
PoV Ryan Abraham
Aku bangun dengan awal yang baru, dengan perasaan yang baru. Tubuhku penuh dengan keringat.
Rossa....
Nama itulah yang selalu keluar dari dalam mulutku setiap saat aku terbangun dari tidurku.
Beberapa tahun ini, aku selalu merasa sedih setiap kali aku bangun pagi karena Rossa tidak ada bersamaku. Pagi ku terasa hampa dan begitu kosong. Namun hari ini, semuanya begitu berbeda.
Saat aku terbangun dan membuka mataku, aku menyadari bahwa dia terbaring di sisiku dengan lengannya yang berada di dadaku dan kakinya ada di tubuhku. Wajahnya berada di leherku dan rambutnya yang hitam tampak menutupi wajahnya.
Dia terdengar mendengkur dengan halus dan mulutnya tampak terbuka. Dia masih tampak sama seperti dulu saat terakhir kali aku bangun disisinya.
"Aku sangat mencintaimu." Bisik ku dengan semakin membuat tubuh kami menjadi sangat dekat sampai tidak ada jarak diantara kami berdua Aku menyeka rambut hitamnya ke belakang telinganya.
Rossa mengatakan sesuatu kemudian membuka matanya secara tiba-tiba.
"Kau menakuti ku." Ucapnya.
Aku tertawa langsung mencium keningnya.
"Ryan." Ucapnya dengan suara yang terdengar masih mengantuk.
"Apa?" Tanyaku.
"Berhentilah menatapku saat aku tertidur." Ucapnya lalu melempar bantal ke arahku.
"Aku pikir kau akan sedikit berkurang dari sifat nakal mu setelah beberapa tahun ini." Ucapku lalu terbangun.
"Diam lah!" Ucapnya dengan menguap.
Aku memutar mataku dan masuk ke dalam kamar mandi membuka pakaianku. Air dingin langsung mengenai wajahku yang masih mengantuk ini.
Tangan yang panjang lentik dan langsing tiba-tiba melingkar di dadaku dan kepala Rossa terasa menyandar di punggungku.
Aku mencoba untuk melepaskan jemarinya yang memelukku. Dia malah membalik tubuhku menekan diriku ke arah pintu dan menciumku. Aku memegang rambutnya membiarkan dia menciumku. Rossa lalu menarik ku dengan menyeringai dan menaruh sabun yang dia ambil dari rak. Aku menatapnya menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, tapi dia malah menaruh sabun itu di tubuhnya.
"Kau hanya ingin untuk membuatku memanas." Ucapku ke arahnya kemudian melihat ke arah bawah tubuhku.
Dia mengikuti tatapan mataku dan tampak tersipu.
"Iya..." Balasnya tertawa.
Mulutku begitu menganga. Aku menjadi begitu kesal dan langsung berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Seorang wanita yang merupakan housekeeping masuk ke dalam kamar dan dia berdeham kemudian berhenti melangkah. Dia tampak terkejut melihat tubuhku yang polos.
"Sial....!!" Ucapku menutup barang berhargaku dan kembali berlarian masuk ke dalam kamar mandi merasa begitu malu.
Rossa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ku di wajahku.
"Wanita malang itu dia tidak akan pernah berhenti memikirkan bayangan dari barang berharga mu itu dari dalam kepalanya." Ucapnya kembali tertawa.
"Diam lah...!" Balasku menatap ke arahnya.
"Maaf.... maaf." Ucapnya berhenti tertawa melihat ke arahku.
Namun, beberapa detik kemudian dia mulai tertawa lagi. Bahkan air mata keluar dari matanya dan jatuh ke pipinya.
"Karina Rossa...." Teriakku lalu langsung menariknya.
Aku lalu menciumnya dengan marah. Aku memegang pinggangnya dan mengangkat tubuhnya lalu membuat dia melingkarkan kakinya di tubuhku. Aku lalu mencium dagu dan juga lehernya.
"Kau sangat suka untuk menggodaku." Ucapku frustrasi dan membenamkan wajahku di lehernya.
"Aku memang sangat suka mengganggumu." Ucapnya dengan tertawa lalu turun dari tubuhku menutup tubuhnya dengan sebuah handuk.
Setelah itu dia lalu berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
Bersambung.....