
PoV Karina Rossa
Aku begitu terpesona melihat Ryan yang tampak tengah mengobrol dengan kedua orang tuaku. Mereka benar-benar menggodanya.
"Aku tidak menyangka bahwa kalian berdua bisa bersama lagi." Ucap Aldo berbisik di telingaku.
Aldo tengah menggendong putrinya Miranda, di lengannya.
"Dia sekarang berhutang 10 juta kepadaku." Ucap Andrew yang datang dari sisiku. "Kau salah Aldo." Lanjut Andrew lagi.
Aku hanya bisa menyeringai lalu mengambil Miranda dari gendongannya.
"Tentu saja." Ucap Aldo seraya mencium Sarah istrinya, saat dia mendekat.
Mereka sudah menikah selama 2 tahun sekarang. Iya, Sarah sahabatku itu menikah dengan Aldo mantan kekasihku. Cukup lucu bukan?
"Rossa." Ucap Sarah tersenyum melihat ke arah Miranda yang tengah memegang jemariku.
Andrew langsung mendekat ke arahku saat aku memberikan Miranda kepada Mamanya.
"Jadi saudariku, Papa hendak memutuskan siapa yang akan mendapat perusahaan itu." Ucapnya.
"Itu tentu untukmu dan aku." Ucapku tersenyum ke arahnya.
"Aku juga di sini." Ucap Morgan protes seraya memelukku dari belakang.
"Kau bodoh. Papa tidak akan memberikan perusahaan seharga miliaran dolar kepada orang bodoh sepertimu." Ucapku kepadanya tidak mengalihkan perhatianku dari Ryan.
"Kau adalah saudari terakhir dalam daftar favoritku." Ucap Morgan mengikuti arah tatapan mataku.
"Hanya aku satu-satunya saudari yang kau punya jenius." Balasku.
"Aku tidak bodoh. Kalau aku bodoh, mana ada wanita yang akan tergila-gila padaku. Lagi pula aku ini juga tampan. Jadi kalaupun kalian menganggap aku bodoh, tidak masalah. Selama aku ini adalah pria yang paling tampan dalam keluarga ini. Aku tidak perlu jadi pintar untuk bisa menarik perhatian para wanita itu. Dengan melihat wajahku saja, mereka sudah tergila-gila padaku." Ujar Morgan panjang lebar.
"Mereka bukan tergila-gila padamu karena kau tampan, itu semua karena kau memberikan uang kepada mereka." Ejek Andrew.
"Sialan! Setidaknya aku punya banyak uang. Jadi aku bisa melakukan apapun dengan uangku." Ucap Morgan lagi.
"Termasuk dengan memberikan uang pada para wanita itu agar kau bisa tidur dengan mereka." Lagi-lagi Andrew mengejek Morgan.
"Setidaknya aku bisa menikmati wanita cantik yang berbeda setiap malam." Ucap Morgan lagi.
"Dasar bodoh....! Apa kau mabuk? Yang benar saja, sungguh memalukan." Ucap Mama yang mengeluarkan suara dengan sedikit berteriak membuat semua orang terdiam.
Andrew tertawa kemudian menutup mulutnya.
"Pria malang. Dia tidak akan pernah mendapatkan cinta yang tulus jika dia terus berpikir seperti itu." Ucap Ryan menaruh kepalanya di pundak ku.
"Dia akan bisa. Aku akan memastikan hal itu." Ucapku.
Ryan lalu menatapku, kemudian dia berlutut di depanku dihadapan semua orang yang ada.
"Rossa adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Dia satu-satunya untukku. Aku tidak akan melakukan apapun yang aku lakukan pada tahun itu dan aku begitu beruntung karena aku tidak mati karena dia meninggalkan aku sebelumnya." Ucapnya.
"Hehehe Rossa tampak merona." Ucap Morgan melihat ke arah ku.
"Morgaan....." Teriakku berlari ke arahnya langsung melemparkan sebuah vas ke arahnya. "Saat aku menangkap mu, kau akan menyesal." Teriakku lagi.
Aku akhirnya berhasil memegang pakaiannya. Kami berdua lalu beradu dan terjatuh dengan keras yang membuat lenganku mengenai ujung meja.
"Ryaaan...." Teriakku meringis kesakitan saat darah keluar dari lenganku.
Ryan langsung berlari ke arah ku dan mencium keningku.
"Itu akan baik-baik saja.... Itu akan baik-baik saja." Ucapnya melihat ke sekeliling.
Mama tiba-tiba mendorongnya menjauh dan langsung membersihkan lukaku dengan menggunakan tisu.
"Mamaaa...." Teriakku saat Mama menaruh antiseptik di lukaku.
"Diam lah dan kau.... kalian berdua tidak bisa mendapat makanan penutup hari ini." Ucap Mama kepadaku dan juga Morgan.
"Tidaaaak...." Teriak Morgan.
Dia lalu berlutut ke arah Mama memegang kaki Mama.
"Aku butuh makanan penutup buatan Mama." Ucap Morgan merengek seperti anak kecil.
"Baiklah, tapi hanya sepotong saja." Ucap Mama menghela nafas kemudian memukul kepala Morgan.
Morgan lantas memegang kepalanya dan berkedip ke arahku.
'Dasar sialan!'
"Ah..." Rintih ku saat Mama menutup lukaku.
Mama sudah terbiasa dengan tingkah kami semua yang terus bermain-main seperti ini. Baik aku, Andrew dan Morgan memang masih sering bersikap seperti anak kecil yang membuat Mama sering kesal.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ryan padaku tersenyum.
"Iya tentu saja dia baik-baik saja." Ucap Mama memutar mata malas. "Aku tidak akan melupakanmu. Putriku adalah hal yang paling berharga dalam hidupku. Iya kau juga Morgan, kau juga berharga."
Kami semua menghela nafas memikirkan apakah Mama akan mengizinkan aku untuk bisa menikah dengan Ryan atau tidak.
"Kau bisa menikah dengan putriku." Ucap Mama pada Ryan.
"Yes, 10 juta lagi untukku." Teriak Andrew.
"Andrew...." Ucap Mama memicingkan mata.
"Maaf...." Ucap Andrew.
Bersambung....