My Bossy CEO

My Bossy CEO
Pesta



PoV Karina Rossa


Aku memperbaiki gaun berwarna merah yang aku kenakan saat kami keluar dari dalam mobil. Aku berterima kasih kepada sopir yang terus menatapku sampai Pak Ryan mengatakan kepadanya untuk berhenti menatapku.


Aku menghela nafas lalu memegang tangan Pak Ryan dan tersenyum ke arah para reporter yang mengarahkan kamera ke arah kami seperti sebuah senjata. Pak Ryan melonggarkan pegangannya padaku dan berbisik di telingaku.


"Apa kau rasa mereka bisa merasakan aura seksual di antara kita berdua?" Ucap Pak Ryan.


Aku hanya menghela nafasku saja.


"Bisakah anda serius sedikit Pak. Aku sama sekali tidak merasakan apapun." Ucapku kepadanya.


Dia berkedip kearahku.


"Orang-orang berkata, menolak adalah kata lain dari tertarik." Ucapnya.


Aku tidak menghiraukannya tapi terus memegang tangannya dengan lebih keras yang membuat dia merasa kesakitan.


"Dasar wanita kejam."


Aku mendengar suaranya seperti itu dan tersenyum merasa puas.


"Tuan Ryan dan Nona Rossa, senang melihat kalian berdua lagi." Ucap Tuan Endy dan istrinya mendekat ke arah kami.


"Nyonya Endy." Ucapku dengan sopan mencium pipinya. "Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bertemu, bukan begitu?" Ucapku.


"Iya... iya nak. Apakah kau dan Ryan akhirnya sudah berhenti bertengkar?" Ucap Nyonya Endy.


Aku hanya tersenyum mendengarkan ucapannya itu.


"Tentu saja, aku tidak bisa melawan apapun yang diinginkan Bos ku yang mulia itu." Ucapku.


Semua orang tertawa mendengarkan ucapanku dan setelah beberapa saat, kami mulai membicarakan tentang hal bisnis.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun pergi meninggalkan kami.


"Kau benar-benar seorang pembohong yang hebat." Bisik Pak Ryan di telingaku.


Aku melihat ke arahnya dengan tajam.


"Pak Ryan, jangan lupa apa yang menjadi tujuan kita ada di sini. Kita perlu membuat CEO dari Calvin enterprise menandatangani kontrak sebelum yang lainnya menyadari tentang potensi perusahaan itu dan mendekati mereka juga." Ucapku.


Dia mengangguk dan langsung menjadi begitu serius.


"Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Pak Ryan.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Berhati-hatilah berada di dekatnya bahkan mata-mataku tidak bisa menemukan apapun yang berhubungan tentang dirinya." Ucap Pak Ryan.


Aku begitu terkejut mata-mata Pak Ryan yang terkenal benar-benar kejam dan hampir tidak ada apapun yang bisa kabur dari mereka bahkan tidak bisa menemukan apapun tentang CEO dari Calvin enterprise itu.


"Iya, aku akan melakukannya. Jangan khawatir." Ucapku melihat ke arah bos ku dengan tatapan serius.


Aku suka melihat sisi dirinya yang tampak lebih baik seperti ini dibandingkan dengan hal bodoh yang sering dia lakukan. Dia jauh lebih seksi seperti ini. Aku langsung menggelengkan kepalaku setelah memikirkan hal itu.


'Apa sebenarnya yang tengah aku pikirkan? Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan bahwa dia pria yang seksi?' pikirku.


"Kalian berdua benar-benar terlihat seperti sebuah pasangan yang serasi." Ucap Nyonya Abraham berjalan mendekat ke arah kami dengan membawa segelas minuman.


"Nyonya Abraham, selalu saja senang bercanda seperti biasanya." Ucapku dengan wajah yang tanpa perasaan saat berada di dekat wanita licik itu.


Dia pernah sekali menaruh obat pemicu hasrat di minuman Pak Ryan, agar bisa membuat sebuah skandal yang membuktikan bahwa Pak Ryan bukanlah penyuka sesama jenis. Untunglah aku membuang obat itu sebelum semua itu diketahui. Selama ini Pak Ryan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Hal itulah yang menyebabkan ada banyak rumor yang beredar tentang Pak Ryan yang merupakan penyuka sesama jenis.


Aku ingat saat itu aku pergi ke ruangan ku dan melihat ada seorang wanita yang tampak setengah berbusana berada di atas mejaku dengan kakinya yang tampak terbuka.


Kepalaku terasa sakit dengan mengingat semua hal itu. Nyonya Abraham berpikir bahwa aku adalah istri yang sempurna bagi bos ku dan dia pun bahkan sudah bersiap untuk pernikahan kami.


"Mama, apa yang Mama lakukan di sini Bukankah Papa mengatakan kepada Mama untuk berhenti datang ke pesta seperti ini." Ucap Pak Ryan.


Sebenarnya Betrand Abraham, Papa Ryan yang mengatakan hal itu kepada Nyonya Abraham karena Nyonya Abraham selalu saja berakhir dengan mabuk di dalam pesta dan membuat kacau.


"Papamu ada di sini sayang. Dia tengah berbicara dengan seorang yang merupakan CEO dari Calvin Enterprise." Ucap Nyonya Abraham.


Aku langsung merasa senang mendengar hal itu.


"Benarkah? Di mana mereka?" Tanyaku dan Pak Ryan di saat yang bersamaan.


Nyonya Abraham menunjuk ke arah sofa yang lembut dengan warna abu-abu yang diduduki Tuan Abraham dan seorang pria.


Aku dan Pak Ryan dengan cepat berjalan ke sana dan hampir saja terjatuh karena kaki kami yang bersenggolan. Aku mendengar Tuan Abraham tertawa menunjuk ke arah kami.


"Mereka ada di sana." Ucap Tuan Betrand Abraham.


Pria yang bicara dengannya itu berbalik menatap ke arah kami dan aku berdiri dengan begitu terkejut.


Aku dan pria itu tampak saling menatap satu sama lain dengan kemarahan yang terlihat dari sorot mata kami, seolah mata kami akan keluar begitu saja.


"Gadis sialan! Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap pria itu.


Bersambung...