My Bossy CEO

My Bossy CEO
Keterlaluan



PoV Ryan Abraham


Aku pergi ke perusahaan ku. Wanita itu begitu buruk. Hanya karena aku sudah berhubungan dengannya sekali, itu tidak berarti bahwa dia bisa mengambil waktu libur kapanpun yang dia suka.


Aku lalu melihat dia datang ke kantor dan mencium pipi dari seorang pria. Dia mengenakan celana yang sama saat dia keluar dari dalam apartemennya dengan begitu terburu-buru tadi pagi.


'Dia mengambil hari libur hanya untuk berkencan dengan pria itu?'


"Pak Ryan." Ucapnya saat masuk ke dalam ruangan ku.


Saat aku berbalik dari jendela dan menatapnya, aku menyadari matanya tampak memerah seperti habis menangis. Tapi itu tidak membuatku terganggu.


"Sekretaris Rossa, kau pikir kau bisa membujukku dengan kehadiranmu ini?" Ucapku dengan kesal.


Dia melihat ke arah bawah.


"Maaf Pak, saya berada di rumah sakit dengan Mama saya." Ucapnya dengan suara yang perlahan tapi begitu serius.


Dia bahkan tidak berkedip dengan kebohongan yang dibuatnya itu.


"Dasar kau pembohong. Kau pikir aku ini bodoh, hah! Aku baru saja melihatmu dengan seorang pria. Berhentilah bertingkah seperti itu. Kau membuatku muak." Ucapku.


Aku menyeringai saat dia melihat ke arahku. Wajahnya penuh dengan kemarahan. Aku begitu terkejut saat dia melangkah mendekat ke arahku, lalu menarik dasi ku.


"Ini sudah keterlaluan bahkan untukmu Pak Ryan. Tolong jaga bicaramu." Ucapnya dengan tatapan mata penuh peringatan.


Ini pertama kalinya dia bicara tidak formal denganku.


"Apa kau tidak suka disebut dengan wanita murahan Rossa?" Ucapku yang membuat rahangnya tampak mengeras.


"Aku tahu kau lah pria murahan. Aku tidak pernah mengatakan apapun kepada Mamamu tentang kau yang bermain-main dengan para wanita yang kau tiduri setiap malamnya." Ucapnya.


Aku berkedip.


"Itu pekerjaan rendahan Rossa dan itu hanya cocok dilakukan oleh orang sepertimu." Ucapku.


Dia semakin mendekat ke arahku dan hanya berjarak beberapa senti saja dari bibirku.


"Dasar pria brengsek." Ucapnya lalu berbalik dan berjalan menjauh dariku menuju ruangannya.


"Jika aku melihatmu lagi, aku bersumpah bahwa aku akan menamparmu. Jadi menjauhlah dariku, dasar pria brengsek." Ucapnya.


Aku tiba-tiba merasakan seolah seseorang berbisik di telingaku.


'Bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika Mama nya memang benar-benar sakit?'


Aku menghela nafas memainkan jemariku di rambutku.


'Sial! Aku benar-benar pria brengsek. Apa yang membuatku bisa mengatakan semua hal itu?' ucapku dalam hati.


Aku lalu menelpon salah seorang karyawan ku.


"Lina temukan ke mana sekretaris Rossa pergi pagi ini dan katakan kepadaku secepatnya." Ucapku.


...****************...


PoV Karina Rossa


Aku menaruh tangan di atas kepalaku dan menangis dengan perlahan. Mama ku yang cantik dan kuat, yang selalu berjuang begitu keras, sekarang memiliki kanker ditubuhnya.


Air mata terjatuh di wajahku tapi dengan cepat aku mengusapnya. Masalah pribadiku tidak boleh mempengaruhi pekerjaanku.


Aku harus bekerja lagi membuat presentasi untuk Projects Miller. Miller adalah orang yang perfeksionis, bahkan dia tidak akan mentolerir satu kesalahan kecil saja, mereka tidak akan menandatangani kontrak kami.


Sekarang sudah hampir siang saat aku akhirnya menyelesaikan pekerjaanku.


Aku berjalan keluar dari ruangan ku dan benar-benar sibuk dengan pikiranku sendiri.


"Rossa.... pakaian apa yang kau gunakan itu?" Ucap temanku Sarah yang berlari ke arahku membuat suara dari heels hitam yang dia gunakan terdengar keras di lantai perusahaan.


Di dalam perusahaan ini hanya aku lah yang menggunakan heels berwarna merah dan dia menggunakan warna hitam. Tidak ada orang lain yang berani menggunakannya.


"Aku tadi berada di rumah sakit. Mama ku....."


"Rossa...."


Aku mendengar suara familiar dari bos brengsek ku itu di lobby perusahaan. Aku mengepalkan tanganku lalu berbalik ke arahnya dan seperti yang aku katakan sebelumnya, aku langsung mendekat dan menampar wajahnya dengan keras.


"Dasar pria brengsek!" Ucapku menyumpahi dirinya dengan begitu marah.


Bersambung....