
Di satu kampung nun jauh disana, seorang wanita paruh baya tampak tengah duduk berselonjor kaki di rumahnya sambil memilah beras diatas tampah yang akan ia bersihkan dari kerikil kecil.
"Assalamualaikum" sapa seorang perempuan berusia 25 tahun yang datang dari luar gerbang rumah mendekati wanita paruh baya tadi.
"Waalaikumsalam, eh...Ren, sok sini masuk!" perempuan bernama Rini itu mendekati kemudian mencium khidmat tangan si ibu.
"Baik,bu... ini saya mau nganterin rantang dari ibu. Tadi ibu bikin lontong sayur."
"Wah...terima kasih"
Rantang itu pun sudah berpindah tangan. Reni duduk di pinggiran teras.
"Ngomong-ngomong kang Arga belum pulang lagi,ya,bu?" tanya gadis itu.
"Belum...semenjak nikah sama si janda gatel itu, Arga seakan lupa sama orang tuanya. Biasanya dia pulang sebulan sekali, sesibuk-sibuknya dia, pasti nyempetin buat pulang. Tapi sekarang, dia sudah berubah." Curhat si ibu yang ternyata adalah bu Sari, ibunda Arga.
"Sabar,bu, mungkin kang Arga lagi sibuk aja makanya gak bisa pulang kesini. Pasti nanti kalo ada waktu, kang Arga pulang kesini sama anak istrinya." ujar Reni dengan senyum tersungging manis.
"Anak darimana? itu kan cuma anak istrinya, Arga belum punya anak. Tapi mau-maunya di suruh ngurus anak orang lain."
Reni terkekeh, "Ibu gimana sih? ya kalo nikah sama janda anak satu, ya konsekuensinya harus mau ngakuin anaknya."
Bu Sari menghela nafas berat.
"Andai saja waktu itu Arga mau ibu jodohkan sama kamu, pasti sekarang ibu gak kesepian karena anak semata wayang ibu gak pulang-pulang."
"Jangan gitu,bu, kami memang gak berjodoh, tapi Reni sudah anggap ibu sebagai ibu kedua Reni kok, jadi Reni bakal sering-sering main kesini nemenin ibu." kata Reni sembari memeluk lengan bu Sari.
"Terima kasih,ya!" balas bu Sari mengelus tangan Reni yang tengah memeluknya.
"Tenang aja,bu, suatu hari nanti anak ibu akan mendatangiku dan mengemis cinta padaku. Jangan sebut Reni jika tak bisa mendapatkan hati anakmu bu Sari." batin Reni dengan senyum licik terlukis di bibirnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Flashback Arga 2 Tahun Lalu
"Assalamualaikum" sapa Arga saat memasuki rumah minimalis bercat hijau tempatnya bertumbuh.
Arga duduk di teras rumah,membuka sepatu dinas yang dipakainya. Setelahnya,ia masuk melalui pintu dapur,karena Arga tahu jika sang ibu lebih sering menghabiskan waktu disana dibanding di ruangan lain.
"Waalaikumsalam.." jawab sang ibu sumringah. Di peluknya tubuh tinggi sang anak yang kini tampak gagah dengan pakaian loreng yang melekat.
"Ibu sehat? ayah belum pulang?" tanya Arga.
"Alhamdulillah ibu sehat, kalo ayah tadi sih bilangnya mau ada acara di kantor dinas, jadi mungkin pulang sore." jawab bu Sari.
Arga adalah anak semata wayang dari pasangan Rudi Hidayat yang berprofesi sebagai kepala sekolah sebuah SD negeri dan Sari Nirmala,seorang ibu rumah tangga yang berperangai lemah lembut namun keras dalam berkemauan.
Sedari kecil Arga dididik untuk tidak manja meskipun ia merupakan anak tunggal. Ia selalu dididik untuk mandiri dan selalu bertanggung jawab. Apapun yang ia lakukan harus ia pertanggungjawabkan.
Karena hal itulah, Arga berhasil tumbuh menjadi seorang laki-laki tegas, berwibawa, dan bertanggung jawab dimana pun ia berada.
"Ga, apa kamu gak ada niat untuk berkeluarga? umurmu udah mau kepala tiga,lho. ibu juga udah sepuh, pengen cepet gendong cucu." Arga tersenyum mendengar celotehan ibunya sambil menyeruput kopi yang disuguhkan untuknya.
"Ya jelas Arga mau,bu, tapi ya kalo jodohnya Arga belum ketemu, ya apa boleh buat?" jawab Arga tenang.
"Ya gimana mau ketemu, orang kamunya kayak nutup diri gitu. Kamu lebih fokus sama karirmu sampe lupa buat nikah." tukas bu Sari cemberut.
