
Hari ini terasa begitu cepat berlalu bagi Tommy dan tidak terasa sudah sampai waktunya di ujung jam kerja yang membosankan baginya karena selain membersihkan ruang barunya yang kotor ia tidak memiliki tugas yang lain hari itu.
“Tuuuttttttt” Terdengar suara getaran dari telegram miliknya yang menandakan jika ada hal penting dari kantor.
Dengan segera Tommy membuka telegram dan membaca pesan masuk. “ Datanglah ke kantor. PENTING” tertulis singkat tapi tidak berbasa basi menyuruh Tommy untuk segera datang ke kantor pusat.
Segera setelah jam kerja selesai Tommy pun bergegas menuju gerbang pabrik bersiap untuk keluar menuju kantor sambil menunggu taksi lewat.
Sesaat mobil Audi A7 merah menyala melintas dan segera berhenti setelah melihat Tommy berdiri di pinggir jalan sesaat kaca mobil tersebut terbuka perlahan dan terlihat wanita cantik yang tak lain adalah Camila yang berada di belakang kemudi “Tommy kemana kamu pulang?” Tanya Camila kearah Tommy
Sekejap Tommy pun menjawab sambil tersenyum “Aku kea rah pusat kota Golden Bay”
Mendengar perkataan Tommy yang mana arah ia pulang searah dengan rumah Tommy, Camila pun menawarkan tumpangan kepadanya “ kebetulan sekali kita seaarah. Ikutlah…!!!” seru Camila
Tommy saat ini tinggal di apartemen mewah di pusat kota bernama Sky Tower yang hanya kalangan atas yang bisa memiliki apartemen di sana karena sepetak kamar bisa mencapai 15 Miliar hanya untuk mendapatkan hak milik disana. Bagi Tommy uang sebanyak itu tidaklah sulit apalagi seorang Tommy yang merupakan Agen Spesialis nomer satu sangat sering mendapatkan penghargaan dan bonus setelah menyelesaikan misi dengan sempurna. Sejenak Tommy pun berfikir jika Camila tau kemana ia pulang dan tinggal maka akan menjadi kacau bahkan bisa membongkar identitas asli Tommy yang bukanlah orang biasa.
Tommy berusaha mencari alasan untuk menolak dengan halus ajakan Camila “aku naik taksi saja sekalian mau mampir ke rumah teman sebentar” ujar Tommy berbohong
Mendengar jawaban Tommy yang ada keperluan lain Camila hanya bisa memahami dan berlalu meninggalkan Tommy yang berdiri di pinggir jalan “ Baiklah kapan-kapan ada waktu kamu harus ikut aku saja kalau pulang itung-itung bisa menghemat biaya” sambil menutup kaca mobil dan berlalu meninggalkan Tommy sendiri.
Tak berselang lama sebuah taksi melintas dan menghampiri Tommy setelah melihat tanda Tommy sedang melambaikan tangannya.
“Kantor Pusat Militer Negara” ucap Tommy singkat dan tanpa bertanya lebih lanjut sang sopir pun menginjak gas mobil melaju kea rah yang di sebutkan oleh Tommy.
Beberapa saat taksi tersebut telah sampai dan setelah membayar uang Tommy segera masuk ke ruangan kepala chen berada.
Melihat kehadiran Tommy para penjaga gerbang pun memberi hormat dan bersikap tegap “Siap Letnan, Selamat datang” sambil memberi hormat kepada Tommy
Tommy menganguk pelan dan segera masuk kedalam
“Tok Tok Tok” terdengar pintu kepala chen di ketuk
“Masuk” kata Kepala Chen singkat
Dengan segera Tommy masuk kedalam dan segera melapor kehadapan Kepala Chen, seketika di dalam ruangan Tommy melihat jika Kepala Chen tidak sendiri melainkan di temani oleh seorang berumur berkepala botak bulat di tengah seperti seorang peneliti dan pemikir keras, di tambah rambut yang sudah putih dan berkaca mata melengkapi penampilannya. Ia adalah Profesor Chogan bagian kepala divisi riset dan pengembangan teknologo senjata.
Semua senjata hasil pengembangan dari divisi ini sangat canggih dan modern yang hanya di khususkan untuk operasi rahasia, di benak Tommy kalau Prof. Chougan ini sudah muncul pastilah ada senjata baru yang telah ia siapkan untuk operasi kali ini.
“Hallo Tommy lama tak jumpa” kata Profesor
Belum sempat Tommy menyapanya malah ia sudah didahului oleh profesor “Hallo Profesor lama tak jumpa, bagaimana kabamu apakah sehat?” Tanya Tommy
“Sangat sehat, aku akan sakit jika sehari saja aku tidak melihat lab ku hahahahahaaa…..!!!” kata profesor tertawa
Tommy sangat paham dengan sifat Profesor Chougan ini, ia adalah seorang gila eksperimen dan menyukai penemuan baru. Seketika tommy melihat beberapa benda yang berada di atas meja dan mencoba menebak apa kegunaan benda-benda tersebut.
