
Berada di situasi yang sangat tegang saat itu mereka mencoba untuk tetap tenang, karena biar bagaimanapun pihak lawan masih tidak melakukan gerakan terlebih dahulu. Saat itu mereka telah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya, namun jika di suruh untuk memilih maka mereka lebih ingin memilih untuk melewati keadaan ini dengan tenang dan tidak ada perkelahian.
Biar bagaimanapun latar belakang para orang-orang yang sedang mengawasi mereka saat ini tentu tidak sederhana sebatas preman jalanan biasa saja, karena di lihat dari pakaian khas mereka nampak seperti anggota kelompok dari Dragon Tail yang khas dengan bandana hitam bergambarkan naga emas yang mereka pakai.
Tommy memberikan isyarat agar tetap berjalan santai dan tidak takut kepada Suki yang berada di sampingnya. Ujung jalan gang tersebut hamper terlihat dan hanya berjarak 100 meter dari mereka, Dengan sedikit menambah kecepatan langkah kaki, mereka terus berjalan lurus tanpa menoleh kiri dan kanan mereka.
Belum jauh mereka berjalan dari arah depan terlihat seseorang berjalan menghadang mereka, nampak orang tersebut lebih kekar di banding anggota yang lainnya. Nampaknya ia adalah pemimpin dari anggota yang sedang mengepung Tommy saat itu.
“Hai sobat, untuk apa kalian datang ke rumah gubuk itu” Tanya lelaki tersebut dengan tatapan tajam kearah Tommy
Tak dapat di pungkiri jika mereka akan menghadapi situasi terburuk dan nampaknya hal tersebut tidak dapat di hindari lagi, dengan tenang Tommy membalas ucapan lelaki tersebut “Oh kawan, kami dari pihak asuransi hanya ingin mengambil data keluarga korban saja” jawab Tommy mencoba berbohong
Sepertinya preman tersebut tidak mudah di hadapi karena ia tidak langsung percaya dengan apa yang Tommy katakan bahkan semakin menekan dengan pertanyaan selanjutnya, “ Ohh..!! Asuransi mana? Bukankah semua keluarga di sini sangat miskin” imbuh preman tersebut.
“Bahkan untuk makan setiap hari saja tidak bisa, bagaimana mungkin mereka bisa ikut asuransi yang hanya orang kaya lakukan” Terdengar suara lain dari arah kanan tepatnya orang yang sedang duduk di tangga rumah menuju lantai 2 yang sedari tadi hanya menghisap rokok dengan santai.
Preman tadi yang berada di depan Tommy berjalan semakin maju dan mendekat dengan Tommy hingga berjarak 1 meter saja, ia tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana dan berkata santai “ Jika kalian memang dari pihak asuransi coba buka isi tas kalian dan perlihatkan kepada kami” kata preman tersebut.
Tommy tahu jika situasi saat ini semakin tidak menyenangkan baginya dan mau tidak mau ia harus mengambil resiko yang terburuk karena semakin lama mereka berada di sana maka akan semakin bahaya bagi mereka berdua “ Baiklah, aku tidak akan berbohong jadi lihatlah dengan jelas” kata Tommy yang seakan melakukan gerakan untuk membuka tas, namun dalam sepersekian detik ia memberikan kode kepada Suki untuk bersiap melawan mereka.
Dengan kedua tangan Tommy mulai membuka tas yang di bawanya dan perlahan mengeluarkan isi tas tersebut, awalnya preman tersebut mulai percaya namun saat Tommy akan mengeluarkan lembar kertas berikutnya nampak sebuah pistol otomatis dari balik tumpukan kertas tersebut, dengan gerakan kilat Tommy mengambil pistol tersebut dan langsung mengarahkannya kepada preman yang ada di depannya.
Melihat kejadian barusan, seorang preman yang tadinya sedang merokok di tangga terkaget dan tidak mengira jika mereka akan berani melakukan tindakan seperti itu di tengah kerumunan preman yang sekitar berjumlah 30 orang. Bahkan rokok yang sedang ia hisap sampai jatuh ke tanah.
Butuh beberapa detik untuk para preman tersebut sadar dari kondisi yang baru saja mereka saksikan, terdengar suara yang memberikan perintah kepada preman lainnya untuk segera mengambil tindakan “ SERAAAANGG…!! “ teriak salah satu preman tersebut dan tidak menunggu lama kumpulan preman tersebut langsung berlarian kea rah Tommy dan Suki dengan penuh rasa haus akan membunuh mereka.
Suki yang dari tadi hanya diam dengan segera mengeluarkan senjata sejenis pedang samurai tapi sedikit kecil yang ia sembunyikan di dalam baju lengan kedua tangannya, kini ia telah memegang dua buah pedang kecil di kedua tangannya dan bersiap untuk melawan mereka.
Dalam keadaan terpojok Tommy memberikan pesan kepada Suki untuk menyisakan beberapa untuk tetap hidup, arahan Tommy tadi hanya di balas dengan anggukan kecil oleh Suki yang langsung berlari maju menghadapi gerombolan preman yang ada di sisi belakang.
Sedangkan Tommy focus kepada kumpulan preman yang mengepung ereka di sisi depan dengan membawa pistol otomatis yang penuh dengan peluru, keadaan menjadi sangat mencekam di saat mereka mulai bertarung, terdengar suara beberapa kali tembakan dan bersamaan dari itu terlihat beberapa orang telah terkapar di atas tanah, hal yang sama terlihat di sisi Suki yang terlihat bertarung dengan puluhan orang dan telah menjatuhkan pihak lawan hampir separuhnya dalam waktu tak kurang dari 1 menit saja.
Satu per satu mereka mulai di tumbangkan dan tinggal 5 orang saja yang masih terlihat sadar tapi dalam keadaan yang tidak berdaya, mereka sengaja di biarkan hidup agar nanti dapat menggali informasi penting yang dapat membantu proses kelancaran misi kali ini. Saat mereka berdua memandangi semua mayat yang tergeletak di sekitar mereka nampak sebuah gerakan tubuh yang mencoba untuk melarikan diri, nampaknya ada seorang preman yang berpura-pura mati saat perkelahian tadi dan sekarang ia sedang berlari menuju ke arah jalan raya untuk bisa lolos dari tangkapan Tommy dan Suki. Saat Tommy hendak mengarahkan pistolnya tiba-tiba dari arah samping terlihat sebuah pedang kecil yang sejak tadi Suki pegang melayang kea rah preman tersebut dan dengan kekuatan dan juga presisi yang bagus pedang tersebut menancap tepat di punggung preman tersebut yang membuat tubuh preman tersebut mati seketika.
Tommy tak menyangka jika keahlian pedang Suki sangat bagus dan ia dengan tulus memberikan pujian kepada Suki yang sedang membersihkan darang yang ada pada pedang satunya dengan bandana hitam khas dragon tail yang entah sejak kapan ia mengabilnya.
Dengan segera Tommy memanggil polisi kota untuk segera datang ke tempat kejadian dan beberapa ambulan untuk mengangkut mayat di sana. Ia juga menelephone Kepala Chen dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami, mendengar penjelasan Tommy dengan segera Kepala Chen pun beranjak dari kantor dengan membawa beberapa personil tambahan untuk membewa para preman yang masih hidup saat itu.
Dengan segera kepolisian kota telah sampai dan di iringi beberapa mobil ambulan yang menepi di luar gang, lokasi sekitar nampak di beri garis polisi agar masyarakat tidak datang mendekat demi kelancara proses evakuasi jasad para preman tersebut.