooo pantes, sepertinya perang ukraina tadi sempat pindah kesini!" Talita terkesiap malu menyadari bahwa orang tuanya tahu apa yang tadi terjadi.


"Aku..bikinin minum dulu ya,bu,pak!" ucapnya lalu berlari ke arah dapur.


Orang tua Talita tergelak melihat tingkah malu-malu anaknya itu.


"Syukurlah, anak kita sudah kembali ceria,bu!" ucap bapak Talita.


"Iya,pak, ibu juga bersyukur. Dulu ibu sempat takut anak kita akan berakhir tragis. Alhamdulillah sekarang semuanya baik-baik saja." balas ibu Talita.


Tak lama kemudian Talita datang dengan membawa baki berisi dua cangkir teh dan toples berisi kue kering buatannya. Arga pun datang menghampiri setelah selesai mandi sudah dengan pakaian dinasnya lengkap.


"Pak, bu!" sapa Arga menyalami kedua mertuanya.


"Maaf sudah repot mengantar Azrian pulang. kalau tahu Azrian akan pulang kan ibu sama bapak tinggal telpon saja. Biar kami yang jemput kesana." sambung Arga kemudian duduk di kursi samping Talita.


"Gak papa, sekalian ibu sama bapak pengen jalan-jalan. Dan lagi kalo bapak sama ibu gak kesini kan jadi gak bisa lihat sisa-sisa perang ukraina yang sempat pindah kesini tadi,ya,bu?!" ucap bapak Talita yang berhasil mendapat senggolan tangan sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah makan siang, Talita dan ibunya tampak tengah membereskan meja makan dan mencuci piring di wastafel. Sementara Azrian tengah asyik memainkan mobil-mobilan kesayangannya ditemani sang aki. Sedangkan Arga sudah sejak tadi kembali ke pos jaga untuk menjalankan tugasnya yang sempat terjeda.


"Apa kamu bahagia,nak?" tanya ibu Talita membuat sang anak menghentikan kegiatannya mencuci piring.


"Maksud ibu?"


"Maksud ibu, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu sekarang?"


"Alhamdulillah Lita bahagia,bu, mas Arga benar-benar bisa membuatku lupa akan semua kesedihan dulu." ucap Talita menerawang jauh.


"Bagaimana dengan mertuamu?" Talita menoleh ke arah ibunya, ditatapnya wajah teduh sang ibu.


"Alhamdulillah mereka baik,bu!" jawabnya ragu.


Bukan tanpa alasan sang ibu menanyakan hal itu pada Talita, melainkan sang ibu tahu jika selama ini mertua Talita sangat tidak merestui pernikahan anaknya itu dengan Arga,terutama ibu mertuanya. Mereka tidak menyukai status Talita yang seorang janda anak satu saat menikah dengan Arga.


Tanpa mereka tahu kalau Azrian sebenarnya adalah darah daging Arga, dan sudah pasti cucu kandung mereka.


"Lit, ibu mohon, jangan lagi kamu sembunyikan apapun dari orang tuamu. Apapun yang kamu alami, apapun yang kamu rasakan, bicarakan pada kami. Sedih ataupun senang."


Talita termenung sesaat,hatinya menghangat mendengar ucapan ibunya seraya merasakan usapan lembut sang ibu di puncak kepalanya.


"Kamu janji,ya,Lit!"


"Apa sih bu, lebay deh?!" ujar Talita berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya.


"Lita...."


"Iya,bu, iya...Lita janji! ma kasih ya,bu, Lita sayang ibu!" jawab Talita memeluk ibunya. Air matanya tak terasa mengalir membasahi pipinya.


"Andai ibu tahu kisah sebenarnya,bu!" batin Talita.