
PoV Karina Rossa
Aku menatap ke arah punggung pria yang tidak menggunakan pakaian yang ada di depanku itu. Aku tidak bisa menolak apa yang ada dalam hatiku sendiri. Aku menginginkannya lebih dari sekedar hubungan di atas ranjang. Sebenarnya aku sangat membutuhkannya.
Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya dengan melingkarkan tanganku di dadanya. Aku menjalankan tanganku di otot dadanya dan kemudian turun ke arah perutnya lalu beralih ke arah bagian bawah perutnya.
"Apa kau memasak?" Tanyaku kepadanya dengan penasaran.
Dia mengangguk sambil terus berkonsentrasi dengan memotong wortel.
Aku melepaskan pelukanku dan mengambil sepotong keju dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Dingin." Ucapku dengan suaraku yang sedikit gemetar.
Aku menelan keju itu.
"Aku perlu melakukan sesuatu dan itu akan membutuhkan waktu. Tapi kau akan sangat menyukainya." Ucap Ryan berbalik ke arahku menghela nafas.
"Baiklah jangan sampai membuat makan malam gosong." Ucapku.
Dia memotong sayuran yang membuat aku tertawa kecil.
"Aku yakin ini semua akan sempurna." Godaku kepadanya lalu melompat sebelum dia bisa menangkap ku.
"Iya Nyonya." Ucapnya fokus dengan memotong sayurannya.
Aku lalu berjalan ke arah kamar mandi. Aku hendak mewarnai rambutku hari ini. Sebentar lagi akan tahun baru, jadi aku butuh awal yang baru.
Aku menggunakan jersey bola basket ku yang lama dengan hati-hati membersihkan wajahku dan menaruh krim di dahi ku. Aku mengenakan sarung tangan latex lalu mencampur bahan-bahan yang aku gunakan untuk mewarnai rambutku dengan sisir berwarna hitam di sebuah mangkuk kecil.
Aku dengan hati-hati mencampur semuanya kemudian mengusapnya di rambutku, lalu menaruh penutup kepalaku untuk menunggu. Setelah beberapa menit menunggu, aku pun selesai mewarnai rambutku dan kemudian membersihkannya lalu melihat ke arah cermin. Rambutku sekarang berwarna lilac terang dan menurut pendapatku sendiri, aku terlihat begitu menakjubkan.
Aku mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer dan menggoyangkan rambutku yang berwarna lilac itu dengan lembut dengan begitu bahagia. Aku berganti pakaian menggunakan celana pendek dan tank top, lalu keluar dengan perasaan begitu bahagia untuk melihat bagaimana reaksi Ryan nantinya.
"Ryan." Ucapku memanggil dirinya dan melihatnya tengah mendengar sebuah berita di televisi.
Dia memegang kepalanya tersenyum kemudian dia terlihat terkejut.
"Rossa.... kau terlihat...."
Dia lalu mengangkat tubuhku dan membuat aku duduk di pangkuannya.
"Kau tampak sangat menakjubkan sayang." Ucapnya tersenyum tulus membuatku merona.
"Aku tahu dan Pak Ryan, aku harap kau tidak tersenyum kepada semua wanita seperti ini." Ucapku dengan perasaanku yang mendadak merasa sedih.
Wajah Rian tampak berubah dengan ekspresinya yang tampak terluka dan hatiku ikut terluka juga.
"Bagaimana jika aku melakukannya?" Tanya Ryan dengan menaikkan alisnya.
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan mematikan.
"Aku akan membunuhmu. Kau seorang pembohong." Ucapku dengan suara yang terdengar keras.
Ryan tertawa lagi dan dia langsung menggendongku ke arah meja makan.
"Ini rasanya tidak terlalu buruk." Ucapnya menunjuk ke arah mangkuk yang ada di atas meja.
Aku pun mengangguk untuk mengapresiasi hasil dari masakannya itu.
"Tidak buruk tidak buruk. Di masa depan nanti, aku akan menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan besar dan kau akan menjadi suamiku yang terus menjagaku dari rumah." Ucapku tertawa.
"Iya Nyonya." Balasnya.
Aku lalu mengangkat sebuah garpu dan mencicipi mie yang dia masak.
"Apakah rasanya lezat?" Tanya Ryan kepadaku dengan suara yang terdengar begitu gugup.
Aku lalu mengacungkan ibu jariku kepadanya.
"Ini enak." Ucapku dengan menutup mulutku dengan tanganku.
"Hanya enak saja? Kau seharusnya memuji pria mu yang bisa memasak sekarang." Ucapnya terlihat kesal yang membuatku memutar mataku malas.
"Saat seorang pria memasak, itu adalah sebuah seni dan saat seorang wanita memasak itu sudah menjadi bagian dari tugasnya." Ucapku kepadanya.
Bersambung....