my hero

my hero
Bertahanlah



"Tak ada sedikit pun niat Fadlan untuk menceraikan Talita,Ma. Sampai hati mama bicara seperti itu." suara Fadlan meninggi.


"Terus apa menurut kamu yang kalian lakukan sama mama selama ini itu gak sampai hati namanya? dua tahun,kak...dua tahun kalian bohongi kami semua. Mama selama ini selalu berpikir jika mama gagal didik kamu sampai kamu ngelakuin hal yang dilarang agama. Tapi kenyataannya...kalian tega kak!" mama Fadlan tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Semua orang disana ikut terbawa suasana sedih mendengar tangisan mama Fadlan. Begitu pun Talita, sudah tak terhitung deraian air yang keluar dari matanya.


"Maaf...bukan saya ingin memperkeruh suasana, saya hanya ingin meluruskan masalah ini, karena saya tidak mau keberadaan anak saya dipertanyakan. Dan semua ini terjadi karena memang kesalahan saya, jika saja hari itu saya tahu kalau ada janin di rahim Talita, mungkin saya akan meminta penundaan keberangkatan saya dinas ke luar negeri. Dan kemungkinan besar tidak akan ada keluarga yang merasa terbohongi seperti ini." Arga buka suara.


"Jadi kamu mau nyalahin aku,mas? maksud kamu aku gak kasih kabar soal adanya Azrian di perut aku gitu? Hah...wow...pintar sekali alibimu mas!" Sergah Talita tersenyum sinis.


"Bukan seperti itu maksudku..."


"Cukup mas,memang benar katamu tadi, semua ini salahmu. Dari awal emang salahmu,kalau saja saat itu kamu baca semua pesanku, kejadiannya gak akan seperti ini. Kak Fadlan gak harus berkorban dan gak akan ada orang tua yang harus merasa dibohongi. Aku benci sama kamu,mas, AKU BENCI!!!!!" Talita berteriak marah, kemudian limbung dan pingsan.


Melihat itu para orang tua tampak khawatir, dengan segera Agra hendak menolong,namun tangannya berhasil di tepis oleh Fadlan.


"Maaf dia istri saya, anda tidak berhak menyentuhnya." ucap Fadlan sinis, kemudian membopong tubuh Talita dan membawanya ke kamar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua jam sudah Talita tak sadarkan diri. Fadlan dengan setia mendampingi istrinya sambil mengusap lembut punggung tangannya.


Tak lama kemudian Talita tampak membuka mata.


"Akhirnya kamu bangun sayang!" ucap Fadlan penuh kelegaan. Talita menoleh, seketika matanya kembali mengembun.


"Maafin aku,kak, hiks...hiks...maafin aku, karena aku kamu jadi susah kayak sekarang." Talita kembali menangis seperti saat sebelum pingsan tadi.


"Kak.."


"Hmmm..."


"Terima kasih buat semua pengorbanan kakak, jika saja saat itu kakak gak ada, mungkin aku sudah tinggal nama saat ini." ucap Talita lirih.


"Ssssttt... kenapa kamu bilang gitu sayang? aku ikhlas, cintaku buat kamu sebenarnya sudah lama ada. Bahkan mungkin sebelum kamu mengenal pria itu. Tapi hatiku terlalu takut kau akan menolak dan menjauh dariku. Akhirnya takdir menyatukan kita lewat Azrian." Talita tersenyum dengan air mata yang masih meleleh deras.


"Kak, jika saja mama menyuruhmu melepaskan ku, aku ikhlas mas. Aku sadar selama ini hanya menjadi penghambat kebahagiaanmu saja." wajah Fadlan memerah menahan marah, dengan kasar ia menggenggam kedua bahu istrinya dan menatap wajahnya tajam.


"Apa maksudmu? kamu mau tinggalin aku hah?" ujarnya dengan nada meninggi. Talita terkesiap mendengar suami lemah lembutnya kini membentak dirinya.


"Ou....atau jangan-jangan kamu ingin pergi dariku karena kekuranganku,iya? atau kamu pengen kembali pada laki-laki itu? kamu pengen bersatu lagi dengan ayah biologis Azrian? JAWAB!!!!" sambung Fadlan mengguncang tubuh Talita hingga meringis.


"Bu-bukan begitu,kak. Aku hanya tidak ingin kamu jadi anak durhaka hanya karena ingin mempertahankan pernikahan kita." lirih Talita takut.


"Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu cinta sama aku?" Talita menatap mata suaminya yang sedang menatapnya dengan penuh amarah.


"Aku sangat mencintaimu,kak, aku sayang sama kakak, melebihi sayang dan cintaku pada nyawaku." ucap Talita seraya menunduk.


"Lantas, apa pantas kata-katamu tadi keluar jika memang kita memiliki rasa yang sama?" Talita tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku,kak.....hiks...hiks..."


"Dengar sayang, aku tak akan melepasmu dan Azrian dari hidupku. Karena hanya maut yang akan memisahkan kita. Apapun yang akan terjadi, berjanjilah untuk selalu disampingku." Talita menangis haru, ia pun mengangguk.