My Bossy CEO

My Bossy CEO
Perasaan



PoV Karina Rossa


"Tidak, tentu saja tidak." Ucapku menghela nafas saat Om Ben mengatakan hal itu pada Ryan.


Aku lalu mengalihkan perhatianku ke arah komputer ku, fokus menatap layarnya dan tidak menghiraukan suara dari luar sana. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu penuh perasaan tentang semua hal ini.


'Kami hanya sepakat untuk melakukan hubungan di atas ranjang bukan? Lalu kenapa aku merasa gugup tentang semua hal bodoh ini? Kenapa ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku?'


Aku tidak menyukai bos ku yang brengsek itu. Aku sama sekali sangat tidak menyukainya.


'Tapi kau memasak untuknya.' ucap sebuah suara yang terdengar dari dalam kepalaku.


Sejujurnya aku tidak pernah memasak untuk siapapun dalam hidupku selama ini. Bahkan tidak untuk Mama. Mama lah yang memasak untukku.


Tidak... tidak... Aku terlalu berlebihan, bahkan jika aku memang menyukainya lebih dari sekedar hubungan di atas ranjang, dia tetap lebih tua dariku.


Dia itu bos ku, seorang CEO dan aku hanyalah sekretaris suruhannya. Aku adalah bawahannya yang hanya bisa diperintahkan untuk melakukan apapun olehnya.


Aku terus menggelengkan kepalaku untuk mengalihkan semua pikiranku tentang perasaan suka pada dirinya itu.


Aku menghela nafas saat pintu ruangan ku terbuka dan tampak sosok Ryan masuk ke dalam ruanganku. Aku merasakan perut dan punggungku mulai terasa sakit karena sakit dari datang bulan ini.


"Apa yang terjadi? Apa perutmu sakit?" Tanya Ryan.


Aku merona melihat ke arah lainnya, tidak menghiraukan perhatiannya dariku.


'Kenapa dia menjadi begitu baik padaku?'


"Rossa...." Ucapnya dengan suara yang terdengar begitu lembut dan penuh perhatian.


'Oh ya Tuhan, dia menyebut namaku lagi.'


Aku ingin langsung mencium bibirnya yang seksi itu dengan sekuat tenaga yang aku bisa.


'Jangan Rossa, kendalikan dirimu.' ucap suara yang ada di dalam diriku lagi.


Aku melihat ke arah wajahnya yang tampak bingung melihatku.


"Kenapa? Ada apa sebenarnya denganmu? Apa kau menyesali perjanjian yang sudah kita lakukan?" Ucapnya dengan suara yang kali ini terdengar kejam.


Tatapan mataku menjauh darinya. Aku tidak mau menatapnya atau aku akan tergoda olehnya.


"Aku hanyalah seorang sekretaris. Aku ini seksi, jenius dan cantik. Tapi kau sebenarnya bisa memilih wanita jalanan di luar sana untuk memuaskan mu. Lalu kenapa kau malah memilih aku?" Ucapku.


Wajah Ryan tampak menunduk kemudian dia menyeringai menatapku.


"Oh ayolah, kau begitu berlebihan. Di mana rasa malumu itu? Kau menyebut dirimu seksi, jenius dan cantik, hah?" Ucapnya dengan nada yang mengejek.


Aku melihat ke bawah. Aku benar-benar tidak mau berdebat dengannya kali ini. Aku sedang tidak ingin bertengkar apalagi dengan kondisi tubuhku yang tengah sakit karena datang bulan ini.


"Lihat aku!" Ucapnya kali ini dengan suara yang terdengar begitu serius.


Aku lalu melihat ke arah matanya yang memandangku serius, rambutnya yang tampak acak-acakan, bibirnya yang tipis, dan bulu matanya yang tebal yang membuat semua gadis pasti tergila-gila kepadanya.


"Aku membencimu!" Ucapnya yang membuat jantungku berhenti berdetak. "Tapi aku menyukaimu. Kau wanita yang begitu susah ditebak dan kau memang wanita yang sangat pintar Aku bersumpah." Ucapnya.


Dia lalu tertawa, seolah tengah menertawakan dirinya sendiri. Aku menjadi bingung dengan sikapnya itu.


"Kau adalah wanita yang pekerja keras, cakap dan yang paling utama, kau tidak peduli pada diriku. Kau bahkan tidak mencoba untuk menggodaku dan merayuku seperti para wanita lainnya lakukan. Padahal selama ini mataku selalu saja menatapmu, selalu saja memperhatikan dirimu, selalu saja tertuju padamu." Ucapnya lagi.


