
PoV Karina Rossa
Aku berbaring dengan lama di atas tempat tidur. Tubuhku terasa begitu sakit. Ini sebenarnya terjadi bukanlah karena kesalahanku, semuanya karena Ryan yang memaksaku keluar rumah dalam cuaca dingin seperti ini.
Aku harus ku melangkah keluar kamar. Aku lalu melihat kearah pria yang masih tertidur dengan nyenyak dengan mulutnya yang tampak menganga itu.
"Hoek....!"
Aku kembali muntah di toilet dan Choko, kucing besar ku itu mengikuti aku. Aku terus saja muntah sejak beberapa saat yang lalu setelah melakukan hubungan itu di roof top. Disana cukup dingin, tapi rasanya sangat memuaskan. Aku menghela nafas dalam saat aku mulai menggosok gigiku untuk yang ke sepuluh kalinya dalam waktu 1 jam ini.
"Apa bagimu aku terlihat baik-baik saja?" Ucapku menatap kearah Ryan yang tempat mengusap bekas busa pasta gigi yang ada di pipiku dengan begitu lembut.
Aku menampik tangannya dengan begitu kasar.
Aku memang kejam, tapi sekarang aku sedang tidak ingin bersikap romantis dengannya dengan kondisiku yang seperti ini.
"Aku akan mengambil obat untuk mu." Ucap nya tidak menghiraukan sikap kasar yang aku lakukan kepadanya.
Dia lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Aku hanya memutar mataku malas dan kemudian kembali melompat ke atas tempat tidurku yang empuk itu.
"Ambil ini." Ucap Ryan menyerahkan 2 tablet obat kepadaku dan juga segelas air.
"Tidak." Ucapku dengan suara yang pelan karena mulutku tertutup sebuah bantal.
"Rossa." Ucapnya dengan suara yang kelelahan dan memohon kepada ku.
"Baiklah. Kau tahu, aku tidak bisa menolak mu." Ucapku seraya mengambil obat itu dari tangannya kemudian menelannya.
"Tidurlah, kita masih punya waktu liburan sampai besok." Ucapnya seraya duduk di sampingku.
"Apakah kau akan menyanyikan sebuah lagu untukku?" Ucapku kepadanya dengan mata yang mulai terasa mengantuk.
Ryan terdengar tertawa kecil.
"Tidak." Ucap Ryan seraya menggelengkan kepalanya dengan lembut.
"Bagus." Ucap ku lalu mulai tertidur dan jatuh ke dalam dunia mimpiku.
...****************...
PoV Ryan Abraham
Aku menatap Rossa yang tertidur dengan raut wajahnya yang perlahan berubah setelah meminum obat itu. Ini bukan suatu hal yang baik karena aku semakin tertarik kepada nya dibandingkan dengan yang aku pikirkan dan sekarang aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup tanpa dirinya.
Tanpa adanya dirinya dan makanannya yang dia masak dengan begitu enak dan juga kemarahan nya dan sikap nakalnya itu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan nya.
Aku hanya bisa menatapnya dalam diam.
'Wanita seperti apa yang membuatku jatuh cinta ini?' ucapkan dalam hati.
Layar ponsel ku tampak menyala, ternyata Mama menelpon ku. Mungkin Mama ingin bertanya kenapa aku tidak menghabiskan waktu bersama mereka hari ini.
"Ryan di sini." Ucapku dengan singkat.
"Nak, kenapa kau tidak menghabiskan waktu bersama kami untuk menghitung mundur waktu tahun baru." Ucap Mama dengan suara yang terdengar kecewa kepadaku.
"Aku tengah sibuk Ma." Ucapku berbohong dan mendengar Mama menghela napas.
"Joe menanyakan tentang Rossa, bisakah kau......"
Aku mengepalkan tanganku dengan sangat keras.
"Rossa tidak suka kepada Joe." Ucapkan dengan marah.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu?" Tanya Mama dengan tajam padaku.
Aku merasa begitu bahagia melihat kearah wanita yang tampak tidur dengan begitu nyenyak sampingku ini.
'Karena aku mencintainya oke Ma. Aku tidak mau dia bertemu dengan orang lain.' Ucap ku dalam hati ingin berteriak ke arah ponsel dengan mengatakan semua hal itu.
"Aku mengetahui hal itu karena temannya yang mengatakannya kepadaku." Ucapku dengan menggelengkan kepalaku karena membuat kebohongan yang begitu bodoh seperti itu.
Mama terdiam beberapa saat.
"Baiklah." Ucap Mama lalu menutup sambungan telepon dengan suara Mama yang terdengar begitu jelas marah kepadaku.
Aku menghela nafas dan melihat ke arah wanita yang melihat ke arahku dengan matanya yang tampak membelalak itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya.
Aku berpikir apakah dia tengah mengalami demam.
"Iya." Balasnya langsung memelukku ke arahnya dan aku mengusap rambutnya dengan sangat lembut.
'Ya Tuhan aku ingin agar kami bisa menyatu dan dia akan mati dengan menua bersamaku.'
Bersambung....