
"Apa maksud semua ini? kenapa mas ini bisa bicara seperti itu? siapa sebenarnya Azrian?" ucap seseorang yang baru memasuki ruangan sesaat setelah perdebatan terjadi.
Fadlan, Talita dan Arga serempak menoleh dan terkesiap saat melihat siapa yang sedang berdiri dihadapan mereka saat ini.
Seorang pria paruh baya tampak berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sudah tampak gusar setelah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Bapak...? kapan bapak datang? mm... mana ibu?" sahut Talita dengan kikuk.
"Ibu lagi ke kantin sebentar, mau beli makanan katanya." jawab ayah Talita sambil berjalan mendekati tempat Azrian berada.
Dengan cekatan Fadlan bangkit dan mencium tangan ayah mertuanya itu, begitu pun Talita.
" Bagaimana kabar cucu aki nih? udah bisa lari lagi nih kayaknya?!" ujar ayah Talita seraya mencium gemas pipi Azrian.
Sesaat kemudian ayah Talita berbalik ke arah sofa yang diduduki Fadlan dan Arga. Dengan sopan Arga menyalami pria paruh baya tersebut.
"Oya, mas ini siapa?" tanya ayah Talita.
"Oh ini...Arga pak, teman saya." jawab Fadlan memperkenalkan Arga.
"Dan...apa maksud perkataan mas Arga tadi tentang Azrian?" tanya ayah Talita lagi kembali ke pertanyaan awal ia masuk. Arga sudah siap menjawab ketika Talita membuka suara.
"tentang Azrian yang mana pak?" tanya Talita dengan berusaha keras menyembunyikan kegugupannya.
"Tadi bapak dengar mas ini bilang kalo Azrian adalah anaknya, maksudnya apa?" jawab ayah Talita gusar. Suasana ruangan itu kali ini benar-benar mencekam, aura tajam yang diperlihatkan ayah Talita menyebabkan 3 orang dewasa di dalam sana pucat pasi.
"mmm..." Talita hanya bergumam tanpa tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya kali ini.
"Begini pak, tadi kami sedang ngobrol sambil bercanda. Teman saya ini kalo bercanda emang suka kelewatan pak, intinya dia anggap Azrian itu seperti anaknya sendiri. Bukan begitu, mas?!" ujar Fadlan berusaha meluruskan sambil memberi kode pada Arga supaya membantu mengiyakan perkataannya tadi.
"Aaahh... iya pak, maaf kalo saya bercandanya kelewatan tadi." ucap Arga dengan sedikit tak rela karena harus berbohong untuk menutupi kenyataan bahwa Azrian sebenarnya adalah anak kandungnya.
" ooo....bapak kira ada yang kalian sembunyikan dari kami." ucap ayah Talita ketus.
"Mana mungkin kayak gitu, Pak. Bapak ni suka suudzon aja sama anak sama mantunya?!" kata Talita terkekeh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain, ayah dan mama Fadlan tampak sedang beristirahat di apartemen milik anak sulungnya itu setelah menempuh perjalanan jauh dari Tangerang.
"Apa gak sebaiknya kita langsung ke rumah sakit aja yah? mama idah kangen banget sama zrian." rajuk mama Fadlan.
"Gak usah ma, kan tadi Fadlan bilang katanya Azrian udah boleh pulang hari ini. Jadi lebih baik kita nyiapin penyambutan kecil-kecilan aja disini." jawab ayah Fadlan. Mama Fadlan memutar bola matanya kemudian berdiri,
"ya udah mama mau bikin kue aja kalo gitu." ujarnya sambil berlalu membawa tas berisi bahan makanan ke dapur.
"Ma..mama gak bawa baju ganti buat ayah?" teriak ayah Fadlan.
"Enggak yah, pinjem aja baju Fadlan, gak bakal marah juga kali dianya" jawab mama Fadlan tak kalah keras berteriak dari arah dapur.
"Ayah telpon Fadlan dulu kali ya." ujar ayah Fadlan kemudian menghubungi anak sulungnya.
//Halo assalamualaikum yah!!//
"waalaikumsalam, kak, ayah sama mama udah di apartemen, tapi lupa gak bawa baju ganti, boleh ayah pinjem baju kamu?" tanya ayah Fadlan.
//O ayah sama mama udah di apartemen, gak papa yah, ambil aja baju Fadlan di lemari.//
"Oke...ma kasih ya kak, oya kapan c mbul bisa pulang?"
//mudah-mudahan nanti sore yah, ini lagi ngurus administrasi nya dulu, kebetulan bapak sama ibu juga udah ada disini kok yah//
"o ya udah, salam buat mereka ya, nanti kita ketemu disini. Ayah tutup dulu telponnya ya kak... assalamualaikum"
//waalaikumsalam yah//
Setelah memutuskan panggilan, ayah Fadlan pun berlalu ke kamar anaknya untuk mencari baju ganti. Saat dirinya asyik memilih pakaian yang akan di pakai, secarik kertas terjatuh dari tumpukan baju Fadlan.
Atas dasar kekepoan yang tinggi, ayah Fadlan membuka lipatan kertas tersebut dan seketika raut wajahnya mengeras setelah membaca tulisan didalamnya.