"Coba tuh kamu lihat, teman-teman kamu semasa sekolah saja udah pada nikah semua, bahkan udah pada punya anak." sambungnya,disambut kekehan sang anak.
"Sabar,ya,bu!"
"Sudah,bu, Arga kan udah gede, masih aja ibu recokin. Kalo nanti dia udah punya calon juga pasti dikenalin sama kita." sahut pak Rudi yang baru datang,menimpali ocehan istrinya.
Arga segera bangkit dan mencium tangan bapaknya.
"Ih...si bapak mah malah di bela anak salah teh." bu Sari malah makin memajukan bibirnya. Sontak kedua pria beda generasi itu tertawa melihatnya.
"Eh tapi, ibu teh punya ide, gimana kalo kamu nikah sama Reni anaknya mang Ujang tetangga kita itu."
Kening Arga berkerut mendengar ide ibunya. "Bu, ini zaman modern, ga ada istilah jodoh menjodohkan kayak zaman siti nurbaya. Lagian Arga gak kenal siapa Reni." sanggah Arga.
"Itu...Reni anaknya mang Ujang juragan sayur, yang rumahnya sebrangeun kita. Mereka pindahan dari Bandung, baru 3 tahun disini. Tapi ya...Reni tuh anaknya baik, sopan, malahan dia itu sebentar lagi di wisuda jadi perawat. Kurang kumplit apa lagi atuh?" kata bu Sari panjang lebar.
"Benar kata Arga,bu, biar dia aja yang cari jodohnya sendiri, jangan dipaksa. Cinta karena terpaksa teh jarang yang awet." tukas pak Rudi.
"Ih si bapak mah, gak ngedukung ibu pisan. Ya sudah, ibu ke dapur saja mau masak buat makan siang." kilah bu Sari kemudian pergi menuju dapur.
Sepeninggal ibunya suasana hening sesaat. Pak Rudi dan Arga sama-sama diam tak ada yang bersuara.
"Gimana kabarmu,Ga? sehat?" tanya pak Rudi memecah keheningan.
"Alhamdulillah sehat,pak." jawab Arga singkat.
"Kerjaanmu lancar?" kali ini Arga menjawab hanya dengan anggukkan.
"Mmm...Pak, sebenarnya saya pulang karena ada yang harus saya bicarakan dengan bapak."
"Apa itu?"
"Saya mau bapak lamar seseorang untuk saya." pak Rudi menegakkan posisi duduknya yang semula bersender.
"Kamu sudah punya calon? kenapa gak bilang dari tadi? kan kalo kamu bilang pasti ibumu gak akan ceramah kayak tadi, bahkan sampe punya ide jodoh-jodohan segala." ujar pak Rudi. Mereka berdua pun sama-sama terkekeh.
"Itu dia masalahnya,pak, saya mau bapak dulu yang tahu, untuk minta pendapat bapak. Kalo ibu udah pasti bakal langsung heboh."
"Pendapat apa,Ga?"
" Mmmm...ini soal status calon istriku pak, dia...dia janda anak satu."
Pak Rudi kaget mendengar penuturan Arga, namun ia coba untuk biasa-biasa saja.
"Kamu yakin? emang gak ada gadis yang mau sama kamu?" tanya pak Rudi.
"Gak gitu,pak, tapi...saya juga gak bisa jelasin seperti apa, yang pasti saya mau dia yang jadi istri saya." jawab Arga tanpa mau menjelaskan permasalahan bahwa sebenarnya anak dari wanita itu adalah darah dagingnya. Ia takut bapaknya akan murka jika tahu mengenai hal itu. Ia takut bapaknya tahu jika ia sudah menjadi seorang pria tak bertanggung jawab hingga kehilangan hak status sebagai ayah dari seorang anak.
"Bapak sih setuju-setuju saja, asal kamu bahagia. Meskipun dia janda, asal dia sayang sama kamu, ya bapak dengan senang hati menerima dia sebagai menantu,dan anaknya sebagai cucu bapak."tutur pak Rudi.
"Gak bisa...kamu gak boleh nikah sama dia!!!" teriak bu Sari tak diduga menguping dari tadi.
"Bu..."
"Diem,pak, kali ini ibu gak setuju sama keputusan kamu. Kenapa harus janda,Ga? yang gadis masih banyak, dan pasti banyak juga yang mau sama kamu. Apalagi nanti kamu harus ngurus anak orang lain, anak yang bukan darah dagingmu." celoteh bu Sari.
Arga terkesiap, ia tak menyangka ibunya yang ia kenal selalu lembut tak pernah membentak, kali ini berubah 180° karena tak setuju dengan permintaannya.
"Tapi Azrian anakku,bu, darah dagingku yang sudah lama jauh dariku." lirih Arga yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
Flashback off