
PoV Ryan Abraham
Aku berlari di sekeliling hotel mencari keberadaan Rossa yang menghilang secara misterius saat aku menghadapi Mamaku.
"Apa kau melihat Rossa?" Tanyaku kepada Aldo yang tengah menggendong putrinya.
"Apakah kau melihat Sarah?" Tanya Aldo balik kepadaku seraya mengusap kepalanya.
"Ayo kita cari bersama..." Ucapku.
Aku begitu bingung, kenapa kedua wanita itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Aku dan Aldo, tiba-tiba mendengar suara teriakan dari ruangan lainnya.
Aku langsung dengan cepat berjalan ke arah ruangan itu dan hendak membuka pintu ruangan itu, tapi aku berhenti saat mendengar suara obrolan dari dalam.
"Kau lah yang menelpon Nyonya Abraham bukan begitu? Apakah kamu belum merasa cukup atas semuanya? Kau sudah menikah dengan Aldo apalagi yang kau perlukan?" Ucap Rossa dengan tenang, tapi suaranya terdengar terdengar sedikit kesal.
"Jangan lihat aku seperti itu wanita ******! Kau punya semuanya dan aku tidak punya apapun. Kau selalu mendapatkan hal yang terbaik dan aku membencimu karena hal itu." Ucap Sarah dengan suara yang berteriak pada Rossa.
Aldo berdiri mematung di depanku mendengarkan suara istrinya itu.
"Sarah, aku memaafkan mu karena sudah berselingkuh dengan Aldo dan bahkan kau sampai tidur dengannya. Aku juga memaafkan mu karena kecelakaan yang kau sebabkan untukku dan juga Ryan. Tapi sekarang kau ingin merusak pernikahanku? Apa yang sebenarnya ada didalam pikiranmu itu? Kau seharusnya malu!" Ucap Rossa.
Alisku mengkerut karena terkejut mendengarkan fakta yang dikatakan Rossa. Jadi Sarah adalah orang yang sudah mengatur kecelakaan yang terjadi kepadaku dan Rossa waktu itu.
"Sebenarnya tidak. Aku tidak akan pernah berhenti untuk membencimu, tidak akan pernah." Ucap Sarah dengan suara keras yang terdengar menggila.
Aldo tiba-tiba tidak dapat menahan semua itu lagi. Dia langsung mendobrak pintu dan menatap ke arah kedua wanita itu. Satu wanita memperlihatkan wajahnya yang tampak begitu pucat ketakutan dan juga terlihat begitu terkejut dalam sorot matanya dan wanita lainnya terlihat percaya diri, arogan, dingin dan tampak tidak memiliki ekspresi apapun di wajahnya.
"Rossa...." Ucapku langsung memegang tangannya.
"Tentu saja kau pasti sudah mendengar semuanya." Ucap Rossa tampak kesal tapi matanya berubah melembut dan dia pun menggenggam tanganku.
"Aku sudah menghadapi Mamaku dan bicara dengannya tadi. Mama tidak akan memiliki masalah lagi dengan hubungan kita." Ucapku memeluk Rossa.
"Selama aku bisa bersamamu, semuanya akan baik-baik saja." Bisik Rossa mencium bibirku dengan lembut.
Aku lalu berbalik menatap ke arah Aldo dan Sarah, kedua pasangan yang tengah berargumen keras.
"Kau hampir membunuh Rossa, Rossa ku. Dia sampai harus melindungi aku dari hal buruk yang akan terjadi dari kecelakaan itu. Dia melindungi mu dengan harapan bahwa kau bisa berubah. Tapi aku tidak sebaik itu. Aku akan memastikan bahwa kau akan masuk ke penjara." Teriakku dengan suara yang terdengar begitu keras.
Rossa langsung memegang tanganku. Dia sepertinya berusaha untuk meredakan amarah yang ada dalam diriku.
"Biarkan saja dia. Aku tidak mau dia pergi ke penjara. Aku akan selalu menganggapnya sebagai sahabat baikku." Ucap Rossa.
Aku sebenarnya begitu marah tapi aku melihat ke arah wajah Rossa yang melihatku seolah memohon agar aku tidak melakukan apapun pada Sarah.
"Aku harap aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi Sarah atau aku akan....."
"Baiklah kita akan pergi sekarang." Ucap Rossa menyela ucapanku.
Dia menarik ku keluar dari kamar itu dan langsung membawaku ke arah kamar lainnya. Dia tidak membiarkan aku menyelesaikan ucapan ku terhadap Sarah.
Dia langsung menciumku dengan penuh hasrat mendorong jas yang aku kenakan jatuh dari pundak ku, membuka kemeja yang aku kenakan. Aku benar-benar terkejut akan tindakannya yang tiba-tiba itu.
"Apakah ada yang salah?" Tanyaku kepadanya seraya mengusap rambutnya.
"Iya...." Ucapnya membuka pakaianku. "Tubuhmu belum polos sepenuhnya, dan itulah yang salah." Ucapnya.
Aku tertawa dan melihatnya membuka gaunnya dari kepala sampai menendang sepatu heels yang dia gunakan.
"Ryan Abraham, aku mencintaimu." Ucapnya.
Aku tersenyum ke arahnya dengan tulus.
"Aku juga mencintaimu Rossa." Balasku dengan tulus.
Bersambung...