Kepala Chen yang melihat wajah Tommy pun menjelaskan kalau benda-benda ini adalah penemuan baru dari profesor yang di buat khusus untuk operasi kali ini dan menyuruh profesor untuk menjelaskan lebih detail kegunaan dari benda-benda tersebut.
Profesor menjelaskan dengan detail fitur yang di miliki oleh pena itu, tentu bukanlah pena biasa melainkan sebuah pena yang memiliki fungsi alat intai. Di atas pena terdapat sensor yang mampu mengidentifikasi segala macam zat-zat yang terkandung di dalam sebuah benda dan hasilnya akan di kirimkan ke telegram Tommy yang sudah di seting dengan pena tersebut. Di bagian ganggang penahan dapat di lepas dan dapat berubah menjadi mini drone berbentuk menyerupai capung kecil untuk alat pengintai. Tentu saja di bagian dalam pena terdapat alat penyadap dan perekan untuk menyadap ke semua alat elektronik di sekitarnya.
Kemudian Profesor mengambil sebuah benda yang mirip dengan jam tangan digital dan menjelaskan kalau jam itu bukanlah jam sembarangan. Di dalam jam tersebut tertanam sebuah senjata laser mini yang dapat memancarkan tenaga laser untuk sekedar melukai lawan dengan panas tinggi dan mampu membakar benda dalam waktu 10 detik jika terus menerus di tembakkan. Selain itu jam tersebut dapat menampilkan grafik 3D area sekitar yang dapat ia scan dalam jarak 50x50 meter sehingga ia mampu menampilkan dimana posisi musuh saat berhadapan dan melumpuhkan dengan mudah.
“Profesor jam ini bagaimana cara menggunakannya” Tanya Tommy
“Coba kamu tombol pengatur yang di samping, tobom kanan untuk menampilkan gambar 3D dan yang kiri untuk menembakkan laser” ujar profesor kepada Tommy
Tommy yang penasaran kemudian menombol bagian kiri dan benar seketika muncul cahaya laser yang kuat dan tidak sengaja terpancar kearah yang salah. Melihat ini Tommy sebenarnya ingin tertawa tapi ia tidak berani dan hanya bisa sedikit tersenyum takut.
“apa yang kamu tertawakan” Kata Kepala Chen heran
Melihat ini profesor juga tertawa dan menjelaskan kalau laser tadi mengarah kea rah rambut kepala chen dan membuat rambut yang di laluinya terbakar membentuk lingkaran
Mendengar penjelasan dari profesor seketika kepala chen pun marah kea rah Tommy “apa kamu mau membunuhku haa…!!!” cela Kepala Chen marah tapi kali ini Tommy malah tertawa lebih keras dan mencoba menjelaskan kalau ia tidak sengaja melakukannya
“Kepala Chen aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak tau kalau efeknya sangat kuat” jelas Tommy tapi tidak berhenti tertawa melihat bentuk rambut kepala chen
Kepala chen tetap marah dan menghuku Tommy untuk Push Up 100 kali di saat itu juga.
“Kepala chen ini sungguh tidak sengaja kenapa kamu menghukumku” kata Tommy memelas
Kepala chen yang tidak mau tahu penjelasan Tommy tetap menghukum Tommy dengan Push up sambil berkata: “anggap saja latihan fisik” jawam kepala chen yang masih belum reda marahnya
Tanpa bisa membantah Tommy pun langsung push up sampai berkeringat. “99…100” ujar Tommy setelah menyelesaikan hukumannya sambil merasa capek
“Sudah kamu bawa alat ini dan biasakan jangan sampai mencelakai orang lain” kata Kepala Chen dan menyuruh Tommy pergi setelah menyerahkan peralatan buatan profesor kepada Tommy.
“Siap laksanakan” jawab Tommy dan keluar dari ruangan dengan masih berkeringat
Belum jauh Tommy berjalan keluar ia berpapasan dengan Sisca dan meirik body tubuh Sisca yang sangat menggoda, belum sempat Tommy tersadar dari lamunannya Sisca malah lebih dahulu menyapa Tommy yang membuat ia kaget
“Kamu bagaimana bisa berkeringat seperti itu? Sepertinya kantor kita tidak memiliki fasilitas sauna.!” Goda Sisca
Melihat sisca yang menggodanya Tommy pun memberanikan diri semakin menggodanya “ Apa kamu penasaaran begaimana aku sangat bisa berkeringat seperti ini?” jawab Tommy
“Bagaimana..?” Tanya sisca masih belum paham maksud Tommy
“Nanti malam datanglah ke apartemenku akan mengajarkanmu berkeringat seperti ini” goda Tommy yang membuat seketika wajah sisca memerah sampai ke telingga
“Dasar lelaki mesum..!!” ujar sisca sambil berlalu namun masih dengan kondisi malu akanperkataan Tommy tadi
Tommy hanya bisa membayangkan apa yang dapat ia lakukan jika sedang di atas satu ranjang dengan sisca dan berlalu keluar gedung untuk pulang kembali ke apartemennya.