My Bossy CEO

My Bossy CEO
Mama Sakit



PoV Karina Rossa


Aku terbangun keesokan paginya dengan suara ponsel yang terus-menerus berdering. Aku merasa begitu kesal.


"Sialan! Kenapa kau meneleponku sepagi ini." Teriakku di ponselku.


"Nona Rossa, ini rumah sakit yang menelpon Anda. Mama anda sudah dibawa ke rumah sakit dan berada di ruang operasi sekarang. Tolong datanglah kemari secepatnya." Ucap orang dari seberang telepon itu.


Aku pun langsung melompat dengan cepat karena begitu terkejut.


"Aku akan datang secepatnya tunggulah." Ucapku dengan suara yang gemetar.


'Bagaimana Mama bisa sampai di rawat di Rumah Sakit? Ada apa dengan Mama?'


Aku lalu mengganti pakaian ku dengan menggunakan hoodie dan celana longgar, lalu berlari keluar setelah mengambil kunci mobil. Aku hampir saja menabrak Pak Ryan.


"Sekretaris Rossa, jika kau...."


Aku langsung mendorongnya dengan cepat dan berlari ke arah mobilku. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak terjatuh, setelah itu aku menelpon temanku Deni.


"Aku harus mengambil waktu liburku pagi ini saja. Mama berada di rumah sakit." Ucapku langsung menutup sambungan telepon sebelum dia bisa mengatakan apapun dan dengan cepat mengendarai mobil menuju rumah sakit.


Kepalaku terasa begitu sakit saat aku tiba dengan cepat di rumah sakit.


"Aku di sini untuk melihat Nyonya De Maria. Aku adalah putrinya." Ucapku menunjukkan kartu identitas ku kepada perawat itu.


"Oh iya Nona, ayo silakan ikut saya. Nyonya De Maria masih berada dalam ruang operasi. Masih ada waktu beberapa saat sampai operasinya selesai." Ucap perawat itu.


Aku menghela nafas dan pergi ke dalam sebuah ruangan di mana dia membawaku.


"Ada apa dengannya?" Ucapku dengan bingung dan juga khawatir.


"Nona Rossa, Mama anda memiliki kanker ovarium. Apa dia tidak mau menyembuhkannya?" Ucap perawat itu. "Mungkin dia tidak mengatakan kepada anda." Lanjut perawat itu lagi.


Aku menjadi begitu terkejut.


'Kanker?' pikirku.


"Baiklah, kumohon lakukan sesuatu." Ucapku memohon kepada perawat itu.


Setelah satu jam berlalu, yang rasanya seperti setahun bagiku, perawat itu datang kepadaku dan membawa aku menuju ke sebuah ruangan lainnya.


"Mama...." Ucapku menangis dan langsung merebahkan diriku di atas tempat tidur wanita cantik itu.


Aku berbaring di atas tubuhnya yang menggunakan pakaian Rumah Sakit yang berwarna biru itu.


"Bagaimana mungkin mama tidak mengatakan kepadaku tentang kanker itu?" Ucapku semakin menangis.


"Kau adalah seorang wanita yang sibuk sayangku dan kau tengah menghidupi dirimu sendiri. Mama tidak bisa mengganggu dirimu seperti ini sayang." Ucap Mama.


Aku pun menangis dan mengusap air mataku dengan hoodie yang aku gunakan.


"Mama apa-apaan ini?" Ucapku lalu dengan hati-hati menaruh selimut di atas tubuh Mama.


"Aku sudah menelpon Papa tiri ku untuk menemani Mama dan saudaraku akan mengganti aku disini. Aku akan berkunjung besok pagi, oke." Ucapku mencium pipi Mama secara terus-menerus. "Aku juga akan mengatur sebuah pertemuan dengan seorang dokter besok untuk membahas kondisi Mama, oke. Mama jangan pernah mencoba untuk berkomentar apapun tentang semua ini." Ucapku menatap Mama saat Mama mencoba untuk berdebat denganku.


"Maaf karena aku tidak bisa lama di sini. Tapi mama tahu bagaimana bos ku itu." Ucapku melihat ke arah Mama dengan wajah yang murung.


"Jangan khawatir sayang, pergilah sekarang." Ucap Mama.


Bersambung.....