
Perdebatan kembali terjadi diantara kami saat hendak mengurus administrasi kepulangan Azrian. Aku yang ingin membayar semua biaya perawatan dicegah Fadlan dengan cara halus.
"Tidak usah,mas, terima kasih... tapi biar saya yang membayar semuanya." ujar Fadlan. Aku pun hanya bisa pasrah mengalah karena mantan calon mertuaku ternyata mengikuti kami dan beliau tengah berada di belakang kami saat ini.
Setelah semua selesai, kami bertiga kembali ke ruang rawat Azrian. Sesampainya disana, lagi-lagi hatiku serasa teriris melihat Talita yang seakan mempertontonkan kemanjaannya kepada sang suami.
"Bagaimana sayang, udah beres? apa kita sudah bisa pulang?"tanya Talita sumringah sembari mendekati Fadlan. Jujur saja seketika hatiku merasa panas. Cemburu? jelas aku cemburu, karena memang rasa itu masih terpupuk subur dalam hatiku.
"Iya, udah bisa. yuk sekarang kita siap-siap!" jawab Fadlan. Dengan semangat Talita dan juga kedua orang tuanya membereskan segala sesuatu yang akan dibawa pulang.
" Mmm... kalo gitu saya pamit pulang duluan, soalnya masih ada giat yang harus saya kerjakan hari ini." ujarku yang sebenarnya ingin menyembunyikan rasa cemburu yang sudah tak mampu lagi ku tahan.
"Lho...mas gak ikut ke apartemen kami dulu?" ucap Fadlan yang berhasil membuat dirinya dipelototi sang istri yang mungkin tak suka Fadlan mengajakku mampir ke apartemennya walau hanya sekedar basa basi.
"Lain kali pasti saya akan main kesana." jawabku sekenanya sambil ku lemparkan senyum pada Talita, berharap ia akan membalas. Namun nihil, ia malah mengalihkan tatapannya ke lain arah. Sebegitu bencinya kah dia padaku? Entahlah.....
"Baik kalo gitu, terima kasih bingkisannya ya mas, anak saya senang sekali menerimanya." ucap Fadlan lagi membuyarkan lamunanku.
"Sama-sama,, mmm saya pamit, assalamualaikum." ucapku kemudian berlalu pergi keluar kamar rawat Azrian. Segera ku percepat langkah menuju parkiran dimana ku letakkan kendaraan kesayanganku.
Segera ku hempaskan punggungku saat berhasil duduk di belakang kemudi. Pikiranku melayang tak karuan. Berbagai macam penyesalan tiba-tiba muncul di otakku.
Seandainya waktu bisa ku putar,
Seandainya saat itu aku lebih keras berusaha menghubungi kekasihku, mungkin rasa sakitku hari ini tak akan pernah kurasakan.
Entah berapa lama aku termenung, hingga kedua netraku melihat Fadlan sekeluarga memasuki mobilnya yang kebetulan parkir di seberang mobilku.
Entah apa yang merasuki hati dan pikiranku hingga saat ku sadar kini tengah berada di parkiran sebuah apartemen tempat dimana anakku dibesarkan. Langkahku gontai mengikuti keluarga itu hingga ku terpaku di depan pintu sebuah unit yang pintunya tak tertutup sempurna tanpa ada niat untuk masuk dan bergabung bersama mereka.
Sayup ku dengar tengah terjadi perdebatan di dalam sana. Entah apa yang mereka bicarakan, namun yang ku lihat Fadlan tampak duduk seraya menutup muka. Sepertinya ada hal yang membuatnya sangat terpukul hingga menangis.
Segera ku dekatkan posisi badanku ke arah pintu agar bisa ku dengar semuanya.
"Nak Fadlan, hasil pemeriksaan siapa ini? dan apa maksud dari hasil POSITIF INFERTIL....punya siapa ini?" terdengar suara penuh tekanan dari ayah Talita.
"Kak,, ada apa ini? coba jelaskan kak, supaya kami tidak suudzon." ucap mama Fadlan lembut.
"Itu...itu hasil pemeriksaan...saya pak, yah." jawab Fadlan akhirnya membuka suara. Jujur saja aku terkejut mendengarnya. Setengah hatiku bersorak karena terbukti jika Azrian adalah anakku, namun setengah hatiku meras kasihan melihat keadaan Fadlan yang tengah di sidang oleh keluarganya.
"Kamu pasti bohong kak, tolong jangan bikin mama panik... kalau memang itu hasil pemeriksaanmu, lalu siapa Azrian?" tanya mama Fadlan sambil menangis. Fadlan ku lihat hanya bungkam, hanya isakan yang keluar dari mulutnya.
"Azrian anak saya ,Tante!" ucapku , entah dorongan darimana hingga berani muncul di tengah konflik. Serempak mereka semua menatapku, tak terkecuali Fadlan yang tengah menangis.
Arga POV end