My Bossy CEO

My Bossy CEO
Dibawah Meja



PoV Karina Rossa


Aku melihat Ryan tampak meringis saat kakiku berada di pahanya dan terus mengelusnya.


"Rossa...." Ucap Joe yang melihat kami saling menatap satu sama lain.


"Iya." Balas ku lalu fokus menatap kearah Joe dan mendengarnya


Aku mendengar suara Ryan menghela nafas dan tampak kesal. Tapi dia juga mulai mengobrol dengan Elena saat dia menyadari bahwa aku tidak melanjutkan apa yang aku lakukan sejak tadi di bawah meja. Aku lalu kembali mengobrol dengan Joe sembari menyantap makanan yang ada dihadapanku.


"Rossa, Ryan mengatakan kepadaku bahwa Mama mu memiliki kanker ovarium. Apakah kau membutuhkan sesuatu, apapun itu? Apakah kami harus mengatur seorang dokter khusus untuk nya?" Ucap Om Ben dengan suara yang terdengar begitu penuh perhatian kepadaku membuatku menghentikan obrolan ku dengan Joe.


"Oh terima kasih banyak, tapi itu tidak perlu Om Ben. Pak Ryan sudah cukup baik untuk mengatur seorang dokter untuk mengurus Mamaku. Aku benar-benar berhutang budi kepada keluarga kalian Om Ben." Ucapku seraya menatap kearah Ryan.


"Itu bukan apa-apa." Ucap Ryan dengan tenang yang membuat semua orang langsung menatap kearah nya dengan terkejut.


"Kau tidak mengatakan hal itu kepada Papa Ryan." Ucap Om Ben dengan bangga.


"Aku bilang itu bukan apa-apa." Ucap Ryan lagi.


Tapi matanya terlihat tampak begitu berbinar.


"Baiklah." Ucap Om Ben.


...----------------...


Waktu berlalu setelah beberapa jam kami makan minum dan mengobrol. Aku pun tersenyum kepada Om Ben.


"Aku harus pergi sekarang Nyonya Abraham. Aku harus mengunjungi Mamaku di rumah sakit sekarang." Ucap ku melihat kearah Ryan.


Ryan sudah menatapku dengan tatapan matanya yang begitu intens dan tidak berpindah ke arah manapun.


"Aku akan mengantar mu kesana." Ucap Ryan mengenakan mantel nya dengan cepat


"Pria yang baik." Ucap Nyonya Abraham seraya mengusap kepala Ryan dan aku tertawa melihat ekspresi Ryan yang merasa kesal.


"Aku sudah berusia 27 tahun Ma." Ucap Ryan lalu menggandeng tanganku menuntunku menuju pintu.


"Ayo cepat." Ucap Ryan dengan kasar.


"Ada apa denganmu, dasar pria brengsek." Ucapku kesal seraya mendorong kepalanya karena dia meninggalkan aku begitu saja.


"Kau menggoda pria itu sepanjang siang ini dan kau masih bertanya kepadaku?" Ucapnya langsung mendorong ku kearah pintu mobil melihat ke arahku dengan matanya tampak kesal seperti itu.


Aku hanya berkedip sebentar, tapi dia langsung mendekat ke arahku dan menggigit bibirku.


"Apa aku tidak cukup untukmu?" Tanya Ryan mulai menjalankan tangannya ke arah leherku.


Aku merasa bahwa wajahku langsung memerah saat dia mulai membuka kancing pakaiannya untuk menunjukkan tubuhnya yang tampak keren itu dan dasinya juga sudah dia longgar kan.


"Bicaralah Rossa, gunakan kata-katamu." Ujarnya seraya mencium telingaku.


"Hmmm.... iya." Balasku dengan suara yang terpaksa keluar dari bibirku.


Aku bernapas dengan berat dan merasa mulai bergairah.


"Iya apanya?" Tanya Ryan mulai mencoba melepaskan pita yang ada di gaunku itu.


Dia membalik tubuhku dan mencium punggung ku yang terbuka. Dadaku mengenai dinding besi dari pintu mobil.


"Iya, kau sudah cukup untuk ku." Ucapku terbatuk saat tangannya mulai memegang dada ku.


Dia terus mencium punggungku.


"Aku benar-benar perlu pergi ke rumah sakit sekarang Ryan." Ucapku walaupun aku sebenarnya sudah begitu bergairah.


"Mama mu akan baik-baik saja jika kau terlambat 10 menit." Bisik nya saat dia mulai mencium leherku membuatku menghela nafas dengan begitu penuh hasrat.


Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini saat seorang pria mencium setiap sudut tubuhku yang membuatku merasa begitu penuh hasrat.


"10 menit." Ucapku dengan suara yang gemetar.


"Tentu saja 10 menit." Balasnya dengan tersenyum saat dia berada di antara dadaku dengan bibirnya yang tampak basah itu.


Bersambung....