
PoV Ryan Abraham
Aku menarik Rossa untuk masuk ke dalam ruangan ku meninggalkan Sarah yang tengah mengobrol dengannya. Dia tampak berdiri dengan penuh percaya diri di depanku. Sementara aku memilih duduk di mejaku dan menatap wajahnya yang begitu nakal. Bagaimana seorang wanita bisa begitu seksi? Namun dia juga tampak nakal. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diriku untuk tergoda pada dirinya.
"Aku minta maaf atas kejadian pagi ini." Ucapku pada Rossa.
Dia melihat ke arahku dengan menaikkan alisnya. Dia seharusnya bisa merasa begitu terhormat karena dia adalah orang ketiga yang pernah membuat aku meminta maaf selama usia ke 25 tahun dalam hidup ku ini.
"Kau menyebutku sebagai wanita murahan dan juga ****** dan sekarang kau langsung meminta maaf kepadaku seperti ini?" Ucapnya kepadaku.
Rahang ku mengeras. Dia belum juga mau bicara dengan formal kepadaku seperti biasanya, dan hal ini membuatku kesal karena aku merasa dia tidak mau menghormati aku.
"Jangan merusak keberuntungan yang aku berikan padamu sekretaris Rossa. Ucapku menatap ke arah wajahnya dengan begitu intens.
Aku begitu kesal dan melangkah maju ke arahnya. Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Tapi beberapa saat berikutnya, kami sudah mendekat satu sama lain dengan bibir merahnya yang sudah menyatu dengan bibirku. Dia melingkarkan lengannya di leherku. Aku terus menariknya bergerak mendekat ke arah pintu tanpa merusak ciuman kami. Aku lalu langsung mengunci pintu ruangan ku.
Dia menarik ku semakin mendekap tubuhnya dan tanpa paksaan dia mulai membuka pakaian yang aku kenakan.
"Wah, kau begitu tidak sabaran Nona Rossa." Ucapku kepadanya dengan mataku yang penuh hasrat.
"Diam lah! Jangan membuat semua ini menjadi penyesalan." Ucapnya menarik celanaku turun.
Dia menyeringai ke arahku. Aku lalu melakukan hal yang sama kepadanya dan langsung mencium bibirnya dan memulai ciuman kami dengan semakin penuh hasrat.
"Oh sayang, kau tidak akan menyesali hal ini." Ucapku mendorong dia ke atas mejaku.
Rambutnya langsung tergerai ke atas mejaku.
(Mohon maaf author tidak akan bisa menjelaskan lebih banyak lagi karena takutnya tidak akan bisa lolos review. Author akan langsung melanjutkan cerita setelah mereka menyelesaikan adegan panas mereka) ๐
...****************...
PoV Karina Rossa
Aku bangun dari atas meja dengan nafas yang terengah-engah. Aku merasakan rasa sakit di seluruh tubuhku. Pria ini benar-benar buas. Aku melihat ke arahnya yang tengah memakai pakaiannya dan tampak memikirkan sesuatu dalam kepalanya. Aku tahu apa yang tengah dia pikirkan.
"Apa yang sudah kita lakukan? Bukankah ini seharusnya menjadi hubungan satu kali saja?" Ucapku kepadanya mencoba untuk membuat suaraku terdengar sejelas mungkin.
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kau serius menyalahkan aku? Kau... Ucapku dan berbalik untuk memunggungi dirinya.
Aku lalu memeriksa semua pakaianku, apakah sudah aku kenakan dengan baik lalu menggerai rambutku. Aku bisa melihatnya dari dinding yang terbuat dari cermin tampak menyugar rambutnya dalam rasa frustrasi. Aku lalu berjalan hendak keluar dari ruangannya.
"Kau jangan berani-beraninya keluar seperti itu." Teriaknya kepadaku.
Aku berhenti berjalan mendekat ke arah pintu dan melihat ke arahnya dengan bingung.
"Apa peduli mu?" Ucapku melihat ke arah pantulan diriku di dinding cermin.
Dia memang benar. Jika aku keluar dengan kondisi seperti ini, pasti akan menyebabkan gosip yang besar. Leherku penuh dengan tanda merah. Bahkan rambutku tidak bisa membodohi semua orang.
"Tentu saja kau bisa keluar, dan kau bisa merusak reputasi mu sendiri." Ucapnya.
Aku marah kepadanya lalu dengan cepat pergi ke arah ruangan ku yang berada di sebelah ruangannya. Aku mengambil pakaianku yang aku simpan di dalam lemari ku sebagai pakaian untuk jaga-jaga. Semua pakaian itu serba hitam, sebuah pakaian dengan leher yang panjang, celana hitam panjang dan topi juga berwarna hitam.
Aku dengan cepat mengenakan semua pakaian itu.
"Apa kau sengaja menyimpan semua itu, agar kau bisa menggunakannya setelah kau berhubungan dengan beberapa karyawan menyedihkan di sini?" Ucap suara bos brengsek ku itu datang dari belakangku.
Namun aku bisa dengan jelas mendengar dia seperti cemburu dari suaranya itu.
"Tentu saja tidak Pak Ryan. Apa anda masih ingat putri cantik yang ingin berhubungan dengan anda waktu itu? Dia menjatuhkan kopi di seluruh tubuh saya di hari pertama saya bekerja di sini. Jadi saya mulai menyimpan barang-barang saya di sini agar para kekasih anda itu tidak akan memiliki kesempatan untuk merusak pakaian saya lagi." Ucapku dengan kembali bicara formal padanya.
Dia menaikkan alisnya karena rasa terkejut.
"Bukankah kau sudah menuangkan air dingin di rambutnya sebagai balasan." Ucapnya.
Aku menyeringai. Aku memang melakukan hal seperti itu di hari itu dengan menyirami wanita itu dengan air dingin dari rambutnya.
"Mungkin." Balas ku dengan tertawa mengingat kejadian hari itu.
Bersambung....