
PoV Ryan Abraham
Aku melihat Rossa menggigit mie yang aku masak.
"Apa hanya enak saja? Kau seharusnya menghargai pria mu yang bisa memasak sekarang." Ucapku kecewa dan wajah Rossa tiba-tiba tampak kesal.
"Saat seorang pria memasak itu adalah sebuah seni dan saat seorang wanita memasak itu sudah menjadi tugasnya." Ucapnya dengan kejam.
Aku terdiam dengan ucapannya itu.
"Tentu saja tidak sayang. Kenapa kau harus merasa seperti itu." Ucapku.
Dia melihat ke arahku dengan matanya yang tampak sedih.
"Ayo kita berpura-pura saja bahwa kita ini tidak cocok. Ini bukan karena masalah gaji atau apapun itu. Tapi faktanya aku memang tidak punya apapun yang bisa membuat orang meragukan diriku?" Ucapnya.
Aku membuka mulutku hendak bicara, tapi dia menghentikan aku lagi.
"Kenapa wanita harus menggunakan heels, make up dan yang lainnya?" Tanya Rossa.
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan dan hanya melihat ke arahnya dengan mulut yang terbuka.
"Karena tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan kepada para wanita bahwa mereka terlihat buruk tanpa mengenakan hal itu." Ucapnya menghela nafas kemudian memakan mie nya lagi.
Aku melihat ke arahnya, merasa takut bahwa dia akan semakin marah lagi.
"Makanlah Ryan." Pintanya kepadaku tanpa melihat ke arahku.
Aku pun mengikuti ucapannya dan mulai menyeruput mie yang ada di depanku dan terus menatap ke arahnya.
"Kita harus pergi ke rumah orang tuaku besok." Ucapku melihat ke arahnya.
Dia mengangguk kan kepalanya, tapi tidak mengatakan apapun. Aku berpikir apa yang membuatnya tiba-tiba bersikap seperti itu. Tapi aku kemudian menggelengkan kepalaku untuk tidak terlalu berpikir yang aneh-aneh dan melanjutkan untuk menyantap makanan yang ada di depan kami.
...****************...
PoV Karina Rossa
Aku terbangun begitu kelelahan dengan seluruh buruh tubuhku yang terasa sakit karena aktivitas yang kami lakukan dengan begitu kuat semalam. Aku melihat kearah pria yang berbaring tanpa mengenakan pakaian di sampingku ini.
"Bangunlah." Ucapku.
Ryan menguap lalu langsung bangun dengan senyuman yang menggoda nya itu membuat selimut kami terjatuh dan memperlihatkan belalainya yang tampak berdiri kokoh itu.
"Wow sepertinya dia menginginkanmu lagi." Ucapnya membaringkan kepalanya di bantal lagi.
Kini rambutnya kembali berada di mana-mana dan sebelah pipinya terdapat guratan bekas bantal.
"Diam lah, kita akan pergi dengan terpisah. Jadi kau pergilah lebih dulu." Ucapku dengan kesal.
Aku dengan cepat pergi ke kamar mandi dan menggosok gigi ku lalu duduk di toilet kemudian buang air kecil.
"Apakah kau akan terus menonton ku saat aku melakukan bisnis pagi ku ini?" Tanyaku kepadanya dengan kesal seraya menyilang kan tanganku di depan kakiku.
Ryan yang berdiri di pintu tampak mengangguk kan kepalanya dan dia menguap dengan lebar.
"Cepatlah wanita nakal, aku juga ingin buang air kecil." Ucapnya.
Aku memutar mata malas lalu bangun dari toilet dan mencuci tangan ku.
"Mau minum kopi?" Tanyaku dengan menguap.
Ryan menganggukkan kepalanya dan aku dengan cepat menghidupkan mesin pembuat kopi menunggu sampai kopi itu selesai dibuat.
Beberapa saat kemudian aku memegang dua cangkir kopi dan langsung menyesap kopi milikku. Sementara Ryan tampak tengah memakai dasi nya yang berwarna merah. Aku menatap kearah pria itu yang tengah menatap kearah tubuhku.
"Berhentilah menatapku. Air liur mu itu jatuh dari mulutmu. Usap lah mulutmu itu dan keluarlah atau kita akan terlambat." Ucapku seraya menyerahkan cangkir kopi kepadanya dengan menggelengkan kepalaku.
"Ayolah, sekali lagi saja. Kita bisa melakukannya dengan cepat." Ucapnya memohon kepadaku.
Aku menatap kearahnya tidak percaya dan langsung melempar sebuah bantal kecil ke arah wajahnya.
"Bagaimana mungkin seorang pria mempunyai hasrat yang begitu besar?" Ucapku kembali melempar bantal ke arahnya.
"Aku mengerti... Aku mengerti... Aku pergi sekarang." Ucapnya seraya langsung meminum kopinya dan mengambil kunci mobilnya dari atas meja.
"Sampai bertemu di sana nanti, bertingkah lah seperti dirimu sendiri." Ucapku memperingatkannya.
"Baik Nyonya." Balasnya.
Bersambung....