
Di rumah bu Sari dan pak Rudi, tampak kesibukan yang tidak seperti biasanya. Hari ini bu Sari sibuk memasak mempersiapkan penyambutan kepulangan anak semata wayangnya setelah lama tak pulang.
Berbagai macam makanan kesukaan Arga telah disiapkan. Tak hanya sendiri, bu Sari sengaja mengajak Reni yang kebetulan sedang libur kerja untuk membantunya.
"Kang Arga mau pulang hari ini,bu?" tanya Reni sembari ikut menata makanan diatas meja makan.
"Iya,katanya sih gitu." jawab bu Sari. Mendengar ucapan bu Sari, wajah Reni seketika sumringah. Semakin semangat pula ia membantu mantan bakal calon mertuanya ini.
"Pasti sama anak istrinya ya?" tanya Reni malu-malu.
"Ga tahu, terserahlah dia mau datang sendiri atau sama benalu-benalunya itu, ibu mah gak peduli. Yang ibu peduliin mah si kasep akhirnya pulang juga." jawab bu Sari dengan senyum merekah.
Tak lama berselang, terdengar suara deru mobil berhenti di depan pekarangan rumah bu Sari.
"Tah...sigana si kasep ibu teh udah datang." seru bu Sari lalu bergegas lari ke teras rumahnya dengan suka cita diikuti Reni yang juga ingin menyambut kedatangan mantan bakal calon suaminya itu.
Sedangkan di dalam mobil, Arga tengah membujuk anak laki-lakinya agar mau segera turun menemui abah dan neneknya.
"Come on boy, kita udah sampai!!!" seru Arga. Azrian tetap bergeming seraya melihat ke arah jendela mobil. Dia melihat neneknya sudah siap menyambut di teras rumah. Arga menatap nanar Azrian, kemudian beralih menatap Talita yang kini setali tiga uang dengan anaknya tengah menatap ke luar jendela dengan tatapan tak terbaca.
"Sayang, ayo!" Talita menoleh pada suaminya dan mengangguk dengan cepat. Mereka bertiga akhirnya keluar dari mobil. Arga segera membuka bagasi mobil untuk mengambil barang-barang yang mereka bawa.
"Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga...ibu teh kangen pisan sama kamu!" seru bu Sari menghampiri Arga yang baru saja menurunkan koper terakhir dari bagasi mobilnya.
"Assalamualaikum bu, ibu damang? (ibu sehat?)" tanya Arga sambil mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.
"Alhamdulillah sehat kasep.." jawab bu Sari mengusap puncak kepala anak tunggalnya itu.
Merasa tak dipedulikan, Talita mendekati ibu mertuanya kemudian mengulurkan tangan hendak bersalaman seperti suaminya. Bu Sari hanya menatap menantunya itu sekilas dan menarik kembali tangannya saat Talita hendak menciumnya.
Perlakuan itu tak luput dari pandangan Arga. Ia menatap sendu sang istri seakan meminta maaf atas perlakuan ibunya.
"Bapak kemana,bu?" tanya Arga mengalihkan perhatian.
"Lagi ke kebun bentar, katanya ada pisang matang di pohon, makanya mau di ambil, lumayan buat cemilan." jawab bu Sari. "Hayu atuh masuk!" sambungnya menggandeng tangan Arga tanpa mempedulikan Talita dan Azrian yang sedari tadi mematung seakan tak ada.
"Mm..sebentar bu, Arga bawa barang-barang dulu,ya."
"Hmm..yasudah" bu Sari kembali masuk ke rumahnya.
"Mas...apa aku sama Azrian pulang lagi aja,ya? kayaknya kami gak diharapkan ada disini sekarang." ucap Talita lirih.
"Jangan dong sayang, maafin perlakuan ibu tadi,ya, apapun yang terjadi, kita hadapi bersama. Gak baik kalo kita sama-sama egois seperti ibu." Arga mengusap lembut kepala istrinya yang berbalut hijab.
Talita menoleh ke arah teras rumah mertuanya, tampak seorang perempuan berhijab tinggi semampai ikut menunggu mereka bersama ibu mertuanya.
"Itu siapa,mas?" Arga menoleh ke arah yang ditunjuk istrinya.
"Oo...itu Reni" jawabnya singkat.
Mendengar nama itu, seketika hati Talita merasa tak enak. Firasat buruk tiba-tiba melingkupi hatinya.
"Pa...Rian mau pulang!" rengek Azrian yang sedari tadi diam. Arga menggendong anak umur 8 tahun itu kemudian mencium pipinya.
"Kan udah nanggung nyampe sini, sayang, nanti kita main ke kebunnya abah ya...disana banyak banget buah-buahan kita bisa petik banyak disana, oke?!" bujuk Arga. Azrian menggelengkan kepalanya ia tetap merajuk ingin pulang.