Aku menatap ke arahnya tidak tahu harus mengatakan apa.


"Dan asal kau tahu, aku mau kau menjadi milikku. Aku tidak peduli tentang apapun yang akan dikatakan para karyawan atau peraturan di perusahaan ini. Aku tidak peduli terhadap wanita manapun yang ingin bersamaku, karena aku hanya menginginkanmu." Ucapnya.


Mulutku terbuka karena mendengar ucapannya itu.


Aku sama sekali tidak bisa menganggap semua yang dia katakan itu serius, karena aku selama ini sudah cukup mengenalnya.


"Aku tidak....."


Sebuah tangan besar menutup mulutku menghentikan aku untuk bicara yang tidak-tidak.


"Sudah cukup wanita nakal! Aku memberikan hatiku untukmu dan inikah reaksi mu?" Ucapnya seraya meremas rambutnya dengan kasar.


Aku menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalaku.


"Apa kau benar-benar menyukaiku?" Ucapku menahan tawaku. "Maksudku aku ini adalah diriku, Karina Rossa. Kau tahu bagaimana aku ini." Ucapku.


Aku benar-benar merasa begitu bingung. Bagaimana mungkin dia bisa menyukai aku. Ryan itu pria kaya, dia tidak mungkin menyukai aku begitu saja.


Wajahnya tampak kesal, dia lalu keluar begitu saja dari dalam ruangan ku.


...****************...


PoV Ryan Abraham


Aku melihat ke arah wanita yang tengah berkonsentrasi dengan presentasi yang dia buat, seolah itu adalah hal yang paling penting di dunia ini. Alisnya yang begitu hitam tampak mengkerut dan keningnya juga tampak berkeringat.


"Rossa, bisakah aku masuk?" Ucap seorang pria yang memperlihatkan kepalanya di pintu ruangannya.


Rossa tampak menganggukkan kepalanya mengalihkan tangannya turun ke arah rok yang dia kenakan dan memperbaikinya.


"Ada apa?" Tanya Rossa tanpa melihat ke arah pria itu.


Dia adalah pria dari bagian pemasaran.


'Kenapa dia bertemu dengan Rossa?''


Aku menatap Rossa dengan tatapan mataku yang memicing dari luar dinding kaca yang memisahkan ruangan kami.


Aku merasa begitu gugup saat pria itu berjalan masuk dan hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Perasaanku sudah tak karuan karena aku menyadari bahwa pria itu sepertinya akan mengatakan sesuatu yang sangat serius.


"Rossa aku mencintaimu. Tolong berikan aku kesempatan untuk bisa menjadi kekasihmu." Ucap pria itu berlutut dihadapannya.


Baru 2 menit yang lalu kami tertawa bersama dan pria lainnya sudah datang lagi.


"Oh siapa namamu tadi?" Tanya Rossa tidak mengalihkan tatapan matanya dari laptopnya.


'Itu baru wanitaku.'


"Aku Andrew." Ucap pria brengsek itu.


"Aku minta maaf Andrew. Tapi aku sudah punya seorang kekasih." Ucap Rossa dengan tenang memberikan tanda kepada pria itu untuk keluar dari ruangannya.


Aku tersenyum saat Rossa berkedip ke arahku. Pria itu pun pergi dengan marah dan menghempaskan pintu ruangan Rossa.


"Dasar kau wanita nakal, beraninya kau menarik perhatian pria dari kiri dan kanan. Aku akan memberikanmu pelajaran saat kita tiba di rumah nanti." Ucapku saat aku berjalan masuk menuju ruangannya.


Dia melihat ke arahku selama beberapa detik kemudian menggelengkan kepalanya.


'Apakah itu karena aku mengatakan rumah? Sejak kapan apartemennya menjadi rumah kami?'


"Papamu mengatakan bahwa dia ingin kita hadir di Miller Projects untuk bertemu dengannya dan bertemu dengan Henry. Aku...."


Nafasnya terdengar tercekat. Dia tak bisa menyelesaikan ucapannya saat aku menarik stoking yang dia gunakan. Aku mulai mengusap lembut kakinya yang mulus itu. Suara rintihan mulai keluar dari mulutnya yang membuatku bergairah.


"Hen.... Hentikan." Ucapnya saat tanganku mulai beralih menyentuh dadanya.


Bersambung....