My Bossy CEO

My Bossy CEO
Mabuk



PoV Ryan Abraham


Aku begitu mabuk untuk mengetuk pintu dari apartemen kami. Aku merasa begitu familiar dengan sakit kepalaku. Aku merasa semua di sekeliling ku begitu buram dan sangat pusing karena alkohol yang aku minum tadi sudah memasuki seluruh tubuhku.


Pintu tampak terbuka perlahan dan Rossa melihatku dengan tatapan marah. Dia terlihat begitu cantik dengan sinar bulan. Pipinya tampak begitu halus, bibirnya yang memerah dan wajahnya yang begitu cantik mempesona tanpa mengenakan make up sedikitpun.


"Ryan kau bau!" Ucapnya lalu menarik ku masuk ke dalam apartemen dan mendorongku ke arah sofa.


"Sedikit saja." Balas ku menyandarkan kepalaku di ujung sofa dan melihat dia berlari ke sekeliling ruangan.


"Cepat minum ini." Ucapnya seraya memberikanku 2 tablet obat yang aku minum dengan bantuan beberapa teguk air.


"Apa yang kau minum? Kau tahu bahwa alkohol tidak baik untuk menarik semua ucapan mu kembali sekarang." Ucapnya seraya melonggarkan dasi ku dan mulai membuka kancing pakaianku satu persatu.


"Kau begitu baik." Ucapku melihat ke arah matanya yang tampak begitu indah.


Rambutnya begitu halus hingga bisa membuat jemariku berlari di sana.


"Ya Tuhan, kau begitu mabuk. Dasar sialan!" Ucapnya mengumpat memarahi aku.


"Aku sudah gila padamu." Ucapku dan momen berikutnya dia langsung melemparkan sebuah tempat sampah ke arahku.


Aku langsung muntah begitu banyak alkohol yang aku minum tadi. Saat aku melihat ke atas, Rossa tampak begitu kesal.


"Mandilah sekarang!" Ucapnya.


Aku membeku dan sedikit tertawa.


"Kau begitu cantik!" Ucapku kemudian semuanya mulai gelap.


Saat aku bangun lagi, aku berada di dalam bathtub dan Rossa tengah menggosok tubuhku dengan sangat keras yang bisa membuat kulitku terasa terkelupas.


"Terlalu keras, ini sakit!" Ucapku menggoyangkan tanganku.


"Apakah aku memintamu untuk minum terlalu banyak?" Tanya Rossa lalu menaruh shampo di kepalaku.


"Tidak... Aku minum tidak terlalu banyak. Ini minuman yang mahal." Ucapku mengambil botol shampo dari tangannya. "Ini adalah shampo berhargaku." Lanjutku.


Aku pun kembali tidak sadarkan diri.


...----------------...


Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan gugup dan menutup wajahku dari cahaya matahari.


"Aku sudah meminta izin satu hari untuk menjaga dirimu. Tidurlah lebih lama lagi." Ucap Rossa dengan suara yang berasal dari sudut kamar.


Dia lalu duduk di sebuah kursi dengan segelas air di tangannya dan ada file di pangkuannya.


"Tidak, aku sudah bangun. Aku minta maaf atas kejadian kemarin." Ucapku.


"Minta maaf atas hal yang mana?" Tanya Rossa dengan menjengkelkan.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar takut kau akan meninggalkan aku dengan pria brengsek langsing bernama Aldo itu atau siapapun itu." Ucapku berjalan mendekat ke arahnya dan menyadari bahwa aku tidak mengenakan pakaian.


Aku lalu menarik celana dan mengenakannya.


"Kenapa kau tidak percaya kepadaku bahkan sedikit saja?" Ucapnya.


Hatiku merasa begitu terluka dengan ekspresi dingin yang tampak di wajahnya.


"Aku mempercayaimu Rossa. Dengar...! Aku mencintaimu oke, tolong! Ayo kita berciuman dan berhubungan diatas ranjang saja." Ucapku ingin mencairkan suasana.


Dia melihat ke arahku dengan alisnya yang naik dan dia langsung menarik ku. Jemarinya yang lentik itu memegang tanganku dan dan menggerakkan bibirnya di rahang ku.


"Ini tidak akan berakhir dengan cepat." Ucapnya tapi dia langsung mencium bibirku.


Tubuh kami menyatu bersama dalam kesempurnaan.


Dengan mencium Rossa, aku seolah merasa bahwa itu adalah ciuman pertama kami. Bahkan walaupun kami sudah melakukan hal ini sering kali, aku tidak akan pernah merasa lelah untuk sentuhan lembut dari lidahnya padaku.


"Terima kasih." Bisik ku padanya.


Bersambung...