
PoV Ryan Abraham
Aku melihat Rossa keluar dari dalam ruangan ganti dengan menggunakan gaun glamor untuk yang ke sepuluh kalinya. Aku tidak mengerti kenapa kami tidak bisa menikah hanya dengan menggunakan jeans dan kaos oblong saja.
Kenapa harus menggunakan gaun dan jas yang membuat semuanya menjadi lebih rumit?
"Pernikahan itu sesuatu yang spesial dan sakral sayang. Kita tidak mungkin hanya mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku ingin semuanya sempurna." Ucap Rossa padaku.
Ini sudah satu minggu sejak aku mendapat izin dari orang tua Rossa untuk menikah dengannya dan kami akan bertunangan dalam waktu satu minggu lagi, kemudian menikah di bulan berikutnya.
"Bagaimana dengan ini?" Tanya Rossa keluar dengan menggunakan gaun berwarna putih.
Gaun itu memperlihatkan pundaknya yang putih dan di bagian dadanya memperlihatkan bentuk dadanya yang sedikit menonjol keluar.
"Mama sangat menyukainya." Ucap Mama Rossa berlari dan langsung memeluk Rossa.
Mama Rossa memang menemani kami saat melakukan fitting baju pertunangan kami
Saat calon mertuaku itu berlari mendekat ke arah putri kesayangannya itu, aku di sisi lain terdiam dengan mulutku yang terasa mengering dan aku merasa seluruh wajahku memerah.
"Ryan, apa kau tidak menyukainya?" Tanya Rossa melihat ke arahku tampak kecewa.
Aku tidak mengatakan apapun hanya membuka dan menutup mulutku seperti seekor ikan. Aku benar-benar terpesona akan penampilan Rossa dalam balutan gaun yang dia kenakan saat ini.
'Perbuatan baik apa yang sudah aku lakukan di masa lalu hidupku sehingga aku bisa memiliki seorang wanita yang sempurna seperti dirinya?' tanyaku dalam hati.
"Aku rasa dia bermaksud mengatakan bahwa kau terlihat sangat sempurna sayang." Ucap Mama Rossa seraya tertawa dan berkedip ke arahku.
Aku semakin malu dan langsung mengalihkan pandangan mataku dari calon istriku itu. Tiba-tiba Rossa mendekat ke arahku lalu memegang wajahku.
"Apa kau malu sayang?" Godanya padaku.
"Tidak, aku tidak malu." Protes ku setengah hati lalu tertawa canggung.
"Ehemmm...." Mama Rossa berdeham mengingatkan kami akan kehadiran dirinya.
Kemudian Rossa langsung menjauhkan tubuhnya dariku dengan menyeringai dan meninggalkan aku yang menarik nafas dalam. Aku melihat ke arahnya dengan hanya terdiam.
"Tunggu saja sampai kita tiba di rumah." Bisik ku di telinganya dan berjalan ke arah ruang ganti untuk mencoba setelan yang akan aku kenakan.
Selama beberapa jam berikutnya calon mertuaku itu terus saja memintaku untuk mencoba tiga setelan jas pilihannya. Tapi sejujurnya menurut pendapatku, setelan itu semua terlihat sama saja.
"Lihat saja garisnya berbeda." Ucap Rossa menunjuk ke arah setelan yang aku kenakan.
"Terserah apa yang kau katakan saja." Ucapku tersenyum melingkarkan lenganku di pinggangnya.
Dia mencoba melepaskan dirinya dan mengacaukan rambutku.
"Mamamu...." Ucap Rossa memecah keheningan diantara kami seraya melihat ke arahku.
"Ada apa dengan Mamaku?" Tanyaku tersenyum padanya.
"Dia meneleponku dua hari yang lalu. Dia ingin aku meninggalkanmu agar kau bisa menikah dengan seorang wanita yang sama terpandang nya dengan keluarga kalian di kota X." Ucap Rossa padaku.
"Apa? Mama selalu saja ikut campur dengan kehidupan pribadiku. Aku sudah kembali denganmu sekarang. Kenapa dia masih ingin ikut campur urusanku." Ucapku kesal.
"Jangan khawatirkan tentang hal itu sayang. Ayo kita persiapkan saja pernikahan kita sekarang." Balas Rossa.
Setelah itu ada keheningan yang tidak nyaman di antara kami berdua.
"Iya..." Balas ku.
Bersambung....