My Bossy CEO

My Bossy CEO
Berbelanja



PoV Karina Rossa


Tiga bulan kemudian....


Aku melihat ke arah wanita membosankan yang ada di depanku saat Mama tengah membaca majalah.


"Rossa...." Ucap suara Ryan yang datang dari pintu.


"Ryan..." Akhirnya ucapku.


Ryan berjalan masuk dan langsung melepaskan kecupan di bibirku. Wanita yang ada di depanku melihat ke arahnya dengan tatapan yang begitu tertarik dan wajahnya terlihat memerah.


"Bisakah kau lebih cepat?" Ucapku pada wanita itu.


Besok adalah hari kelulusanku dan aku harus mendapat perawatan terbaru hari ini di salon. Wanita di depanku tengah memberikan treatment padaku.


"Oh ya Tuhan, aku tengah melakukannya." Ucap wanita itu berkedip kepadaku.


"Ini akan dikirimkan padamu tepat jam 07.00 pagi besok." Ucap wanita itu dengan pena di mulutnya.


Aku mengangguk dan memakai hills ku lagi.


"Ayo pergi." Ucapku kepada Ryan yang melihat ke arah sesuatu di tangannya.


Dia lalu menaruh benda itu ke dalam sakunya dan mengikuti ku dengan tersenyum.


"Iya Nyonya." Ucap Mama kepada wanita itu lalu melambaikan tangannya kepada kami.


Kami pun kembali dan mengantar Mama lebih dulu pulang ke rumah.


"Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini? Tidur atau makan?" Tanya Ryan mengusap tangannya dengan bahagia.


"Keduanya." Balas ku.


Setelah itu aku lalu membawanya pergi ke supermarket.


"Kapan terakhir kali kau pergi berbelanja?" Tanyaku mengambil beberapa snack dan bahan-bahan lainnya lalu memasukkannya ke dalam troli.


"Minggu lalu aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di perusahaan." Ucapnya melihat ke arah rak yang berisi berbagai macam coklat.


"Kau begitu kekanakan." Ucapku tertawa dan mengambil beberapa snack lagi.


"Aku belajar dari orang yang terbaik. Apakah kita akan makan semua itu?" Tanya Ryan melihat ke arahku dengan bingung.


"Aku akan memakannya. Kau bisa memakan sisa ku nanti." Ucapku bercanda.


Aku lalu menaruh beberapa apel ke dalam troli itu. Aku hanya ingin menjadi lebih sehat dengan memilih beberapa buah dan sayuran. Ryan memelukku dari belakang dan mendorong troli itu untukku.


"Lepaskan aku." Ucapku seraya mengambil beberapa nugget.


"Tidak!" Balasnya.


"Ryan...!" Ucapku.


"Pergilah!" Ucapku seraya mendorongnya.


Beberapa orang wanita melihat ke arah Ryan dengan mata yang terpesona.


"Tidak, kembalilah kemari." Ucapku menarik nya kembali ke posisi awalnya tadi memelukku dari belakang.


Dia tertawa lembut dan mencium leherku. Tiba-tiba aku merasa tangannya masuk ke dalam jaket ku.


"Ryan apa yang kau...." Ucapkan ku berhenti saat rintihan ku keluar tepat saat dia memegang dadaku.


Aku lalu memegang belalainya dan mengusapnya.


"Oh ya Tuhan...!" Ucap Ryan mendekat ke arah telingaku.


Aku kemudian aku meremas belalainya itu.


"Sial.... Maaf!" Ucapnya mendorong ku menjauh darinya karena rasa sakit.


Aku pun menyeringai ke arahnya.


"Beberapa hal lebih baik dilakukan di atas tempat tidur di kamar kita dan bukan disini." Bisik ku ke telinganya dan dia pun menjauh dariku dengan marah.


"Dasar wanita nakal." Ucapnya kembali memeluk pinggangku dan menaruh kepalanya di pundak ku.


"Pria mesum." Bisik ku dan mengambil beberapa dua paket roti.


"Kau mau yang ini atau yang ini?" Tanyaku kepada Ryan yang tampak menguap dengan wajah yang begitu menggemaskan.


"Keduanya." Ucap Ryan kembali menaruh kepalanya di pundak ku.


"Pria baik." Ucapku lalu menaruh kedua jenis roti itu ke dalam troli.


"Coklat yang mana?" Tanyaku lagi melihat ke arah beberapa jenis coklat yang ada di depan kami.


"Ambil saja semuanya." Ucap Ryan dengan bicara di leherku.


"Gigi kita akan rusak nanti." Ucapku tertawa.


"Tapi coklat itu akan mencintai kita." Balasnya memutar rambutku di jemarinya.


Setelah itu, aku lalu mendekat ke arah kasir dan Ryan akhirnya melepaskan aku dan mengeluarkan dompet dari dalam sakunya.


"Aku yang bayar." Ucap kami berdua di saat yang bersamaan.


"Akulah prianya." Ucap Ryan menggeser ku dan hendak memberikan kartunya ke kasir.


"Tapi akulah wanitanya." Ucap ku mengambil kartunya dari kasir itu dan memberikan kartuku. "Kau harus lebih cepat dari itu Ryan." Ucapku dan mengambil struk belanja dari kasir itu.


"Lain kali biar aku yang bayar." Balas Ryan.


Bersambung....