
Ting.... sebuah pesan masuk di hp Arga.
Tiara
Kak hari ini ada giat gak?
Arga
Enggak, kebetulan kakak baru turun piket Ksatrian... ada apa?
Tiara
Kita ketemu ya, sekalian aku mau balikin hp kakak yang aku rusak dulu, tenang aja semua data udah pulih kok.
Arga mengerutkan keningnya, 'hp yang mana?' batinnya. Namun sesaat kemudian ia mengingat sesuatu yang membuatnya sedikit bersemangat.
Oke, kita ketemu
Tiara adalah adik sepupu Arga yang sangat dekat dengannya. Bahkan sering kali kedekatan mereka membuat banyak orang menyangka jika mereka adalah sepasang kekasih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kakak kemana aja sih, lama banget?" gerutu Tiara saat menyambut Arga yang baru turun dari motornya.
" Maaf, tadi Kakak harus izin dulu." jawab Arga.
"Huh... susah banget janjian sama abdi negara,, ribet" ucap Tiara memajukan bibirnya.
Arga terkekeh sambil mengusap puncak kepala adik sepupunya itu.
"Oya, aku udah pesenin bakso buat kita berdua," seru Tiara
"Tahu aja kakak belum makan"
"Cih... aku tahu kalo pun udah makan kakak gak mungkin bisa nolak." cibir Tiara yang langsung disambut tawa Arga lagi.
Saat ini mereka sedang berada di warung bakso favorit Tiara sejak dulu. Jika saja gadis itu tengah merajuk, maka obat paling mujarab adalah bakso yang dibeli dari sini.
"Om sama tante apa kabar?" tanya Arga
"Baik, mereka titip salam buat kakak, sama protes, katanya kakak gak pernah main ke rumah, kayak udah lupa aja." jawab Tiara.
"Enggak gitu, kamu tahu sendiri gimana susahnya kakak kalo mau keluar asrama."
"Oya, sampe lupa... nih hpnya, udah aku perbaiki sampe normal lagi, datanya juga gak ilang kok tenang aja." Tiara menyodorkan benda pipih berwarna hitam ke hadapan Arga.
Arga meraih benda itu sambil mengingat kembali saat Tiara meminjamnya di pelepasan kepergiannya ke Afghanistan dulu untuk mengambil foto selfie. Namun tanpa sengaja hp itu terjatuh dan mati total. Hingga akhirnya Arga dan kedua orangtuanya harus repot menenangkan Tiara yang menangis histeris karena rasa bersalahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arga telah kembali di asramanya. Kini ia tengah duduk di atas tempat tidurnya seraya memandangi hp yang Tiara berikan.
"Liatin terooos sampe tuh hp bisa jalan!!!" seru Rian berhasil mengagetkan Arga.
"Ngapain sih lo,Ga, udah kayak ayam cacingan aja."
"Sialan lo,bang!" umpat Arga. Rian tergelak kemudian merebut hp yang ada di tangan Arga.
Sesaat kemudian hp itu menyala dan terdengar beberapa bunyi notifikasi adanya chat yang masuk.
" Gila ni hp, baru bernyawa aja udah banyak yang chat." ucap Rian. Kening Arga berkerut kemudian dengan cepat ia menyambar hpnya di tangan Ryan.
"Iya...iya... kagak bakalan gue buka," gerutu Ryan kemudian meninggalkan Arga yang tengah autis dengan hpnya.
Sementara Arga kini tengah membuka satu persatu chat yang masuk ke e-mail hp yang sudah hampir 2 tahun berada di tangan Tiara.
Matanya membulat sempurna saat membaca salah satu chat yang berasal dari alamat e-mail yang sudah sangat ia hafal siapa pemiliknya.
'Mas'
'Mas kenapa gak pernah aktif?'
chat pertama yang berhasil ia baca.
'Mas aku hamil, aku harus gimana, kapan mas pulang? aku gak bisa ngadepin semua ini sendirian.'
'Mas????'
'Oke mas, mungkin mas lupa bahkan gak mau ketemu lagi sama aku. Gak papa,mas, mungkin sudah nasibku seperti ini. Terimakasih atas semuanya, terimakasih sudah pernah ada buat aku, terimakasih sudah memberiku kenangan yang tak pernah aku lupakan'
'Aku pamit,mas, biar aku pergi bersama anak kita'
Seketika Arga merasa seakan tubuhnya tak lagi memiliki tulang. Ia tertunduk lesu dengan air mata yang sudah meluncur deras.
"Azrian ternyata memang anakku, dia darah dagingku." ucap Arga dalam isaknya.