
PoV Ryan Abraham
Aroma makanan yang lezat tercium di hidungku. Aroma itu berasal dari dapur yang terbuka. Aku mendekat ke arah dapur dan melihat Rossa yang tampak tengah membalik omelette dengan satu tangan dan memberikan makanan kepada Choko, kucingnya dengan tangan lainnya.
Kucing bodoh itu tampak melihat ke arahku dengan tatapan menyeramkan. Aku tidak menghiraukan tatapan garang kucing itu dan fokus kepada wanita cantik yang tengah memasak itu.
"Siapa yang mengajari mu memasak?" Tanyaku kepada Rossa saat dia tampak menaruh makanan di atas dua piring.
Rossa lalu memotong buah dan menaruhnya di dalam sebuah mangkok.
Rossa mulai menyajikan makanan diatas meja makan.
"Duduk." Ucapnya memerintahkan aku, tidak menghiraukan pertanyaan yang aku ajukan kepadanya.
Aku pun mengikuti perintahnya dan duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.
"Iya Nyonya." Balasku lalu mengambil garpu untuk mencicipi makanan yang dibuatnya.
Tapi Rossa menghentikan aku dengan menepis tanganku. Aku melihat ke arahnya dengan penuh pertanyaan.
Dia menutup matanya. Bulu matanya yang lentik itu tampak begitu indah.
"Terima kasih Tuhan atas nikmat yang kau berikan." Ucapnya berdoa.
"Sekarang makanlah." Ucapnya lagi.
Aku lalu memutar mataku malas dengan perintah yang selalu dia berikan itu.
"Ini rumahku dan peraturan dariku." Ucapnya menyadari ekspresi yang aku lakukan.
Aku menyeringai ke arahnya, tapi tidak mengatakan apapun. Aku lalu mulai menyantap makanannya.
"Oh ya Tuhan!" Ucapku begitu senang karena makanan yang dia masak itu benar-benar meleleh di dalam mulutku.
"Tolong masaklah untukku setiap hari sekretaris kesayanganku." Ucapku melihat ke arahnya dengan mata yang berbinar.
...****************...
PoV Karina Rossa
Aku melihat ke arah pria yang mencoba untuk bertingkah menggemaskan di hadapanku ini dan dia tampak benar-benar begitu senang dengan makanan yang aku buat untuknya. Aku pun merasa tersanjung dan telingaku terasa memerah.
Aku melanjutkan menyantap makananku seraya membaca sesuatu di ponselku.
"Rossa perhatianmu seharusnya ada padaku." Ucap Ryan penuh perintah kepadaku.
Aku melihat ke arah bos ku itu yang selalu menatapku tajam, dengan wajahnya yang ada di tangannya. Aku memutar mata malas.
"Kenapa? Kita bukannya akan menjadi pasangan di atas ranjang saja? Kenapa kita harus melakukan semua omong kosong itu?" Ucapku.
Aku lalu mendorong piring kosong yang ada di depanku. Ryan mengeluarkan suara yang terdengar begitu menyebalkan. Aku paling tidak suka saat tengah makan ada orang yang bertingkah seperti itu.
"Yang benar saja, apa kau serius?" Ucapku melihat ke arahnya.
"Apa?" Ucapnya dan berjalan menjauh dari meja makan.
"Hei, ini adalah rumahku. Kau mau pergi kemana?" Teriakku saat dia masuk ke kamarku.
Dia tidak menghiraukan aku.
"Itu kamarku." Teriakku lagi.
Dia tidak berhenti dan masuk begitu saja ke dalam kamarku.
"Apa-apaan kau ini. Cuci dulu piring bekas makan mu." Teriak ku lagi merasa frustrasi dan mengambil piringnya dari atas meja makan kemudian pergi mencucinya.
Aku memintanya untuk melakukan sebuah pekerjaan sederhana tapi kenapa dia bertingkah begitu berlebihan.
'Dasar pria brengsek!' umpat ku dalam hati.
Ryan belum juga mau membuka pintu. Aku begitu kesal pada pria itu. Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan di dalam sana.
"Buka pintu ini atau aku akan merusaknya." Teriakku.
Pintu lalu terdengar terbuka.
"Rossa kau...."
Bersambung....