
PoV Karina Rossa
Aku melihat ke arah luar jendela dari jet pribadi yang Papa atur untukku. Mama pasti sudah di bawa ke USA untuk melakukan perawatan lebih lanjut karena kanker yang dihadapi Mama jauh lebih agresif setelah melakukan kemoterapi.
Aku pikir bahwa setelah melakukan tindakan kemoterapi kondisi Mama akan jauh lebih baik, tapi pada kenyataannya semuanya malah jauh dari yang aku bayangkan.
Aku hanya bisa menghela nafas dalam berharap bahwa Mama akan baik-baik saja.
Aku lalu mengambil ponselku dari dalam tasku dan mengirim pesan suara kepada Papa.
("Hai Papa, aku ada di pesawat sekarang. Katakan kepada Mama aku sangat menyayangi Mama. Mama pasti akan baik-baik saja. Papa tetaplah mendukung Mama, oke. Sampai ketemu beberapa hari lagi Pa.")
Dan Ryan Abraham orang yang tidak mau aku pikirkan, tapi tetap muncul dalam pikiranku.
Satu-satunya alasan bahwa aku begitu marah kepadanya adalah bukan karena dia hampir selingkuh dariku. Tapi karena pertama, dia tidak bisa berpendirian yang kuat. Bisa-bisanya dia tidak bisa menahan dirinya untuk tergoda dengan wanita itu.
Aku tahu dia memang mabuk, tapi tetap saja aku merasa terluka atas sikapnya itu.
Kedua, karena aku tidak bisa mengatakan kepadanya bahwa aku akan pergi meninggalkannya setelah pesta tadi.
Aku menghela nafas panjang mengingat ciuman penuh hasrat yang kami lakukan di pintu masuk airport tadi dan tatapannya saat aku meninggalkan dirinya. Sejujurnya aku tidak peduli jika dia selingkuh atau dia tidak selingkuh. Aku akan selalu mencintainya.
'Selamat tinggal...' ucapku kepadanya tadi.
Aku pun diberi tahu bahwa pesawat akan segera terbang. Perjalanan ini akan memakan waktu seharian. Jadi akan lebih baik bagiku untuk memikirkan semuanya.
"Nona minuman Anda." Ucap seorang pramugari memberikan segelas jus kepadaku.
Aku lalu menyesap minuman itu dan mulai berpikir.
Aku tahu bahwa meninggalkan Ryan bukanlah hal yang akan begitu mudah bagiku, terutama karena aku tidak mengatakan kepadanya rencana ku yang tiba-tiba pergi seperti ini. Aku sebenarnya berpikir bahwa dia akan marah kepadaku tentang pengunduran diriku itu, tapi kenyataannya dia tidak marah.
Sekarang tempat tidur sudah dibuat, dan aku harus terbaring di atasnya. Aku melihat ke arah cahaya langit malam, cahaya dari Ibukota yang berada di bawahku. Kota yang begitu glamor, tapi kota ini bukanlah kota asal ku dan sekarang aku harus pergi ke benua yang berbeda dan tak tahu apakah aku akan kembali ke kota ini atau tidak.
Kita akan bertemu lagi, entah itu beberapa hari, bulan atau bahkan tahun kemudian Ryan Abraham, dan kali ini aku akan begitu merindukan dirimu.
...----------------...
Setelah perjalanan yang cukup panjang, aku akhirnya tiba di USA dan langsung bergegas menuju rumah sakit dimana Mama dirawat. Hatiku begitu terluka melihat kondisi Mama yang lemah dan bahkan tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa berdoa agar Mama bisa melewati semua masa kritisnya ini.
Sekarang aku berada di negara ini, selain untuk mengobati penyakit Mama, aku juga harus menggapai impianku, karena itulah tujuanku sampai harus mengundurkan diri dari perusahaan Ryan yang sudah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran yang berharga untukku dalam bidang pekerjaan.
Bersambung....