"Papa cape sayang, sekarang kita nginep dulu disini,ya, kan kasihan papa kalo harus pulang lagi." bujuk Talita ikut menimpali.
Setelah sedikit berdebat, mereka pun masuk ke rumah sederhana bercat biru itu.
* * * *
"Ayo kita makan,Ga, ajak istrimu itu sama anaknya sekalian." kata bu Sari menghampiri keluarga kecil Arga yang tengah bercengkrama di ruang tamu bersama pak Rudi yang baru datang sejam lalu dari kebun.
"Terserahlah, yang pasti sekarang kita makan siang, ibu tunggu di meja makan." sanggah bu Sari seraya kembali ke dapur.
"Maafin ibu ya,Lit, dia memang seperti itu tapi aslinya dia baik kok." kata pak Rudi.
"Gak papa,pak, Lita paham." jawab Talita pelan. Azrian masih saja terdiam, ia selalu nempel pada sang ibu seakan takut ditinggalkan.
"Yuk kita makan yuk, Rian mau makan sama abah?" tanya pak Rudi mencoba mendekatkan diri pada Azrian. Azrian menggelengkan kepala sambil memeluk erat mamanya.
"Ayo boy, kita makan, mau papa gendong?" tanya Arga.
"Rian jalan aja bareng sama mama." jawab Azrian lirih.
* * * * *
Di meja makan, bu Sari tampak sudah menunggu. Ia duduk berdampingan dengan Reni yang masih belum pulang.
"Sini,Ga, lihat nih ibu teh masak banyak, dibantuin Reni tadi. Masakan Reni tuh enak banget lho,Ga, sok sini cepet cobain!" seru bu Sari membuat Reni senyum tersipu.
Pak Rudi,Arga,Talita dan Azrian mengambil kursi masing-masing.
"Oya Lit, piringnya cuma ibu siapin empat, kalo kamu sama anak kamu mau makan, ambil sendiri piring sama sendoknya di dapur,ya." Talita melirik suaminya karena kaget dengan ucapan ibu mertuanya.
"Biar aku ambilin.." ucap Arga hendak bangun dari duduk.
"Eng-gak usah,mas, biar aku ambil sendiri." Talita segera beranjak ke dapur yang hanya dibatasi dinding tembok. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk melepaskan sesak di dada karena perlakuan ibu mertuanya.
"Ayo,Ga, cepet makan, ini semua masakan Reni lho...coba kalo dulu kamu teh mau nikah sama dia, sekarang pasti kamu teh bahagia punya istri singel,cantik, pinter masak, masih gadis pula." terdengar celotehan ibu mertuanya yang Lita tahu tengah menyindir status dirinya. Lita berhenti berjalan tepat di belakang pintu dapur. Titik embun meluncur dari kedua matanya.
"Bu, kok masih ngebahas itu sih, Arga sekarang sudah nikah bu, bahagia juga. Jadi jangan pernah ibu bilang seperti itu lagi." ucapan Arga sedikit mengobati hati Lita saat ini. Dengan menguatkan hati, Lita kembali ke meja makan.
Sepanjang makan siang bu Sari terus saja mengagung-agungkan sosok Reni seakan ingin memancing emosi Talita.
"Kamu teh kalo nikah sama Reni udah pasti hidup kamu enak," ujar bu Sari.
"Ah ibu bisa aja." sahut Reni malu-malu.
"Iya bener, tentara itu cocoknya sama perawat seperti kamu. bukan cuma jadi seorang benalu yang bisanya cuma minta."
Triiiinggg...
suara sendok yang beradu dengan piring secara kasar mengagetkan semuanya.
"Nanaonan kamu teh? gak sopan pisan anak kecil teh, orang lagi pada makan ini malah banting-banting sendok kayak gitu!!!" hardik bu sari pada Azrian.
"Pa...Rian pengen pulang, Rian gak mau disini, kasian mama!" ucap anak 8 tahun itu seakan mengerti jika ibunya tengah di bully.
"Rian gak boleh gitu sayang, gak sopan. Ayo minta maaf sama semuanya." ucap Talita sedikit menyentak.
"Ya gitu kalo anak yang bukan dari keturunan sendiri ya,bu, pasti jauh sikapnya dari kang Arga yang selalu sopan dan baik." ucap Reni mengompori.
"Maaf, jika anda tak tahu apa-apa jangan ikut campur!!" hardik Lita menatap Reni tajam.
"Emang bener,kan ucapanku bu?" kata Reni mencari pembelaan bu Sari.
"Reni bener, sikap anak kamu itu gak sopan. Gak pantes dia jadi anak Arga yang baik dan sopan." ujar bu Sari menimpali.
"Azrian anakku,bu, darah dagingku, jadi kata-kata ibu tadi salah besar." geram Arga. Bu Sari, pak Rudi dan Reni sama-sama mengerutkan kening.
"Apa maksudmu,Ga?" tanya pak Rudi.